My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 76 Tak Mau Kalah 2


__ADS_3

"Jangan senyam-senyum. Jelek tau!!"


"Bukannya kamu suka, hm? katanya aku tampan kalo lagi senyum."


"Tampan apaan kalo senyumin si itu kan, siapa? Jasmine. Heh, cinta pertam....a...emmpp."


Tidak akan selesai jika membahas tentang mantan. Cara paling ampuh dan mujarab untuk membungkam Valerie ialah mulut di balas mulut. Metode paling anti gagal dan tidak di tolak pastinya.


"Aku.....emmp."


cup..


"emmppp......empp.." Valerie membola seraya memukul-mukul pelan karena kehadiran mama Nindi yang baru muncul dari luar.


"Ckckck, pindah kamar sana Vic. Kalian ini nggak tau tempat!." Sindir mama Nindi dengan menggeleng pelan kemudian berlalu begitu saja.


Malunya! Valerie tak bisa mengungkapkan seberapa memalukan rasanya kepergok mertua di saat sedang enak-enaknya, upss!!.


"emmmpp....udah iiihhh.!"


"Bibir kamu bikin candu. Lanjut yuk.!" Ajak Victon dengan seringai liciknya.


"Hei....hei .....sebentar. Kita kan mau ke kantor polisi."


"Tunda dulu. Jalankan ibadah baru kita pergi."


Sudah tak ada jalan keluar. Valerie sangat paham ibadah yang di inginkan suaminya, sedangkan ia sudah tidak bisa lepas kala tubuhnya sudah melayang dan di bawa menuju arena tempur 1.


.


.


.


.


Siang itu, Valerie mengunjungi sel tahanan bersama suami tak luput Aldi yang selalu ada di manapun Victon berada.


"Rambut masih basah aja pak." Bisik Aldi menggoda penampilan Victon.

__ADS_1


"hmmmm, habis dapet bonus double plus-plus. " Menyesal Aldi berkata karena jawaban Victon sangat menyebalkan.


Sampai di dalam, Valerie tampak kembali resah. Namun, ia penasaran alasan mengapa wanita itu begitu keji. Bahkan yang Valerie dengar, tak hanya kedua orang tuanya saja yang menjadi korban pembunuhan Aurora. Ada 2 korban lainnya yang juga mengalami hal serupa.


" Harusnya jiwamu juga ikut di periksa. Kayaknya kamu udah gila!" Ketus Valerie.


Wanita berumur 30 tahun itu selalu membuat emosi Valerie berapi-api. Untuk kali ini, ia memahami jika Aurora memang kurang lebih tidak waras.


"Kau mirip dengan Eveline. Menyebalkan!! Aku benci kalian semua."


Alasan yang cukup logis di balik motif pembunuhan yang Aurora perbuat. Penyakit hati memang tak bisa di anggap sepele, namun Valerie masih tercengang jika hal itu membuat seseorang berani menghilangkan nyawa yang tak bersalah.


"Terus, dua yang lain...."


"Aaaaaaa....... siapa suruh berani menyinggungku. Itulah akibatnya." Santai sekali jawabannya, seolah-olah nyawa tak berharga di matanya. Tanpa dosa dan rasa bersalah, lagak Aurora seperti jelmaan iblis. Sama sekali tidak ada rasa takut.


"Emang harusnya kamu membusuk di sini." Ucap Valerie kemudian beranjak dari duduknya.


"Hahahaha..."


Kepergian Valerie malah meninggalkan jejak tawa di sana. "Dia udah gila!!" Sia-sia saja Valerie berbicara dengan wanita itu. Seharusnya ia menurut dengan perkataan suaminya. Sejak awal Victon sudah peringatkan jika Aurora tidak akan semudah itu.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


"Apa?" Beo Victon dan Aldi serempak.


"Dengerin deh." Wajahnya semakin serius saat ia meletakkan tangan di telinga seakan menajamkan pendengarannya.


kruuuyyuukkkkk....


"Laperrrrrrr!! Aku nggak sarapan sama makan siang tadi." Rengek Valerie seketika membuat dua pria itu berwajah datar. "Gara-gara kamu aku laper." lanjutnya lagi.


"Kok aku?" tunjuk Victon pada dirinya.


"iya lah. Pagi si mantan, siang kamu minta jat ....eeuuppphh."


Sontak saja Victon membekap mulut Valerie yang mulai berkokok. Mungkin urat malunya sudah terputus, itulah kenapa istrinya berkata tanpa beban meski di depan Aldi sekalipun. Bukan apa, Victon tidak mau wibawanya runtuh jika aibnya bocor semua.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengisi perut. "Nggak jadi deh. Tiba-tiba nggak selera, makan pedes-pedes yang di pinggir jalan enak kayaknya." Ujar Valerie.

__ADS_1


"Sayang serius? ini kita udah keliling-keliling kota. tadi corndog, bakso, chicken terus apa lagi yang gak jadi?" Ucap Victon dengan gemas mencubit pipi istrinya.


ting....ting...ting...


"es krim ...es krim.."


waaaaaaahhhh.....


"Sayang aku mau itu. Segar panas-panas begini ...ueenak pasti." Secepat mungkin Valerie membuka pintu mobil tanpa peduli jika benda itu masih bergerak. Beruntung sekali Aldi sigap menghentikannya. ciiitttt...


"VALERIE!!" Sentak Victon ketar-ketir dengan tatapan tajam setajam silet.


"Maaf. Aku terlalu semangat hehe."


"Kakak awas!!"


Baru maju selangkah, Valerie tidak tahu jika sebuah bola mengarah kepadanya. Teriakan itulah yang membuat Valerie secepat itu berputar.


dug....


Terlambat. Valerie kalah dengan waktu hingga bola itu berhasil mengenai bahunya. "Kakak maaf." Seorang anak laki-laki menghampiri Valerie seraya menunduk dan meminta maaf.


Valerie tersenyum kemudian berjongkok untuk menjajarkan tingginya dengan anak itu. "Nggak papa, lain kali hati-hati ya. ini bolanya." Ucap Valerie ramah.


Anak itu tampak malu-malu saat menerima bolanya kembali. Namun, hal tak terduga terjadi begitu saja. "cup.... makasih kakak cantik." Ucapnya seraya mencium sebelah pipi Valerie membuat empunya membeku.


pppffttt...


Valerie terkekeh pelan mengamati anak itu yang berlari. Valerie kembali tersentuh melihatnya bergabung kembali dengan kedua orang tuanya di sudut sana.


"Es krimnya jadi nggak?" tanya Victon.


Valerie menoleh dengan matanya yang sedikit berembun. "iya jadi." Dengan susah payah, Valerie menarik masuk air matanya kembali. Ia tidak mau terlihat sedih di depan suaminya.


.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2