My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 59 Siapa?


__ADS_3

Meskipun Zoeya memilih, pada akhirnya tetap saja keputusan di tangan Victon. Menyesal sekali dia berpikir keras karena ujung-ujungnya Zoeya di angkut kembali ke tanah kelahiran atas keinginan mutlak sang kakak. Katanya sih, Victon akan bernegosiasi dengan orang tuanya agar Zoeya berada dalam pengawasannya.


"Kakak akan urus semua keperluanmu. Setelah itu kamu tinggal sama kakak, paham?" Ucap Victon seraya bersedekap.


"i...iya kak."


Suasana mobil itu kembali hening setelah Victon berceramah singkat. "Sayang?" Ucap Valerie lirih seraya mengusap pelan tangan kekar itu.


"Apa?!!! jangan coba-coba membelanya dan merayuku lagi Val!!." Tegas Victon.


"ih sensi banget!! Aku cuma mau pegang tangan doang, ya udah nggak boleh.....huh!!"


Kesal iya dan gugup pun iya. Valerie menepis kasar tangan Victon. Bingung sekaligus kesal hendak bagaimana, karena memahami Victon bukan hanya dari satu sisi saja.Tetapi, belum apa-apa sudah di bentak dan Valerie jadi malas ingin bicara.


Dengan mendengus kesal Valerie pun memalingkan wajahnya dan duduk sedikit menggeser dari Victon. Dasar kaleng susu!! pikirnya.


"Dia nggak membujukku? cih !!" batin Valerie mencebik saat sekilas melirik si kanebo kering itu dari sudut matanya. Pria itu begitu santai dan kembali berkutat pada tabletnya tanpa menghiraukan Valerie sedikit pun.


Beberapa menit kemudian....


Sampailah mereka bertiga di bandara. Berempat sebenarnya, karena Aldi sempat di anggap makhluk tak kasat mata.


bammm!!


Semua orang di kejutkan kala Valerie membanting pintu. Tak hanya itu, secepat mungkin Valerie berjalan masuk ke dalam jet dengan menghempaskan siapapun yang menghalanginya, tak terkecuali para pengawal yang ada di sekelilingnya.


"Minggir!!" Sentak Valerie.


dug...dug... dug...suara sepatu Valerie menggema di tangga itu membuat para pengawal beringsut mundur. "Sssttt, ku rasa Tuan dan Nyonya sedang bertengkar." Celetuk salah satunya.

__ADS_1


Sementara itu, Victon hanya mengusap kasar wajahnya seraya menghela napas. Belum lagi mulut Zoeya yang ikut campur memancing Victon yang semula tenang-tenang saja.


"Seharusnya kakak bujuk kak Val. Wanita itu butuh di mengerti dan di lembutin. Jangan di bentak-bentak begitu, dih." Ucap Zoeya yang berjalan beriringan dengan sang kakak.


Sejenak Victon menghentikan langkahnya. " Sotoy!! Kakak selalu mengerti dan manjain dia kok. Yang tadi itu nggak sengaja aja." Ucap Victon seraya menonyor kening Zoeya dengan telunjuknya.


"Tapi serius deh, aku baru kali ini nemuin pria sekaku kakak. Kak Val tuh terlalu berharga buat kakak. Tau gitu, dulu aku nggak bantuin kakak buat dapetin kak Val, kasihan dia."


"Zoe!!"


"Apa? kenyataannya begitu kan...weekkk!!" Dengan wajah mengejek, Zoeya menjulurkan lidah dan menarik bawah matanya. Setelah itu, Zoeya merasakan hawa sekitarnya mendadak berubah, langsung saja dia berlari.


"Kak Vaaaaal, tunggu aku!!" pekiknya.


.


.


.


"Zoe, aku duduk di sebelahmu ya?" tanya Valerie pelan.


"Silahkan kakakku tersayang." Jawab Zoeya dengan sedikit di buat-buat dan dengan jahilnya dia melirik Victon yang tengah berwajah masam di kursi lain.


"Sayang handphone ku mana?"Tanya Victon dan dengan cepat Valerie merogoh tas lalu memberikan benda itu pada pemiliknya.


"Headset? "


Valerie kembali memberikannya tanpa berucap apa-apa. " Val, aku kedinginan. jangan jauh-jauh dong." Victon berusaha membujuk lagi dan lagi tapi hasilnya tak berubah.

__ADS_1


Tak perlu berharap di beri perhatian, dilirik saja tidak. Seolah-olah Victon tidak berharga saat ini.


Valerie pun menyumbat telinganya dengan earpod menandakan jika tidak bisa di ganggu lagi. Jadi, terpaksalah Victon menyerah kali ini.


Hahhh.....


Suasana itu tak luput dari perhatian Zoeya yang kini terkekeh di sana.


Valerie memejam dan mendengarkan dengan seksama suara di balik earpodnya. Bukan sebuah lagu, melainkan rekaman penting yang Valerie dapatkan dari seseorang.


Seseorang mengirim sebuah rekaman dengan alamat tak di ketahui masuk ke email-nya. Di awal biasa-biasa saja sebelum masuk pada beberapa kata yang membuat telinga Valerie berdenging seketika.


".......semua keputusan ada padamu Eve. Nyawa anakmu ada di tanganku, kecuali jika kamu mau mengorbankan diri maka aku bisa menjaminnya." Ucap seorang pria.


"Kalian semua biadab!! Aku bersumpah akan membalasnya!! tidak ada yang bisa melukai Valerie bahkan seujung rambut pun!!" Pekik Eveline.


"Banyak bicara kau!!!!"


"Aaaaaaarrrrggghhhhh!! kalian seharusnya mendekam di neraka!!!! Aaaaaaaarrhhhhhh......"


Hahhhh..!!


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2