My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 77 Menang


__ADS_3

Victon mengerutkan alisnya selama perjalanan pulang. Padahal apapun yang istrinya mau dia turuti, tapi Valerie memilih untuk diam membisu. Apa masih lapar atau mau yang lain? pria itu mencoba menerka apa yang di inginkan istrinya.


teerrrrriiiirrriiingggg....terrririiingggg....


"Angkat Al, berisik!" Ucap Victon. Aldi membiarkan ponselnya berdering hingga suaranya memekikkan seisi mobil. Melihat Aldi segera menerima panggilan itu, Victon pun mengurungkan niatnya untuk melempar Aldi dengan box tisu.


"iya Aldi di sini."


"......"


Beberapa detik kemudian....


"iya sayang, love you too muachh."


Victon menggernyit tak percaya dengan tingkah asistennya. Padahal ia sendiri kurang berkaca. Namun, melihat Aldi yang begitu membuat Victon serasa ingin buang air.


Tak masalah jika Aldi ingin menentukan kebahagiaannya. Hanya saja, gayanya sedikit tidak terduga.


Drrrtttt......drrrtttt....


Sekarang giliran milik siapa yang berbunyi? Victon mengecek miliknya dan ternyata bukan. Rupanya ponsel Valerie. Tapi, pemiliknya tidak berniat untuk mengangkat panggilan itu.


"Angkat dulu. Siapa tau penting." Ucap Victon seraya mengacak pelan rambut Valerie.


Valerie mengkerut dengan nama panggilan di layar ponselnya. Berani sekali Ray menghubungi setelah apa yang Aurora perbuat. Sungguh, sisa rasa itu sudah lama sirna, yang ada hanyalah muak.


Muak bahkan hanya sekedar berbicara saja. "Ck, ngapain sih dia?" gumam Valerie kesal saat ponselnya kembali berdering setelah ia tolak berkali-kali.


srekkk.....


Victon pun merebut paksa benda itu dan langsung menekan tombol hijau. Tak lupa ia mengaktifkan mode loudspeaker agar semua bisa mendengar.


"Halo? Val....akhirnya kamu mau angkat juga. Please, dengerin penjelasan aku. Bisa kita ketemu sebentar?"


Hening seketika....


Valerie menatap suaminya serius, namun Victon malah menganggukkan kepala. Apa maksudnya itu? Jangan bilang kalau Victon setuju memenuhi keinginan Ray? Valerie semakin bingung.

__ADS_1


"Buat apa lagi? Aku nggak mau dengar apapun." Jawab Valerie dengan ketus.


"Val, kumohon!!" Ujar Ray memelas.


"Selesaikan semua itu sekarang juga. Aku nggak mau dia datang lagi dan lagi di kehidupanmu." Bisik Victon kemudian.


"Haaahhh, oke ..... kita ketemu sekarang juga. Ku kirim alamatnya."


pip...


Wajah Valerie semakin di tekuk saja akibat keputusan Victon yang sepihak. Sungguh, sedetik saja Valerie tidak ingin melihat wajah Ray lagi.


kretekkk.....


"Saatnya pembalasan." Valerie kembali menatap hiruk pikuk keramaian jalan raya siang itu setelah berhasil membuat dua pria di dalam mobil itu bergidik ngeri. Itu karena suara renyah dari jari Valerie saat dengan sengaja ia mengepalkan tangannya menjadi satu.


.


.


.


.


Di antara banyak tempat, kenapa malah memilih gedung olahraga sekolah SMA-nya dulu. Ray dan Valerie memang satu sekolah , sekaligus pernah menjalin hubungan khusus di masa-masa cinta monyet kala itu. Aneh saja rasanya.


Valerie dan komplotannya tiba lebih dulu. Sembari menunggu ia menyempatkan diri untuk melakukan pemanasan. Entah untuk apa pemanasan tersebut, yang jelas pasti ada gunanya.


drap...drap....drap...


Bujuk di cinta ulam pun tiba. Sosok pria yang sejak tadi di tunggu akhirnya muncul juga. "Yank, jangan aneh-aneh ya. No pukul-pukul." Victon berusaha memperingatkan sang istri. Takutnya Valerie lepas kendali atau bagaimana, yang paling di khawatirkan jika Ray masuk UGD.


"Tenang aja Honey." Cup.... baru di awal, Valerie sengaja memanas-manasi Ray yang berdiri tak jauh dari mereka. Sengaja ia memamerkan kemesraan dengan memberi kecupan singkat di bibir tebal suaminya itu.


"Sialan!! Dia sengaja kan?" Umpat Ray dalam hati seraya mengepalkan tangan.


"Langsung aja. No basa-basi.... aku sibuk." Ya, sibuk sekali memang. Padahal kehidupan Valerie di keluarga Ghaffari bak ratu di sebuah kerajaan.

__ADS_1


"Val, aku cuma mau jelasin. Aku nggak pernah ikut campur sama rencana kakakku. Aku tahu ini nggak berguna karena semua udah terjadi. Tapi, setidaknya aku mau minta maaf sama kamu."


"Buat apa? Apa pengakuanmu bisa bikin orang tua dan anakku kembali?" Jawab Valerie bergetar. Pembicaraan ini sangat sensitif. Tapi Valerie berusaha menahan diri.


"An......anak? Val jangan bilang kamu....?"


"Ya, anak kami. Kenapa kaget begitu? Valerie ada suaminya jadi wajar itu terjadi." Ucap Victon kemudian merangkul Valerie dengan posesif.


"No way. Ku kira kalian sandiwara, bukan begitu? Val kamu masih cinta sama aku kan?"


Seakan di sambar petir, Ray terkejut mendengar penuturan Valerie. Bahkan tatapan matanya terlihat begitu jujur. Benarkah Valerie sudah melupakannya? batin Ray tak terima.


"Udah cukup Ray. Sejak kamu selingkuh kita udah lama selesai. Jangan berimajinasi lagi, aku mencintai suamiku bukan kamu!"


Ray menyeringai. "Heh........ kamu bohong kan?" Ray masih tidak percaya. Sejak awal, Ray berusaha merebut Valerie karena ia yakin ikatan pernikahan tidak akan mampu menghalangi perasaannya.


Tapi semuanya memang sudah usai dan kini hanya tersisa penyesalan. "Kamu pikir dia pria baik-baik? Val kamu udah buta kah?" Ujar Ray kesal.


Baru saja Valerie hendak pergi, namun perkataan itu memancing sesuatu dalam dirinya. Sreett....bugh.... Sekali putaran, tendangan maut itu mampu membuat Ray jatuh tersungkur.


brughh......


"Jangan membalikan fakta. Kamu bilang suamiku buruk? Terus kamu sendiri apa? Hamba Tuhan yang tanpa dosa? Setelah melenyapkan keluargaku jangan harap ada sedikitpun rasa simpati dariku, Ray." Valerie pun meninggalkan pria itu begitu saja. Sementara Victon menyeringai sambil menjulurkan lidahnya penuh kemenangan.


"Aaaaarrrrrrrrgghhhhhh."


Begitulah teriakan Ray yang menggema-gema....


.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


Yang mau kesal silahkan๐Ÿค“


__ADS_2