
“Lawan rasa takutmu, aku bisa bantu.” Bisik Victon. Sedikit lagi bibirnya menyentuh permukaan benda kenyal itu. Namun, saat menyadari Valerie bergetar ia pun menundanya. Bahkan wajah Valerie berkeringat membuat Victon tidak tega untuk memaksa.
Meski keinginannya untuk merasakan rasa bibir itu yang amat menggebu-gebu, tapi Victon tidak ingin egois di mata Valerie. Perlahan, Victon akan membuat Valerie nyaman jika di dekatnya.
Valerie pun membuka mata saat Victon melepaskan tangannya. “Aku akan membuatmu terbiasa dan menginginkannya.”
Ambigu sekali, Valerie kini malah bingung akibat ucapan pria itu. Dengan gerakan pelan jari Victon menelusuri wajahnya, memberikan usapan-usapan pada gadis itu.
“Apa itu alasannya kamu menghindar dariku?” Tanya Victon seraya mengusap bibir Valerie yang terasa lembut itu.
“A....apa?”
“Bisakah kamu mempercayaiku? Aku mau jadi tempatmu pulang. Jangan ragu dan jangan memendamnya di sini. aku bisa membantumu, percayalah!!.” Bukan Victon jika tidak memiliki segudang stock percaya dirinya, ucapannya begitu meyakinkan saat menunjuk area jantung di dada kiri Valerie.
Jujur saja tatapan itu sejenak membuat Valerie terbius. Selama ini siapakah yang bersedia untuk mendengarnya berkeluh kesah? bahkan sosok ayahnya saja tidak begitu.
Ceklek…
“Boss apa yang….ups!!”
Lagi dan lagi Aldi mendapati mereka yang sedang begitu. Aldi pun segera membalikkan badan dan kembali keluar.
“Maaf saya datang di waktu yang salah, permisi.”
Sementara itu, Valerie dan Victon yang sempat menoleh pun menjadi canggung seketika. Kepergok berapa kali membuat Valerie merasa malu kini. Jika begini dia tidak bisa lagi menghindari tuduhan macam-macam dari Aldi.
Ya, pria itu juga selama ini menjadi saksi bagaimana hubungan Victon dan Valerie sejak awal. Terjebak dalam sandiwara di depan mama Nindi yang sejatinya ibunda Victon. Apalagi, hari di mana Valerie harus mengakhiri perannya itu dan memilih untuk pergi.
__ADS_1
“Em....saya permisi keluar sebentar.” Pamit Valerie yang wajahnya kini memerah. Kenapa begini? Apa aku serangan jantung? Valerie bingung sendiri dengan perubahan salah satu organ tubuhnya.
... 🪵🪵🪵🪵...
Selesai merenungkan diri di toilet, Valerie keluar dengan perasaan yang lega. Semua terasa lepas dari raganya begitu saja.
“Loh, kok mereka belum datang? Aku memang sengaja datang pagi-pagi, tapi ini udah jam 8 loh.” Matanya mengedar ke seluruh tempat di mana seharusnya rekan timnya berada di sana. Namun nyatanya tidak ada.
Akhirnya Valerie pun menghubungi Riska. “Ris, baru hari ke-2 kamu nggak mungkin bolos kan?” tanya Valerie.
“Kamu nggak tau kalo kita di pindahin?”
“Maksudnya?” beo Valerie tak paham.
“Kita semua berpencar dan di pindahin ke keamanan bagian luar. Boss cuma minta kamu jadi BG pribadinya.”
“Semangat ya Val."
“Val, pak Victon nyariin tuh.” Ucap Aldi tiba-tiba dan di angguki Valerie sebagai jawaban.
“Okay, udah dulu ya Ris.”
Pip…
“Dia kenapa sih nyariin mulu?” Gerutu Valerie dengan langkahnya yang kesal. Baru beberapa menit keluar, itu pun hanya ke kamar mandi. Tapi Victon selalu bertingkah seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Ceklek…
__ADS_1
“Ada apa pak? Oh maaf apa saya menganggu?.”
“Jangan banyak tanya, cepat kemari!!”
Sensi sekali...
“Cih.” Valerie mencibir seraya kembali ke posisinya yaitu berdiri di samping Victon dalam jarak 1 meter. Lagi dan lagi atas nama perintah, bukan kemauan Valerie sendiri.
Seperti biasa, ia akan berpura-pura tuli akan pembicaraan penting di antara mereka. Ruangan berubah lagi menjadi ruang rapat jika si maniak kerja itu sudah fokus dengan pekerjaannya.Valerie juga selalu siap siaga memasang mata elangnya.
Tak berselang lama, matanya menyipit kala mendapati titik merah yang mengarah ke bagian vital Victon. Arahnya dari atap bangunan megah di luar sana. “Apa dari gedung itu?” Valerie menghadang sinar laser merah itu, dan tatapannya bertemu pada pistol jarak jauh yang tertangkap matanya yang jeli.
Entah kenapa Valerie seberani itu menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Di waktu yang sama, bahkan Victon belum memahami situasi jika dirinya dalam bahaya.
Bukan tidak cemas karena dia memilih diam tanpa memberi sebuah peringatan bahaya. Salah langkah, maka lebih bahaya. Valerie takut jika semua orang panik, bisa saja aksi itu malah berhasil.
Kini Valerie menodongkan pistolnya dan semakin tajam saja sorot matanya. Sebenarnya ia tak yakin jika peluru pistolnya bisa menahan serangan itu.
Tiba-tiba….
Syuuuuuttt…..jleb…
Suara pecahan kaca tadi sontak membuat semua orang di sana terhenyak. Valerie masih berdiri di tempatnya seraya memegangi bagian tubuhnya yang terluka. Sakit, dan nyata sekali kala cairan itu nampak mengalir. Valerie sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi hingga akhirnya pun rubuh begitu saja.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-