My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 29 Tiga Kali Sehari


__ADS_3

Aaaaaaaaaaarrrrgghhh.”


Brakkk….bughh….


Bukan Valerie yang memekik, melainkan Victon yang saat ini di buat tak berdaya karena gadis itu mampu membalikkan keadaan. Dengan posisi tengkurap, kaki terkunci dan tangan yang di tahan, victon tak mampu melakukan gerakan balasan. Heran saja, kenapa tubuh kecil itu memiliki kekuatan sebesar itu.


“Aku bukan gadis lemah kayak dulu. Bilang, apa tujuanmu hah? Kalau mau menikmati tubuhku, maka coba aja kalau bisa!!.”


Victon pun terkejut dengan tuduhan Valerie seraya meringis. “Val, ini aku. Awww sakit …sakit!!” Tidak perlu di rasakan lagi sakitnya. Kenyataan jika darahnya seperti di buat berhenti mengalir, hingga tubuh Victon terasa mati rasa.


“Baby, sayang, Honeyku manisku. Eh apalagi ya? ah tau ah….lepas dulu awww…awwww!!” Disaat seperti ini masih sempat-sempatnya pria itu ngebanyol.


“Loh? Pak Victon?”


Valerie terhenyak kemudian segera melepas lilitannya. Demi apapun, dia tadi mengira jika Victon adalah pria cabul atau semacamnya. Mungkin saja nyawanya belum sepenuhnya terkumpul atau memang Valerie yang tidak terbiasa akan keberadaan sosok pria saat bangun tidur.


“Maaf!! Bukan aku, tapi tanganku. Salahin dia!.” Ucap Valerie seraya menunjuk tangan satunya. Pintar sekali beralasan, padahal nyeri di sekujur tubuh itu seakan membuat urat Victon putus semua.


“Tanggung jawab!!” Keluh Victon dengan wajahnya yang memelas. Saat hendak duduk pula, Victon tidak memastikan bokongnya sudah mendarat dengan tepat atau belum. Brughhh… Nasib oh nasib. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Begitulah Victon yang sudah terjengkang dari atas bed.


malu 😳


.

__ADS_1


.


.


Beberapa menit kemudian…


“Ssshhhhh pelan-pelan ih.” Gerutu Victon kala Valerie yang mencoba untuk menyembuhkan. Tanpa gadis itu tahu, kini Victon tengah tersenyum dan senang sekali menerima perhatian yang sangat jarang ia dapatkan itu.


“Di sini, sakit banget awwww.” Victon pun menunjuk lehernya. “Ini sama ini juga sakit.” Kemudian menunjuk pipi dan bibirnya lengkap dengan senyum jahilnya itu. Sontak saja Valerie kesal.


“Jangan bercanda. Aku udah takut kalau kamu kesleo beneran, ck.” Baru hendak berdiri, tangan Valerie di tarik hingga ia pun jatuh di atas pangkuan Victon. Mereka saling pandang masih dalam penampilan khas bangun tidurnya.


“Bangun tidur aja udah setampan ini.” Puji Valerie dalam hati seraya menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia memukul jantungnya yang meminta keluar karena berani sekali memperjelas jika dia tengah berdebar-debar. Sungguh, Valerie merasa malu pada mentari yang tengah menyapa mereka dari balik jendela di luar sana.


“Nanti habis makan. Kan nggak boleh minum obat keadaan perut kosong.”


Valerie memang berbeda paham dengan Victon saat ini. “Yang ini maksudnya. Sebelum makan juga nggak apa-apa Val.” Victon yang terkekeh mendengar jawaban Valerie pun langsung saja mendaratkan ciuman paginya. Ciuman, bukan hanya sekedar kecupan. Hanya bertahan 5 detik lamanya Victon menyesap bibir lembut itu dan tentu saja empunya sudah memerah padam.


“Awas.” Valerie memberontak, namun sayangnya masih di tahan.


“Jangan lupa. Tiga kali sehari, biar cepet sembuh traumanya.” Seloroh Victon yang kini merapikan rambut berantakan Valerie.


“Filosofi darimana itu?”

__ADS_1


“Aku lah.” Goda Victon kemudian.


...🌬️🌬️🌬️🌬️...


Hening beberapa saat…..


”Val?”


“hmm?”


“Nikah aja yuk!! Aku nggak tahan kalau liat kamu setiap hari di rumah ini,” Victon masih di terpa badai masalah. Kendati demikian, ia tidak berniat untuk menunda hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Meski hubungan mereka masih seujung kuku sekali pun, lebih baik di segerakan. Toh, orang tua Victon tidak mempermasalahkan hal itu karena yang penting Victon segera melepas masa bujang lapuknya itu.


Valerie malah diam membisu. “Sayang?” Ucap Victon dengan manja seraya mendusel di ceruk leher kekasihnya.


(aaa cieeee kekasihnya 😳😳, cuitt...cuittt...)


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


Besok lagi deh, 😴😴


__ADS_2