
Senja itu, di halaman luas belakang rumah......
ceklek....
dor!
Tepat sasaran! Valerie tersenyum sinis kala pelurunya tepat sasaran. Lupakan tragedi ciki meletus tadi. Ia kini tengah fokus dengan buah jambu air di atas pohon itu.
Beberapa tembakan kemudian membuat buah itu berjatuhan secara beruntun. Warna merah mengkilat yang amat menggoda lidahnya. Entah bagaimana, Valerie juga memiliki pistol panjang di tangan serta sorot matanya begitu fokus membidik sasaran.
dor....dor....dor....!
ceklek....
dor!
Valerie meniup ujung pistolnya seolah asap keluar dari benda itu.
"Jadi, ceritanya kamu ngambek cuma gara-gara ciki? hahaha" Ucap seseorang di seberang sana. Valerie pun semakin menekan lebih dalam earpod di telinganya.
"Aku butuh di hibur, bukan di ejek. Jangan ketawa Ra, kamu dulu lebih-lebih."
"Ayolah Val, ngidam tuh yang elit dikit. Daging gajah atau ikan paus gitu. lah ini.....ciki?"
"Kayak sendirinya nggak aneh aja. Dulu, brewok suamiku di jadiin sasaran." Valerie teringat ketika Jordan di buat uring-uringan sebab istrinya ngidam jambang kenikmatan milik Victon.
"Dulu, kan tuh bocah udah keluar. lihat aja, sekarang Cheryl lebih nempel sama kak Victon ketimbang papanya. Eh...eh! Siapa tau kan kita bisa jadi besan."
Valerie pun menurunkan tangannya yang hendak membidik saat mendengar usulan Rara yang di luar nalar.
"Masih terlalu awal Ra. Babyku aja baru segede biji kacang."
__ADS_1
"Ga ada salahnya berdoa hehe......."
"hah? iya sebentar sayang! Udah dulu ya Val."
"Iya nan....."
pip... belum selesai bicara panggilan itu sudah di putus sepihak. "Ck, kebiasaan!!" Gerutu Valerie.
Dor!!
dugh...
"Yes!!" Valerie berlari menghampiri buah yang cukup bagus itu. fyuuuuuhhh.... belum lima menit! ia pun meniup bagian kotornya kemudian menggigit jambu itu segera.
kraukkk....
"Emmmm manis." Ucap Valerie menyeringai seraya mengunyah jambu itu.
Matanya pun kembali menyipit. Namun, saat hendak menarik pelatuk, tiba-tiba seseorang merebut senjata itu secepat kilat.
deg..
Sontak saja Valerie menciut. Bahkan ia juga tak berani menatap mata tajam suaminya. Sungguh, tatapan Victon sangat menakutkan jika dalam mode marah "Kayaknya dia marah." pikir Valerie.
"Jawab!! jangan bikin aku marah Val. Buat apa pegang benda kayak gini? Kamu istri aku, bukan lagi pengawalku!!"
Kini Victon semarah itu tanpa di rekayasa. Ia tak habis pikir dengan sikap Valerie yang sesuka hati, tanpa berpikir bagaimana resiko bermain dengan senjata api.
Di ikuti suara hewan di senja itu saling bersahutan bak paduan musik. Perlahan, Valerie pun menatap wajah Victon yang di terpa secercah cahaya jingga dan angin yang membuat dedaunan ikut beterbangan.
Alih-alih membujuk, Valerie malah memamerkan deretan giginya. "Sial!! bisa-bisanya dia imut banget." Rutuk Victon dalam hati seraya mengusap wajahnya.
__ADS_1
hauppphh...
Dengan sedikit dorongan, Valerie pun melompat kemudian nemplok seperti kungkang di tubuh kekar Victon. "Valerie!!" Hardik pria itu ketar-ketir. Untung saja tubuhnya kuat, jika tidak mungkin saja mereka bisa jatuh.
Sambil mengeratkan tangan dan kakinya, Valerie bertahan dalam posisi rumit itu. Sementara Victon yang peka, langsung saja menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuh sang istri.
"Sayang, itu semua keinginan baby kita. Jangan marah ya? maaf ..." bujuk Valerie. Seperti saran sahabatnya, jika mengatasnamakan baby pasti suaminya bisa luluh.
Sialnya, Victon bukanlah Jordan. Watak mereka sudah jelas berbeda dan tidak semudah itu Ferguso!!. Valerie kembali menatap sepasang mata indah di depannya. Perpaduan warna hijau, oranye, dan emas menciptakan warna indah pada iris mata Victon.
Valerie terpesona. Tubuhnya menginginkan sesuatu, seperti dorongan hormon yang begitu kuat. Secepat itu bagian salah satu bagian tubuhnya bertindak tanpa persetujuan isi kepalanya.
"i love you.......so much." Valerie membiarkan bibirnya bersentuhan dengan sedikit bulu-bulu pada sepasang mata indah itu.
Bergantian dan tidak berhenti. Keinginan Valerie semakin bertambah hingga tak sadar hal itu membuat empunya geli-geli enak. "Di sini baru bener..." Ucap Victon gemas seraya menunjuk bibirnya.
"Matamu indah. Aku lagi mengaguminya " Sekedar basa-basi? Mungkin iya atau juga tidak. Tidak perlu di tanya lagi karena baik Valerie maupun Victon sama-sama memahami.
Sebab terlalu indah dari sekedar kata......
"Jangan senyum, ini kayak gula yang menarik banyak semut." Ujar Valerie.
"Cuma buat kamu kok."
Begitulah akhirnya. Bukan pertengkaran sebenarnya, hanya sedikit perbedaan kata-kata dan kini berakhir sangat manis. Keduanya bercumbu mesra di balik cahaya jingga kemudian membentuk siluet yang sempurna.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-