My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 83 Snack Jagung Season 2


__ADS_3

"Apa?"


Aku terombang-ambing lagi. Hanya sebuah permintaan kecil, kenapa terkadang sangat sulit untuk memenuhinya? Victon kembali berpikir dengan hati-hati. "Sssssshhhh." Seketika pula sakit kepala menyerang Victon di saat bersamaan keduanya terikat dalam keheningan.


"Kenapa?" tanya Valerie. Baru saja tangannya hendak terulur, terdengar teriakan yang mengaung-ngaung entah dari mana asalnya.


"Valerie! jadi ikut mama ke mall nggak?! Mama mau shoping-shoping.." Ucap mama Nindi yang baru saja muncul dari depan rumah.


"iya ma." jawab Valerie.


"Loh, nggak ke kantor Vic? kenapa masih di rumah?" tanya sang mama pada putranya.


"Ke kantor ma, sebentar lagi."


"Udah sana berangkat. Mama mau ajak menantu mama refreshing, biar nggak suntuk di rumah terus. Ayo sayang siap-siap dulu, pak Johan udah nungguin di depan tuh." Memang mertua ter the best. Valerie sangat beruntung memiliki mertua yang baik, tahu sekali jika Valerie juga butuh menghirup udara segar.


"Ma, jangan ajakin Val ke tempat aneh-aneh." Tiba-tiba saja Elard ikut-ikutan.


"Ck, papa ngapain sih? Udah, kalian para bapak-bapak nggak usah ikut campur sama urusan perempuan. syuhh...syuh.." Mama Nindi pun mengayunkan tangannya untuk mengusir para pria itu dari pandangannya.


Secepat mungkin sang mama mengangkut menantunya pergi dari rumah. Kasihan sebenarnya, mama Nindi takut jika Valerie stress karena terkekang oleh putra kolotnya itu.


.


.


.


.


Di sebuah Mall, siang menjelang pagi itu......


"Ayo sayang, pilih apa aja yang kamu mau. Semuanya juga nggak papa, asalkan jangan si mas-masnya."


Valerie terkekeh mendengar celotehan mertuanya. Sejak di mobil tadi, mama Nindi berusaha menghibur hati Valerie dengan berbagai candaan." jadi inget mama....." Valerie diam menatap sang mertua dengan binar kebahagian bercampur haru.


"Nak? kok malah melamun?"

__ADS_1


"Apa sayang, bilang aja sama mama."


Valerie tampak berpikir sejenak. Ada semacam dorongan yang membuatnya menginginkan sesuatu yang amat sangat. "Aku pingin banget ciki Teetos ma, tapi kak Victon nggak ijinin. Boleh ya ma?!"


Rengekan itu membuat senyum indah menawan sang mama muncul seketika. Sebagai wanita, tentunya mama Nindi pernah merasakan hal yang sama. "Hihi. Berita baik nih."


"Apapun yang kamu mau. Ada lagi?"


Entah berita baik apa yang terlintas di kepala mama Nindi, intinya dia bahagia sekali. Salah siapa Valerie sampai seperti ini? tentu saja putranya itu. Tega sekali membuat menantu kesayangan di biarkan kebutuhannya tidak terpenuhi.


Ini bukan soal uang. Selain kartu dari suaminya, Valerie memiliki kekayaan dari keluarganya sendiri. Namun, masalahnya bukan hanya itu. Jika ruangnya untuk pergi terbatas, sama saja bohong.


Uang memang segalanya, tapi perhatian tidak bisa di beli dengan uang. Valerie hanya menghormati segala keputusan yang menurut suaminya baik untuk dirinya, meski terkadang sulit untuk di terima hati.


"Tapi, Val takut kak Victon marah ma."


"Kasihan sekali anak mama ini. Udah tenang aja, ada mama semua beress!!"


"Yes!. makasih ma."


Beberapa jam kemudian......


"Pak. ini buat pak Johan ya. Terus yang belakang itu, nanti tolong bagikan ke yang lainnya..." Ucap Valerie ramah.


Pak Johan sempat menganga dengan beberapa box dan juga tas belanja yang bukan main banyaknya. "Waaaahhh, terimakasih Non Valerie, nyonya. .." jawab Pak Johan dengan senang hati.


"Iya pak, sama-sama." Mama Nindi tersenyum ramah pula. Tak ada hal yang lebih indah dari berbagi. Begitulah salah satu prinsip hidup sebagai manusia sosial.


.


.


.


4 PM...


tin....

__ADS_1


"Loh? Kak Victon udah pulang? gawat nih!!." Baru saja mobil berhenti, Valerie mendapati mobil milik suaminya teronggok di depan rumah.


Buru-buru Valerie menyeka mulutnya yang belepotan. Dia sudah habis beberapa bungkus ciki yang di belikan mama Nindi tadi dengan wajah bahagia. Namun sepertinya kebahagiaan itu akan segera di renggut.


"Ma, ini gimana? Jangan di buang ya, Val masih mau makan."


Lucunya. Mama Nindi jadi gemas melihat ekspresi Valerie yang menggemaskan. "Tenang aja. Nanti biar di bawa masuk sama mbok Sumi. Kalo Victon masih marah-marah, bilang aja sama mama, okay? Sekarang kita masuk dulu." Ucap sang mertua dengan lembut.


Valerie hanya mengangguk kemudian meninggalkan pak Johan yang sibuk mengangkat barang.


Sampai di kamar...


Ceklek...


Aman. Valerie mengangguk seraya tersenyum saat melihat Victon tengah duduk di sofa dan sibuk dengan laptopnya.


Demi apapun jantungnya berdetak kencang sekali. Akhir-akhir ini selalu begitu. Entah kenapa, Valerie takut sekali saat Victon mengomelinya sebab kadang dirinya membangkang.


Bukan hal serius, semisal saja beberapa hari ini Valerie sering keluar rumah dengan membawa Leo tanpa ijin. Parahnya, Valerie menakut-nakuti kucing tetangga dengan memamerkan Leo pada mereka.


Atau hal lainnya seperti membawa Choco dan miss pinky berkeliling dengan alasan ingin menghabiskan bensin, konyol sekali tapi tidak salah juga.


Setelah selesai membasuh seluruh dosanya di kamar mandi, Valerie pun menghampiri suaminya dengan langkah pelan. Tak ada respon, atau memang Victon tidak tahu jika Valerie berada di dalam kamar.


"Sayang, tumben jam segini udah pulang? Apa butuh sesuatu?"


Victon tetap bergeming dan masih tidak merespon sama sekali. Ternyata, pria itu terlelap dalam posisi duduk, sementara benda lipatnya masih menyala.


"Kok panas?"


.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2