
Berlin, Jerman. 5.30 AM
Pagi hari di awali penuh drama setelah 8 jam lamanya Valerie baru sadarkan diri lagi. Setelah cukup lama, akhirnya Victon pun berhasil menenangkan istrinya kembali.
“Tidur lagi yuk. Masih terlalu pagi.” Victon kembali menarik selimut seraya merengkuh Valerie yang masih sesenggukan. Matanya masih cukup berat sebenarnya, karena mereka baru tiba di rumah 2 jam yang lalu dan itu pun dia tidak bisa langsung terlelap.
“Ini dimana?” tanya Valerie.
“Rumah kita.”
Jawaban singkat Victon membuat Valerie mengerutkan dahi. Ia melihat sekeliling ruangan yang benar-benar berbeda gaya dan desain dari rumah yang dulu. “Rumah kita?” Valerie semakin bingung melihat wajah tampan Victon yang begitu santai.
“Iya istriku yang cengeng.”
“Ck, enak aja.” Tidak terima di bilang cengeng, padahal matanya saja sampai bengkak akibat menangis hampir 1 jam. Valerie memang paling anti di bilang begitu. Juga, jarang sekali dia meneteskan kristal bening berharga di matanya itu. Tidak tahu bagaimana, kehadiran Victon benar-benar merubah tatanan hidup Valerie. Perlahan seperti, Valerie di giring kembali pada jati dirinya yang dulu.
“Kamu mimpiin aku apa, sampai meraung-raung begitu?”
“M…mati. Nggak cuma kamu, semuanya mati…… karena… aku.” Ucap Valerie tersendat-sendat mengingat mimpi itu terlihat sangat nyata hingga sulit untuk membedakannya.
__ADS_1
“It’s just a dream.”
Puk…puk…
Victon pun menepuk bokong Valerie hingga si empunya melotot. Begitulah cara menghibur yang dia bilang tadi. “Kenapa marah? tubuh ini kan udah jadi milikku.” Iya-iya, terserah yang punya deh. Valerie kini hanya diam menanggapi kejahilan suaminya itu.
.
.
.
.
Setelah pagi tadi menangis-nangis, kini Valerie meletup dan siap meledak seperti gunung berapi, seusai mendengar penjelasan singkat dari mulut Victon. Bahkan pria itu saja di kalahkan oleh Coco si kuda besi kesayangan Valerie itu, dasar pilih kasih.
Suasana meja makan yang semula tentram dan damai kini kian mencekam hingga para pengurus rumah dan Aldi yang sedang bergabung di buat bungkam. Victon sudah mempersiapkan diri jika hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Tapi ia sungguh tidak tahu jika Valerie marah sekali.
Tak..!
__ADS_1
Kesalnya sang istri di lampiaskan pada alat makan yang tak bersalah itu. Tak lama, Valerie tampak ingin menyudahi kala ia meraih tisu dan mengelap mulutnya segera. Padahal, baru dua sendok makanan itu masuk ke perutnya, namun secepat itu ia beranjak dari sana.
“Duduk dan selesaikan makananmu Valerie.!!”
Tak hanya Aldi yang duduk diam menelan makanan dengan susah payah, Valerie pun di buat tersentak kala Victon meninggikan suara bariton khasnya.
Memang pada dasarnya sama-sama keras dan pantang di tantang. Victon tidak senang dengan sikap Valerie yang seakan menyia-nyiakan makanan hingga mengundang pula amarah yang ia pendam saat istrinya mengoceh sejak tadi.
“Ku bilang duduk!! Hargai koki yang sudah menyiapkannya!” Tidak bermaksud kasar atau membentak, namun kadang kala Valerie benar-benar menguji kesabaran Victon yang tidak tebal itu.
Dengan sedikit kasar, Valerie kembali menarik kursinya. Secepat kilat ia menghabiskan apa yang ada di piring kemudian menenggak habis air putih di sampingnya. “Udah!!” Ketus Valerie kemudian meninggalkan ketegangan yang ia ciptakan di ruang makan pagi ini. Victon hanya bisa menghela napas kasar kala menatap punggung sang istri yang kian menghilang.
“Haahhhh, dia seperti drakula.”
Aldi heran melihat Victon yang begitu tenang menghabiskan sarapannya. Padahal adegan yang seharusnya adalah mengejar istri yang sedang mengamuk itu, “Sama-sama keras kepala.” Batin Aldi menggeleng-geleng.
(Keras kepala🤨🤨)
__ADS_1
(Kesel😤😤)