My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 60 Raymond atau Victon


__ADS_3

"Aaaaaaarrrrggghhhhh!! kalian seharusnya mendekam di neraka!!!! Aaaaaaaarrhhhhhh......"


Hahhhh..!!


Seketika Valerie membuka mata bersamaan dengan tubuhnya yang kini terduduk tegap. Secepat mungkin dia melepas earpod itu dari telinganya di ikuti dentuman di dadanya yang amat cepat.


Tangan Valerie bergetar hebat serta tatapan matanya yang tak tentu arah. Hah...hah.... sesak sekali rasanya, pasokan udara seolah-olah menipis membuat Valerie meremas area itu. Benda kecil tadi masih dia genggam, namun Valerie tidak sanggup untuk mendengarkan lebih jauh lagi.


Valerie tahu, suara wanita yang amat familiar itu terdengar jelas di telinganya. Namun, siapakah gerangan pria dalam rekaman tadi? Valerie menerka jika sosok itu pasti ada hubungannya dengan kematian sosok wanita paling berharga dalam hidupnya.


greb...


Dalam keadaan setengah sadar, seseorang menepuk pundaknya membuat Valerie tersentak. "Val?" Tanya Victon. "Kita baru aja lepas landas. Pusing atau kenapa?" Valerie menatap manik indah milik pria itu dan kembali mengatur napasnya yang sedikit berat.


"Kak Val kenapa? "Zoeya ikut-ikutan bertanya karena wajah sang kakak ipar sudah memucat.


Valerie bingung dan diam membisu. Entah sebab apa, dia berdiri kemudian beringsut mundur seraya menjauhi dua orang di hadapannya. Anehnya lagi, dia merasa takut akan sesuatu sehingga kakinya semakin melangkah mundur, di saat Victon berusaha meraihnya.


"Bahaya. Ayo duduk lagi, jangan berdiri." Ucap Victon.


Dia juga sama bingungnya kala Valerie menggeleng dan menepis tangannya terus-menerus. "Dia kenapa lagi?" Victon berkerut.


"A...aku nggak papa, jangan sentuh."


"Nggak mau ku sentuh, hm?"


"Aku nggak tau!! pokoknya jangan deket-deket." Suaranya sedikit lantang dan Valerie berhasil membuat kakak beradik itu saling menatap heran.


.


.


.

__ADS_1


.


Beberapa jam kemudian....


Victon mengharapkan sesuatu yang tak mungkin. Di kiranya keanehan Valerie tak akan bertahan lama dan ternyata ramalannya itu salah.


Sepanjang jalan, mulai dari turun dari jet hingga berada di perjalanan pulang, Valerie lebih memilih pada sepasang benda hitam yang terpasang di telinganya. Seperti yang tidak di harapkan, Victon bukanlah pemenang dari segalanya saat sang istri lebih memilih hal lain dari pada dirinya.


"Val??."


" Diam dulu!! aku kelewatan sesuatu yang penting!" Ucap Valerie seraya kembali menajamkan pendengarannya pada sepasang earpodnya.


"Apa lebih penting dari aku?" Tanya Victon yang sama sekali tidak peduli dengan ketertarikan Valerie. Intinya, dia kesal sekali di abaikan seperti ini.


"iya."


Secepat itu menjawabnya? Victon kini mendekatkan telinganya untuk mencuri dengar. "Ck, apa sih?" Ketus Valerie.


"Siap boss!!" Jawab Aldi yang membuat Zoeya memutar bola matanya malas.


Wajah Valerie yang semula datar kini menjadi kian serius. Sesekali dia menekan benda kecil lebih dalam. "Aku kenal suaranya, siapa ya?" Gumam Valerie. Sejak tadi ia tak peduli kala tubuhnya sudah berada di pangkuan Victon.


"Hei, liat aku dulu say......emmphhh."


"Sssttt. " Terlampau gemas, Valerie pun membekap mulut Victon. Menjengkelkan, agaknya Victon sengaja memanas-manasi dua manusia di depannya. Makanya, selain tangannya jahil, mulutnya juga begitu aktif.


Bukan sebuah tindakan melainkan ocehan-ocehan yang sangat tidak menguntungkan menurut Zoeya. Aldi saja di buat heran kala bossnya tiba-tiba menjelma menjadi pasukan burung bercicit.


"Ray?" Ucap Valerie dengan spontan.


"Ray siapa? bisa-bisanya mikirin pria lain ,heh? lihat aku!!" Victon mengakui jika dia cemburu saat mulut Valerie mengucapkan nama itu. Sedikit tahu saja jika pria bernama Ray itu pernah menjadi bunga yang mekar di hati Valerie, meski posisinya sekarang sudah di gantikan oleh Victon tentunya.


"Ck, berisik ih!! mulut kamu kayak tante-tante." Tak kalah tajam mulutnya itu, tatapan Valerie juga sudah setajam itu. Namun bukannya berhenti, Victon malah semakin mencari perkara.

__ADS_1


"Kasih aku hadiah dulu makanya, baru aku diem."


"Males."


"Makin imut aja kalo dia kesal." Victon tak kuasa untuk diam saja. Melihat Valerie kembali sibuk, Victon pun menarik dagu istrinya kemudian ia membuka bibir seksoy itu. Victon memajukan wajahnya semakin dekat dan dekat lagi.Herannya, Valerie tidak terusik sama sekali.


Sambil tersenyum licik, Victon pun menjilat bibir ranum itu perlahan membuatnya sedikit lembab. Semua lancar saja hingga ia memasukkan indra perasanya ke dalam sana.


Valerie masih tak berkutik kala Victon me*lum**at dan kembali mengitari bentuk sempurna dari bibirnya. Tak tanggung-tanggung pria itu bahkan mengulumnya seperti permen lollipop yang rasanya manis jika semakin di nikmati.


cup..


Meski begitu, Valerie bisa fokus sekali mendengarkan suara di dalam rekaman itu tanpa peduli bibirnya habis di makan oleh Victon.


"emmmpp......tunggu ini." gumam Valerie sejenak menepuk wajah Victon agar menjauh.


"Ck, Ray sialan." Gerutu Victon sebelum kembali memagut benda lembut nan kenyal itu hingga Valerie kesulitan bernapas.


"Eeeuungggg........ada Aldi sama Zoe."


"Biarin!! mereka udah dewasa kok." Singkat Victon.


Kedua orang itu menoleh. "Sial**an/ Kurang asem!!" Umpat Aldi dan Zoeya dalam hati.


Pertunjukan live di jok belakang itu terjadi selama perjalanan pulang dan benar-benar mengabaikan para saksi yang ada. Jika saja Valerie tidak menahan, mungkin Victon bisa bertindak lebih dari itu, memang maniak.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2