My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 12 Bungkam


__ADS_3

Duengggg…


Victon sempat oleng sejenak. Ia menatap Valerie yang wajahnya begitu santai dan sama sekali tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Padahal Victon sudah terkejut bin panik.


“ini!!” Dengan cepat Victon memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


“Pa, ini Val.”


“Anak nakal! Siapa pria tadi? Papa tidak pernah ijinkan jika bukan Kevin!!.”


“Papa selalu sesuka hati, jadi ya…suka-suka aku dong. Terserah aku mau punya pacar atau nggak.” Valerie marah dan semua itu jelas dari caranya berbicara. Sementara itu, seseorang tengah berusaha menajamkan pendengarannya. Rupanya Victon penasaran dengan pembicaraan itu, takut saja jika dia di tendang sebelum mendapat restu.


“Keputusan papa sudah bulat!! Pulang nanti malam!!”


“Nggak mau!! Jangan paksa Val buat menikah!!”


Pip…


Tanpa sadar mobil itu sudah berhenti di depan kos Valerie. “Terimakasih pak, sudah mengantar saya!!” Dengan cepat Valerie pun segera keluar. Victon belum sempat menjawab dan bertanya tentang pembicaraan Valerie dengan papanya tadi. Secepat mungkin ia menyusul dan mengejar gadis itu untuk menuntut penjelasan.


“Val tunggu!!”

__ADS_1


Hahhh…


Valerie tersentak kala tiba-tiba tangan kekar itu melilit di pinggangnya dari belakang. Deg…deg…deg. Ada getaran yang membuat jantung nya kini berdebar kuat. Darahnya terasa di pompa begitu cepat kala pria yang tak lain adalah bossnya itu begitu erat memeluknya.


Tolonglah, Valerie semakin di buat bingung akan hadirnya para pria di berbagai situasi ini. Kevin yang muncul karena sama-sama di paksa oleh orang tua mereka , sedangkan Victon selalu datang meminta penjelasan atas ketidakjelasan hubungan tak berstatus itu.


"Saya yakin anda sudah mendengarnya. Tolong jaga batasan anda pak, kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja dan tidak lebih." Tegas Valerie.


Sontak saja Victon melonggarkan pelukannya. "Baiklah, jika itu maumu. Perasaanku tetap sama sampai kapanpun, tapi aku nggak akan menjilat atau bahkan mengemis. Ku harap kamu tidak menyesali ucapanmu tadi." Hati Victon bergemuruh hebat mendengar penuturan dari mulut gadis itu. Lagi- lagi batasan yang selalu di bicarakannya.


Victon hanya lah manusia biasa yang juga bisa merasa lelah. Lelah hati menghadapi ketidakjelasan Valerie selama ini. Jika memang itu maunya, maka Victon akan mundur.


Akhirnya, Victon pun melangkah pergi meninggalkan Valerie yang masih terpaku di sana tanpa menoleh sedikit pun. Hingga mobilnya menghilang, Valerie tetap setia pada posisinya.


"Kenapa sesakit ini?" Ucapnya lirih seraya memukul dadanya yang sesak.


Kenapa ia jadi resah? Bukankah tindakannya sudah benar? Valerie kini semakin di buat kelu. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi di ikuti tubuhnya yang kini berjongkok masih di posisi yang sama.


"Maaf."


.

__ADS_1


.


.


Keesokan harinya, rutinitas seperti biasa berjalan dengan semestinya. Valerie memaksa ingin tetap masuk kerja, meski di beri kelonggaran untuk cuti selama beberapa hari oleh Victon.


"Selamat pagi pak." Sapa Valerie saat tak sengaja berpapasan dengan Victon dan Aldi di dalam lift. Namun, Victon hanya mengangguk sekilas dan kembali pada wajah datarnya.


Ada yang berbeda. Biasanya, Victon sedikit banyak bicara jika di hadapan Valerie, tapi kali ini tidak.


Bahkan satu kata pun tidak keluar dari bibir itu, seolah-olah mahal sekali harganya.


Valerie tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Tetapi jika seharian sikapnya seperti ini, ia jadi merasakan aneh sendiri. Seperti sesuatu hilang begitu saja dari dalam tubuhnya. Apa Valerie sudah mulai terbiasa dengan sikap Victon yang biasanya?


"Aku lebih suka dia banyak omong, daripada bungkam begini." batin Valerie seraya menatap pria yang sangat fokus dengan pekerjaannya.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2