
Kamu udah resmi menjadi kekasihku.....
udah resmi menjadi kekasihku.....
menjadi kekasihku...
kekasihku......
AAAAAAAAAAAAAKHHHHHHH!!
Blushhhh...
Valerie membenamkan wajahnya di bantal seraya memekik sekuat mungkin. Kalimat itu tergiang-ngiang kembali di kepalanya. Demi apapun, membayangkannya saja tak mampu lagi. Sejak kapan pria kanebo kering itu mahir sekali dalam menggoda? Valerie di buat tak percaya.
Baru sehari saja seperti ini, bagaimana jika ke depannya terus bersama?. Wajah memerah itu tampak sangat nyata memenuhi seluruh permukaannya. Senang, tentu saja. Tidak bisa di pungkiri jika Valerie bahagia sekali karenanya.
"Kekasih katanya?" Ucap Valerie gemas sendiri seraya menggerakkan kakinya tak menentu. Jari telunjuknya kini saling bertaut dan dia tersenyum malu menatap langit-langit kamar yang di tempatinya itu.
Kok seperti dejavu? Valerie seolah-olah menelan ludahnya sendiri akibat ucapan sembrononya di masa lampau. Dia kembali teringat saat mengatakan kalimat 'jangan pernah percaya sama yang namanya laki-laki. mereka makhluk berbisa dan sangat berbahaya'.
Itu pada kalanya saat ia menyerah dengan yang namanya cinta. Saat itu ia sempat meracuni pikiran Rara, dan percaya jika hidup tanpa pria pun ia tak masalah. Sombong sekali memang, Valerie jadi menyesali tuturan katanya sendiri.
Ting.....
Dengan cepat Valerie meraih ponselnya. Sontak saja senyum sumringah itu muncul begitu saja saat membaca isi pesan teks tersebut.
Jangan tidur malam-malam ♥️ -Victon
__ADS_1
"Hati-hati sayang....eh nggak-nggak. jangan..."
"Honey? ih lebay banget."
"Lah? salah kirim mamp*s." Valerie membelalak kala ia mengirim teks awal yang ia ketik. Sudah terlanjur di baca dan tidak bisa di tarik kembali. Kini Valerie hanya menunggu bagaimana tanggapan Victon.
Omg. Tolong jantung di kondisikan, jangan meledak sebelum waktunya. Valerie semakin di buat salah tingkah lagi. Hingga beberapa saat ia masih memandangi isi pesan itu, "Love you too." Ucapnya dalam hati. Tidak malunya, Valerie bahkan mengecupi layar menyala itu seperti orang kurang waras. Maklum lah, virus bucin baru di mulai.
.
.
.
Seseorang tengah tersenyum pula akibat ulah sang penakluk hati. Ya, siapa lagi kalau bukan Victon. Di tengah suasana yang serius dan menegangkan, bisa-bisanya pria itu cengar-cengir tidak jelas membuat Jordan geram sekali karenanya.
"Lo mau begitu sampe pagi? Mending gue balik lah Vic, lebih enak kelonan sama anak-istri daripada di sini nemenin bujang lapuk." Sarkas sekali ucapan Jordan hingga raut wajah Victon berubah seketika. Tidak bisa sedikit saja sahabatnya itu membiarkan Victon senang barang sedetik saja.
Dia juga pernah jatuh cinta, lantas kenapa sikapnya menyebalkan sekali. "Belum pernah di granat mulut lo Jo? sekali-sekali kayaknya perlu biar ...."
"Sssttt.... dia datang." Jordan segera menyela karena situasi tidak memungkinkan meneruskan perdebatan unfaedah itu. Dua pria itu tengah berada di sebuah markas tersembunyi, yang infonya adalah si pembuat onar yang telah menghancurkan gedung perusahaan Victon.
Bisa saja dia menyuruh anak buahnya. Tapi sayangnya, keadaan ini memerlukan Victon untuk turun tangan sendiri. "Marqus, gue yakin dia di sini." Ucap Victon serius.
"Apa ? tikus?" Serius, Jordan tidak bisa mendengar ucapan Victon dengan jelas karena telinganya tersumbat oleh earpod. "Marqus tol*ol!! Kuping Lo di mana sih Jo?"
__ADS_1
"Di sini. ini dua-duanya." Yang benar saja, Victon tidak sebodoh itu. Namun, Jordan yang kini terkekeh semakin membuatnya meremang. Di lihatnya kembali seorang pria paruh baya yang kemudian keluar bersama dengan seorang pria yang tampak lebih muda.
Identitas yang satunya belum di ketahui. Namun, melihat kaca mata tebal yang bertengger di kedua mata si pria muda, Victon berpikir jika Marqus tengah memanfaatkannya demi sebuah tujuan.
"Lo lihat! Dia pasti jenius, keliatan dari kaca matanya yang tebel." Ucap Jordan. Kemampuan murni dalam tubuhnya memungkinkan ia bisa melihat dengan jelas benda apa saja meski jaraknya sejauh apapun.
"Mana gue tahu kalo kaca matanya tebel. Gelap begini." Sergah Victon seraya mengamati dari dalam kaca mobilnya.
"Mata lo sliwerrrr berarti."
"Lo yang ga normal, Bangs**t!!" Ketus Victon lagi.
"Menurut penelitian gue orang jenius itu rajin belajar, keliatan dari kaca mata tebelnya itu."
"Gue juga jenius, buktinya kaca mata gue biasa aja." Ucap Victon seraya melepas kaca mata hitamnya. Sebenarnya penting sekali pembicaraan ini. Sudah kemana-mana hingga perihal kaca mata saja di permasalahkan.
Hingga pada saat mobil hitam itu pergi, dua pria itu masih berdebat. "Kejar Vic, buru!!" Ucap Jordan seraya menepuk pundak Victon kala mobil target sudah melenggang entah kemana.
.
.
.
-To Be Continued-
😁😁😁😁😁😁😁
__ADS_1