My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 14 Bom Waktu!!


__ADS_3

“Val, kenapa? pekerjaanmu ada masalah?” tanya Rara yang begitu cemas melihat raut wajah Valerie.


“No! Semua baik-baik aja kok. Btw, aku kangen. Jalan yuk, kemana gitu.” Bohong sekali, Rara tahu jika Valerie tengah bersedih. Ia tidak sebodoh itu, meski Valerie selalu berusaha menyembunyikan semua masalahnya.


ciwi-ciwi🤭



“Cerita aja Val, aku siap menjadi pendengar dan memberi solusi kalau di perlukan.”


“Kenapa? Apa kak Victon bikin susah kamu lagi?” Tanya Rara lagi karena Valerie masih setia membisu.


”Bukan itu…” Valerie ragu. Padahal sebelumnya ia selalu mengeluh dengan Rara karena sikap menyebalkan pria itu. Tapi jika ia jujur sekarang, yang ada malah malu sendiri. Galau karena Victon yang begitu cuek padanya? Sangat tidak lucu jika ia mengatakan hal konyol itu pada Rara.


“Jangan bilang kalau udah jatuh cinta sama dia?”


“Siapa? Aku? Hahahahahah!! Nggak lah ngaco.” Elak Valerie dengan tawanya yang amat canggung hingga membuat Rara berwajah datar.


“Iya, nggak salah! Udah ngaku aja.” Goda Rara kemudian.


“Apa sih ih!!”

__ADS_1


Pembicaraan unfaedah itu pun berlalu hingga tanpa sadar jika Valerie harus segera mengakhirinya. "Udah dulu ya. Jam istirahatku habis nih, dadah..."


pip....


Buru-buru Valerie menenggak jus alpukat nya yang masih setengah itu kemudian beranjak pergi.


GEDABRUKKK…


“Huh…nyebelin!! Aku kenapa sih?”


Valerie mengasihani dirinya sendiri yang begitu ceroboh. Di saat terakhir pun masih sempat jus yang di minumnya tadi tumpah di lantai. Hasilnya ia jadi terpeleset dan kini terduduk malu di sana. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi malunya itu hingga ke ubun-ubun karena beberapa orang menertawakannya bukannya membantu.


“Val, Kamu ngapain? Kok malah tiduran di lantai?” Tanya Ema yang kebetulan melintas. “Udah tahu jatuh, pake nanya!” Ketus Valerie. Kesal sekali dengan Ema yang tidak peka, bukannya membantu tapi malah hanya melihat.


Segera ia melenggang pergi dari hiruk pikuk suasana kantin siang itu, sebelum akhirnya ia mendengar sebuah pengumuman darurat. “Perhatian kepada seluruh karyawan. Peringatan bahaya!! Tolong tinggalkan pekerjaan kalian dan segera keluar dari gedung ini secepatnya!! Saya ulangi…..”


Sontak saja semua orang menjadi panik dan langsung berlarian . Ruang gerak Valerie jadi terbatas, namun ia harus cepat. “Kok bisa ada penyusup sih?” Tanya Valerie pada seseorang melalui earpiece di telinganya.


“Nggak ada waktu!! Cepat bawa pak Victon keluar, takutnya mereka membawa bom. Aku harus mengamankan keadaan.”


“Dia bilang mereka?” Jika begitu, maka penyusup itu tidak hanya satu orang saja. Valerie secepat mungkin berlari melewati orang-orang yang sama paniknya. “Jangan gunakan lift, lewat sini!!” Ucap Valerie kepada beberapa karyawan seraya menunjuk pintu tangga darurat.

__ADS_1


Sementara orang turun, sedangkan Valerie naik ke atas karena kantor Victon ada di lantai paling atas. Belum apa-apa ia sudah selelah itu karena beberapa menit menaiki anak tangga yang seakan tiada habisnya. Sampai di pertengahan, Valerie berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.


“hah…kenapa tinggi banget hah…hah.” Valerie pun melanjutkan langkahnya lagi. Tanpa ia tahu jika Victon sudah berada di loby lantai satu, pria itu mengira jika Valerie sudah keluar begitu mendapatkan pengumuman darurat tadi.


Victon tidak memberitahu apapun kepada gadis itu karena dalam mode ngambek alias marah. Rupanya tindakannya itu salah. “Dimana Valerie?” tanya Victon seraya menatap Aldi dan Antony. Namun, mereka malah saling pandang dengan tatapan bingung. Toni juga heran, kenapa Victon turun tanpa Valerie yang selalu di sampingnya.


“Tadi dia menyusul anda, pak. Kami kira anda masih di kantor.” Ucap Ema ragu.


“Jadi maksudmu, dia masih di dalam sana?!!” Nada Victon sudah meninggi lengkap dengan wajah marahnya membuat Toni beringsut mundur. Panik pun menyelimuti, dengan cepat Victon berlari masuk lagi di ikuti oleh Aldi dan beberapa pengawalnya.


Jika benar perkataan Maxton tadi bahwa penyusup itu membawa senjata berbahaya, maka lagi-lagi Valerie dalam bahaya saat ini. Meski covernya adalah wanita tangguh, namun jika di hadapkan bom, siapapun tak bisa melawan.


Paniknya Victon pun berimbas pada Aldi yang sangat lambat larinya menurut Victon sendiri. Padahal tidak sebenarnya, langkahnya saja yang memang panjang. Sedangkan Aldi bukanlah pria yang di anugerahi kaki panjang hingga ia begitu kesulitan mengimbangi langkah bossnya itu.


note: Maxton adalah kaki tangan kanan Jordan.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2