
“Val?”
“hmm.”
"Aku udah jujur tentang perasaanku. Valerie, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?” Yes, akhirnya Victon bisa mengatakannya. Rasanya lega, mekipun tidak menghilangkan kegugupannya karena ia harus menunggu jawaban dari Valerie.
“Aku nggak bisa.”
JDERRRR…
“A…apa?” Demi apapun Victon bak di sambar petir mendengar jawaban itu. Apa dia gagal? Victon merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Selama beberapa waktu yang mereka lalui, Victon sudah berusaha untuk mengungkapkan betapa tulus dan seriusnya dia. Namun kenapa hasilnya begini?.
Terlampau terkejut, Victon pun melonggarkan tangannya yang sejak tadi menggenggam tangan Valerie.
“Kenapa? Apa aku kurang berusaha? Salahku dimana lagi kali ini?.” Rentetan pertanyaan itu sejenak membuat Valerie tak bisa menahan tawa. Apalagi wajah paniknya itu, lucu sekali.
“Kamu lihat lampu neon di sana.” Tunjuk Valerie ke arah lampu gantung penghias tempat itu.
“Dia menanti dengan sabar hanya demi malam hari, tapi dia paling bersinar di sini. Aku nggak suka konsep waktunya, tapi aku mau jadi seperti cahaya itu. Apa aku bisa?” Valerie tak henti menatap Victon yang nampak bingung di sana.
Tanpa aba-aba, Victon pun beranjak dari duduknya kemudian dengan cepat menarik gadis itu dalam pelukannya. Mereka bertahan di posisi seperti itu hingga waktu yang cukup lama dan saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Jadilah seperti cahaya itu di hatiku. I choose you. And I’ll choose you over and over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat, I’ll keep choosing you."
(Aku memilihmu. Dan aku akan memilihmu lagi, lagi dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam sekejap, aku akan terus memilihmu.)
Usai dengan rangkaian kata tadi, Victon pun mencium kening Valerie begitu lamanya. Tidak ada nafsu, dia murni melimpahkan kasih sayangnya di sana. “Believe me, I love you….so much.” Kata terakhir dari Victon membuat Valerie tak mampu menahan genangan di pelupuk matanya.
__ADS_1
deg...deg....deg...
Jantung Valerie berpacu sangat cepat, “I know, i love you too and I’ll never regret it.” Ucap Valerie dengan lirih. Cinta datang begitu saja, dan siapa sangka jika tempat terakhirnya berlabuh adalah pria kutub selatan seperti Victon.
Valerie mungkin sempat ingin menyerah akan kisah percintaannya. Tidak ada kata gagal jika belum mencoba. Valerie sudah membuang jauh sisa rasa yang terselip di hatinya. Di sayangi, di cintai dan bahagia bersama orang yang begitu tulus, dia berharap bisa mendapatkan semuanya jika bersama Victon.
“Maaf dan makasih.” Ucap Valerie pelan.
“Sssstt, jangan menangis.” Cup… Victon melabuhkan kecupannya di sepasang mata sang kekasih. Berkali-kali seperti halnya penagih hutang. Namun kali ini dia menjadi penagih cinta seorang Valerie, cinta yang cukup rumit.
.
.
.
6.30 AM…
Selesai dengan jogging paginya, Valerie pun segera bersiap-siap karena hari ini ia akan berangkat kerja. Meski statusnya kini kekasihnya boss, dia tidak akan terlena akan hal itu.
Namun, entah kenapa rasanya berbeda sekali. Sejak masih di rumah hingga di dalam mobil, Victon seperti tak ingin lepas barang sebentar saja. “Apa kita nggak berangkat terpisah aja? bahaya kalau orang kantor tau.” Valerie sudah resah, tapi tidak untuk Victon. Pria itu masih begitu menikmati punggung tangan Valerie tanpa peduli ucapannya.
“Pak….eh, s..sayang. Gimana kalau semua karyawan tau?” Kaku sekali, lidah Valerie memang belum terbiasa dengan panggilan itu. “Yes honey? Nggak usah di pikirin, nggak akan ada yang berani menggunjingku.” Senyuman Victon itu malah membuat Valerie kesal.
Jelas saja santai sekali. Victon tidak tahu bagaimana posisi Valerie jika sampai rekannya tahu hubungan mereka. ‘Berangkat ke kantor bersama boss’ mungkin sebentar lagi itu menjadi hot news di tempatnya bekerja.
Sampai di parkiran….
__ADS_1
cciitttt!!
“Aku keluar dulu!! Kamu nanti nyusul setelah 5 menit.” Titah Valerie tidak mau tahu. “Eeeeeeeehhh sun paginya mana?” Ucap Victon seraya memajukan bibirnya beberapa senti membuat Valerie memiliki ide jahil kemudian.
“Muuuuaacccchhhh….” Valerie mengecup telapak tangannya kemudian ia pindahkan ke bibir tebal Victon yang sudah maju itu. Tampaknya, Valerie ingin membuat bossnya kesal pagi ini, dan itu berhasil.
“Awas kamu Val!!” Hardik Victon seraya mengamati punggung gadis itu yang kian menjauh.
...📎📎📎📎...
Seperti biasa, para pengawal akan melakukan briefing pagi sebelum menuju ke posisi masing-masing. Ting… pintu lift terbuka dan saat itu pula seseorang masuk.
Deg…
“Ray?” Valerie terkejut hingga ia pun memundurkan langkahnya. Pemandangan yang amat sangat tidak ingin dia lihat. Mustahil jika Valerie bisa bertemu kembali dengan pria yang pernah singgah sekaligus mengoyak hatinya hingga berkeping-keping itu.
Betapa bencinya Valerie melihat wajah itu lagi, ia tidak berkeinginan untuk membuat moodnya hancur pagi ini. Sayangnya, pria yang kerap di panggil Ray ini berhasil membuat Valerie terlihat buruk.
Meskipun sempat bertemu pandang dengan pria berkacamata itu. Namun, dengan cepat Valerie memalingkan wajah. Beruntungnya, di dalam lift cukup banyak orang. Jadi, itu memungkinkan baginya untuk bersembunyi.
“Bad day.”
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-