My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 72 Merelakan


__ADS_3

wiuuuu.....wiuuuuuu....


Sirine mobil ambulance di suarakan membawa jasad Candra ke rumah sakit terlebih dahulu. Sedangkan Valerie yang kian melemah, kini hanya pasrah di bawa suaminya masuk ke dalam mobil.


Rasa sakit yang luar biasa itu muncul dari perutnya. Valerie meremas lengan Victon seraya membenturkan kepalanya di dada bidang pria itu berkali-kali saat berada dalam pangkuannya.


"S....sakit!! Sakit banget!!"


"Al, cepat!!! Istriku kesakitan, tancap gas!!"


"Meluncur boss, ini udah gas pwoolllll!!" Jawab Aldi.


"Ralat! Cepat tapi selamat, tetap hati-hati!" Oh jantung! rasanya hampir lepas. Istrinya meraung kesakitan di tambah gaya menyetir Aldi yang seperti pembalap jalanan. Victon berdegup tak karuan.


Belum lagi tangan sang istri begitu aktif menciptakan rasa nano-nano yang melebihi saat ia di sunat sewaktu kecil dulu.


"Ssssssshhhhh! hiks ....sakit sayang, sakiiiiitttt!!" Valerie menggigit bibir bawahnya. Tak kuasa lagi, ia benar tidak kuat menahannya.


"Iya, sabar ya. Sebentar lagi sampai."


Sebagai ucapan penenang, padahal Victon sendiri juga menahan sakit. Bukan sebab melihat Valerie yang merintih, tapi tangannya yang di remas-remas seperti cucian. Sungguh, tenaga Valerie bukan main hingga Victon pun memekik tertahan.


"Ya Tuhan tangankuuu!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


"Lakukan yang terbaik dok!" Victon hanya bisa menunggu di luar agar tidak mengganggu para dokter yang hendak melakukan tugasnya.


Tangan kanannya berlumur darah yang berasal dari kaki Valerie. Pria itu setengah bingung, padahal Valerie tidak tertembak atau terkena benda tajam. Lantas apanya yang terluka?


Victon mengacak rambutnya kasar seraya menatap nanar brankar yang membawa tubuh Valerie dan menghilang. "Tolong baik-baik saja." Doa terbaik yang bisa membantu Victon saat ini.


Di dalam ruang IGD....


"Terlalu lemah. Kita tidak bisa menyelamatkannya karena ibunya sudah mengeluarkan banyak darah."


"Lalu bagaimana dok?"


"Tidak ada pilihan lagi. Segera siapkan operasi, kita harus mengangkat janinnya atau nyawa keduanya tidak selamat."


JDERRRR โšกโšก


Mendengar ucapan sang dokter, jiwa Victon bagai di belah dua. Ia tak mampu menjawab, juga kedua orang tuanya yang baru saja tiba sangat terkejut akan berita duka yang datang bertubi-tubi.


Baik keluarga Giovanni maupun Ghaffari sangat shock. "A....apa tidak ada cara lain dok? Tolong selamatkan keduanya, berikan yang terbaik dan saya akan bayar berapapun." Victon melemah bahkan rela bersujud di hadapan dokter itu.


"Maaf pak, saya bukan Tuhan. Jalan satu-satunya hanya ini. Tolong tanda tangani surat perjanjiannya, kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi."


"Maafin papa nak." batin Victon teriris-iris dengan keputusan yang hendak ia ambil. Tangannya bergetar hebat saat membubuhkan tanda tangan pada surat persetujuan aborsi. Bahkan mama Nindi hanya bisa terisak dalam pelukan suaminya melihat kemalangan yang menimpa kedua anaknya.


Beberapa jam kemudian......


pip....pip.....

__ADS_1


Sama-sama tidak mengetahui jika sudah hadir pelengkap di keluarga kecil itu. Victon baru sadar jika sikap manja sang istri kerap kali membuatnya tak terbiasa.


Tapi Valerie juga tidak memberitahu karena dia sendiri tidak memeriksa hal itu. Tidak ada yang salah di sini, namun Victon merasa sangat menyesal karena tidak bisa menjaga keduanya.


"Sayang maaf. Kita nggak bisa mempertahankannya, maaf."


Sesedih itu hingga Victon tak mampu menahan genangan yang memenuhi pelupuk matanya lebih lama. Kasus selesai dan ia berharap tidak ada lagi masalah dalam kehidupan mereka. Cukup ini yang terakhir kalinya tanpa harus terluka lagi dan lagi.


tok...tok....


"Pak sudah saatnya."


Cup.....


"Kamu wanita yang kuat, bertahanlah!!" Victon menyempatkan mencium pucuk kepala istrinya sebelum pergi. Berbalut pakaian serba hitam, menandakan jika keluarga besar tengah berkabung atas kepergian Candra Tama Giovanni.


Valerie yang belum sadarkan diri tidak bisa mengiring sang papa tercinta menuju tempat peristirahatan terakhir. Tidak bisa di bayangkan saja, jika dua kabar buruk itu menyerang bersamaan. Pasti sangat menyakitkan, tidak ada yang bisa merasakan bagaimana Valerie nanti. Bahkan Victon sendiri serasa tercekik saat ini.


"Ayo."


Ceklek....


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2