
Vic..
Victon!!
”VICTOOOOOONNNNNN!! PELAN-PELAN, GUE PUNYA ANAK SAMA ISTRI BUAT DI NAFKAHIN. DASAR SINTING!!!” Pekik Jordan menjadi-jadi. Jika tahu begini, seharusnya dia menawarkan diri untuk menyetir.
“Sorry. Gue gagal fokus tadi.” Sesantai itu wajah Victon, Padahal Jordan serasa di bawa menyeberangi jembatan alam dunia lain. Jalan di depan seperti mencerminkan masa kelamnya. Gelap, suram dan amat sepi.
“Jo gue mau tanya.”
“Apa?!!” Ketus Jordan yang masih menata hatinya dan pikirannya. “Kasus pembantaian Giovanni, lo tau?” tanya Victon serius seraya memelankan laju mobilnya. Saat ini ia butuh lebih dari sekedar informan.
“Tiba-tiba?” Jordan memperhatikan raut wajah sahabatnya yang tampak berpikir keras. “Itu kasus lama yang menggemparkan sedunia, tepatnya 32 tahun lalu kalau nggak salah.” lanjutnya.
“Udah lama juga rupanya.” Batin Victon. Jika benar begitu, maka itu pada masa Victon baru lahir. Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dia yang baru lahir atau tidaknya. Sudahlah, lebih baik ia menyimpannya terlebih dahulu.
“Kenapa?”
“Nggak. Gue masih belum yakin.” Ujar Victon kembali menyugar rambutnya.
.
.
.
3.00 AM, sampai di rumah
Tin…..
“Pak gus, buka gerbangnya!!”
__ADS_1
“Iya Tuan.” Jawab sang penjaga rumah dengan langkah sempoyongan.
Setelah memastikan mobilnya terparkir aman, Victon pun melangkah gontai mamasuki rumahnya. Namun, kakinya malah nyasar menuju ke kamar lain yang di pastikan bukan kamarnya sendiri. “Gadis ceroboh! Kenapa pintunya nggak di kunci sih?” Ingin kesal tapi juga senang. Victon benar-benar di untungkan di sini.
Tidak ada niat jahat. Pria itu hanya ingin memastikan jika Valerie tidur nyenyak, itu saja. Namun, tenyata hal itu berubah kala melihat wajah teduh nan ayu yang tengah memejam di sana. Akhirnya, tanpa sadar Victon ikut merebahkan tubuhnya di samping Valerie.
“Maaf Val. Aku sedikit lelah.” Ucap Victon lirih seraya masuk ke dalam selimut. Dengan gerakan pelan, dia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Valerie. Meski sedikit sulit, di usahakan untuk berhati-hati membalikkan tubuh gadis itu agar merapat dalam pelukannya.
Deru napasnya terdengar merdu dan sangat teratur membuat Victon tersenyum hangat sehangat tubuhnya saat ini. Cukup seperti ini saja, bahagianya seorang Victon sangat sederhana.
“Euunnngghhh.”
Valerie melenguh seraya menggeliat dalam tidurnya. Tanpa terduga, dia mengalungkan kaki dan tangannya di tubuh Victon seolah-olah guling tidurnya.
“ Mendekaplah dalam tubuhku. Jangan bangun dulu, aku nggak mau babak belur setelah ini.” Kenapa terdengar mengerikan? Victon memang harus menyiapkan tubuhnya untuk esok hari. Biarkan saja, ia tidak peduli. Sekarang ya sekarang dan untuk esok itu sudah berbeda urusan.
“Valerie bobo ohh…ayo bobo. Kalau tidak bobo di gigit kerbau.” Mata merah dan terasa amat berat itu sudah tak mampu terbuka lagi. Namun, Victon masih sempat melantunkan nada guna menenangkan kembali si ayang beb dalam tidurnya, uh meleleh.
“I’m here, it’s okay…it’s o….”
Groookkkkkkk….
Memang sebatas itu energi yang tersisa di tubuh Victon. Tangan yang semula mengusap-usap punggung Valerie, kini sudah otomatis diam karena nyawanya sudah terbang ke alam mimpi.
.
.
...🌞🌞🌞🌞...
__ADS_1
Paginya….
Emmmhhh…
“Wahhh ini apa? Kacang polong…..eh kok? Aahhh kacang sukro kali ya? tapi kok kenyal-empuk begini? eh…??” Valerie masih masih setia memejam. Dia belum sadar kala tangan lentik berototnya, sejak tadi bermain-main dengan memelintir put*ting Victon.
“kayak squisy, hehe lucu ih…"
Greb…
“Kamu nggak tahu bahayanya pria di pagi hari?”Suara bariton Victon memecah keheningan pagi itu, Sontak saja Valerie membuka matanya dan saat itu pula jemarinya kaku seketika. Salah tentu saja dia sadari. Valerie masih berusaha mengumpulkan nyawanya kala Victon sudah mengungkung di atasnya.
“Hahh?” Valerie terhenyak.
“Hahh!.” Ucap Victon menirukan ucapan gadis bermuka bantal di bawah kuasanya.
“Mulai berani ya sekarang? Ini masih belum mau berhenti, hm?” Victon pun menangkap tangan Valerie yang masih berada di dalam kausnya. Bahkan gerakan mencubit itu masih terasa di ulang-ulang.
Baru menyadari😳😳
“Aaaaaaaaaaarrrrgghhh.”
.
.
.
TBC.
Ada sedikit revisi ya ,karena jujur aja othor kurang teliti sama beberapa kata yang tidak sesuai dengan makna dan penempatannya . maafkanlah🙏🙏
__ADS_1