
7.30 PM…
“Cantik sekali anak mama.” Ucap Aurora seraya menyisir pelan rambut panjang Valerie.
“Ck, aku nggak perlu bantuanmu. Bisa tolong pergi dari sini?!!.” Valerie menatap pantulan dirinya dari kaca besar di meja riasnya dengan rasa iba pada dirinya sendiri. Meski ia pulang ke rumah dengan tubuh berbalut luka, sang papa seakan tidak peduli dan tetap memaksa Valerie untuk segera merias diri secantik mungkin.
Memang tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun yang menjadi prioritas papanya hanyalah menjaga nama baik keluarganya dan tidak akan peduli meski Valerie tersiksa sekali pun. Ia tidak pernah lupa akan status ibu tirinya yang merupakan anak dari presiden di negara ini, dan yang lebih menyesakkan papanya rela berkhianat demi wanita itu.
“Kenapa bicaramu selalu kasar seperti ini? Apa salah mama nak?” Ucap Aurora lagi dengan mata yang berbinar di sertai raut wajah yang membuat Valerie merasa jijik.
“heh, nggak perlu acting lagi, di kamarku tidak ada CCTV.” Sinis Valerie.
Sontak saja Aurora langsung berjingkrak riang. “Bilang dong dari tadi, rahangku jadi keram kebanyakan senyum.” Santai sekali cara bicaranya. Valerie sudah tidak mempedulikan Aurora yang kini berbaring bebas di atas kasurnya. Terserahlah, saat ini Valerie sedang sibuk memikirkan cara agar perjodohan ini di gagalkan daripada mengurusi hal yang tidak penting baginya.
“Apa susahnya sih? tinggal terima aja terus nikah, beres kan?!.” Ucap Aurora membuat Valerie menghentikan tangannya yang sedang mengoleskan lipstick di bibirnya.
“Ku bilang pergi dari kamarku!!”
Tatapannya seperti hendak menguliti, sontak saja Aurora bergegas pergi. Jika sifat bar-bar itu kembali lagi, maka habis sudah dirinya. Sebenarnya jika bukan karena perintah suaminya, Aurora tidak sudi mendekati anak sambungnya itu.
...🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
Sementara itu…..
“Kau yakin ini alamatnya Al? Ku potong gajimu kalau sampai salah!!” Ancam Victon yang kini duduk di kursi samping kemudi seraya mengamati tempat yang tidak asing baginya.
“Jangan lah boss, saya rela lembur begini. masa iya potong gaji, kasihanilah saya yang sebatang kara ini.” Ucap Aldi dengan memelas membuat Victon memutar bola matanya malas.
Sungguh di luar dugaan. memang tidak ada yang bisa menghalangi jika terkait urusan hati. Victon rela meninggalkan meeting pentingnya demi hal yang mendesak ini. Siapa sangka jika boss yang berwibawa itu kini melakukan penyamaran.
Tak tanggung-tanggung, bahkan pakaiannya pun serupa dengan perannya. Aldi yang merasa aneh, karena corak pada pakaian khususnya itu menyerupai seragam anggota militer negeri ini. Yang benar saja jika ia harus merangkap dan bertugas untuk menjaga keamanan negara sekaligus.
Mengikuti Victon seharian di kantor sudah cukup membuat raga dan batinnya lelah. Sayangnya Aldi juga tidak bisa membantah, apalagi jika misi ini sukses bossnya yang baik itu menjanjikan bonus 3 kali lipat. Memang kata baik itu kadang kala saja. Namun, Aldi sangat bersyukur karenanya.
Dari dalam mobil dalam jarak cukup jauh, kedua pria itu tengah mengamati pagar besi rumah megah bercat putih yang ketinggiannya bisa di lihat dengan jelas dari posisinya saat ini. Istana megah yang di jaga dengan sangat ketat, itulah kenapa Victon tidak bisa seenaknya melanggar perbatasan. Apalagi, ia bukan tamu yang di undang.
“Ini tentang harga diri Al, kau tau apa hah?”
Salah lagi, sudah lah Aldi menyerah. Ia tidak akan menang jika terus beradu mulut dengan boss nya itu. Jika bukan karena Valerie yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit, mungkin mereka tidak akan berakhir di tempat ini.
Awalnya Victon tercengang kala mengetahui identitas asli Valerie, dan saat melihat langsung ia semakin di buat melongo. Rupanya gadis itu adalah putri tunggal dari salah satu pebisnis terkemuka di negeri ini.
__ADS_1
“Kenapa dia rela bekerja menjadi bodyguard ? Apa ada masalah dengan keluarganya?.” Batin Victon bertanya-tanya. Informasi yang di gali Aldi kurang terperinci hingga akarnya, atau bisa jadi keluarga Valerie menutupi identitas anak semata wayangnya itu.
Pikiran Victon semakin bingung. Di matanya, hidup Valerie seperti selalu di kejar-kejar dan di kelilingi oleh berbagai hal luar biasa. Seolah-olah kabut hitam selalu menyertainya, padahal bisa di lihat dengan jelas jika gadis itu seperti putri di sebuah kerajaan.
“Kita bisa masuk. Bersiaplah!!” Ucap Victon seraya mempersiapkan diri, sedangkan Aldi mengangguk-angguk setuju.
.
.
.
Acara makan malam sebentar lagi akan di mulai, sedangkan Valerie masih berdiam di kamar seraya mengatur napasnya. Ia gugup sekali dan juga marah. Masalahnya ia baru di beri tahu jika malam ini bukan hanya sekedar acara makan malam, melainkan acara ijab kabul dadakan yang sama sekali tidak di ketahuinya. Mendengarnya saja Valerie benar-benar di buat mendidih.
Tok…tok…tok…
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-