
Matiiii....ti..ti...ti...
Mereka semua matii!!
Kau harus membayarnya dengan nyawamu...
hahahaha.....
Aaaaaaa...jangan sentuh aku!!
"Hahh." Valerie terkesiap hingga terduduk lemas. Peluh sudah membasahi wajah di sertai pula napasnya yang berat menandakan jika tubuhnya sedang tak baik-baik saja.
Valerie pun meremas rambutnya dengan kuat seraya bergumam "Kenapa mimpi itu muncul lagi..." Sungguh, Valerie tidak mempunyai keinginan untuk hidup dengan terus menerus di hantui pikiran konyol itu.
Konyol? Ya, itu karena dia tak mau terbelenggu dalam sisi gelap masa lalu itu. Percuma saja bertahan hingga sekarang , jika masih berat melepasnya. Itu bukan pilihan seorang Valerie Anindira Giovanni.
"Ehemmm." Tiba-tiba Valerie merasakan kering di tenggorokannya. Di liriknya meja kecil tak jauh dari ranjang itu dan sayangnya tidak ada gelas dan air mineral seperti biasanya. Valerie tidak pernah lupa kala sebelum tidur selalu menyiapkan air putih, namun karena ia di tempat berbeda kemungkinan itu bisa terjadi.
...🌈🌈🌈🌈...
Berjalan ke dapur saja memerlukan jarak tempuh yang lumayan jauh. Heran sekali, kenapa rumah ini begitu besar.
"Dapur di mana sih?" gumam gadis yang tengah menggaruk kepalanya.
Masih dengan penampilannya yang berbalut piyama tanpa motif dan berwarna putih polos. Valerie sebebas itu berkeliaran, tanpa tahu jika dirinya sudah seperti makhluk terbang yang suka tertawa itu.
Semua lampu sudah padam. Sedangkan dia harus mencari saklar dulu agar penglihatannya lebih baik. Namun, lagi dan lagi mata Valerie menangkap sosok asing yang berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
"Itu siapa?" batin Valerie seraya mengucek pelan kedua matanya. Di rasa lebih baik, Valerie kembali melirik ke arah itu, namun sosok itu menghilang. Pada akhirnya, di memilih berjalan dengan cahaya seadanya karena saklar itu tak kunjung di temukan.
Sejujurnya, Valerie bukanlah wanita penakut akan hal-hal seperti itu. Sehingga ia hanya mengangkat bahunya santai dan segera berlalu menuju dapur. Setelah berhasil menemukan kebutuhannya, ia pun segera menikmatinya dalam diam.
gleg....gleg....
aahhh..segarnya.....
"Kulkasnya penuh, padahal biasanya cowok jarang masak sendiri." Ucapnya mengagumi isi lemari es tersebut. Dirasa cukup, Valerie pun meletakkan kembali gelasnya. Namun, baru hendak menutup pintu lemari dingin itu, ia kembali di kejutkan akan sesuatu di depannya.
byurrr.....
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Teriak Valerie menjadi-jadi. Air yang masih di dalam mulutnya otomatis menyembur keluar. Langkahnya pun memundur hingga tulang ekornya tanpa sengaja terbentur pinggiran wastafel, jangan di tanya bagaimana rasanya, mantap sekali.
"Sssshhhhhhh." Desis Valerie seraya mengusap-usap bagian itu.
"K...k..k..kamu...." Ingin Valerie menepuk mulutnya yang selalu gagap itu. Bagaimana tidak, penampilan Victon saat ini cukup membuat mata dan batinnya ketar-ketir sendiri.
" Apa? Ngomong yang jelas."
"Kenapa kamu bisa di sini?" Sudah tidak sinkron lagi otak dan bibir Valerie. Bukan itu yang hendak di tanyakan, tpi mulutnya bukanlah tipe yang penurut rupanya. Ia hanya penasaran dengan penampilan modis pria itu seperti hendak pergi ke suatu tempat.
Victon pun terkekeh pelan, "Ini kan rumahku. Wajar kalau aku di sini."
" Bukan itu maksudku, maaf. M....maksudku mau pergi kemana? ini kan udah malam." Valerie meneguk ludahnya susah payah kala Victon kembali mendekat. Senyuman hangat itu seolah membuat dia lupa akan dunia.
__ADS_1
Ingin menghindar tapi tidak bisa kala tangan kekar itu kembali merapikan rambut berantakan Valerie. Entahlah, rasanya akhir-akhir ini ia kerap mengalami serangan jantung mendadak. Perlakuan kecil seperti itu saja mudah membuat Valerie berdebar-debar.
deg...deg...deg...
"Aku ada urusan. Ku tinggal sebentar nggak apa-apa kan?" tanya Victon.
"Apa aku perlu ikut? aku kan body....." Belum selesai dengan kalimatnya, Victon sudah memotong.
"Ini di luar jam kerja. Jangan sebut status itu lagi, apa perlu ku perjelas?" Ucap Victon dingin. Tangannya sudah merambat dan menarik tengkuk leher Valerie dan tanpa aba-aba dia bertindak bebas akan bibir seksoy gadis itu.
"Eunghhh."
"Sh*it, kenapa harus begitu suaranya." Victon gemas sendiri dalam hati. Lenguhan itu berhasil membangkitkan salah satu bagian tubuhnya yang sejak awal tenang-tenang saja.
Cup ..
Melihat Valerie yang memejam dan menikmati, membuat Victon pun menyunggingkan ujung bibirnya. "Kamu udah resmi menjadi kekasihku Valerie. ingat itu!!" Ucap Victon yang kembali melabuhkan kecupan terakhir di kedua mata Valerie yang memejam.
.
.
.
-To Be Continued-
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like, vote dan komentarnya ya. Terimakasih.....😁😊😊😊😊
__ADS_1