
Mengemban tugas sebagai suami sekaligus pemimpin sebuah perusahaan besar layaknya yang di percayakan sang papa, membuat beban di pundak Victon semakin berat tentunya.
Tidak selamanya di atas, ungkapan itu lebih tepat bagi Victon kali ini. Karena semenjak menikah tahta tertinggi setelah mama Nindi kini di pegang oleh Valerie. Bukan berarti Victon di tindas, nyatanya sikap posesif istrinya semakin menjadi. Victon sedikit tak percaya, karena sebelum menikah Valerie begitu cuek bebek.
"Cih, beraninya mereka!! langkahi dulu mayatku kalo berani!" Ucap Valerie yang kesal seraya menggulung lengan bajunya menatap hilangnya para pengganggu tadi. Setelah pergulatan singkat yang cukup membuat Victon pusing kepala, akhirnya ruangan itu kembali sunyi lagi.
Tidak di sangka saja jika banyak sekali para wanita ganjen yang memiliki nyali besar mendekati hingga sarangnya. Sebagai pemilik hati yang sesungguhnya, tentu saja Valerie tak bisa diam saja.
"Udah hon, aku masih ada kerjaan. Kamu mau pulang atau nungguin sampai selesai?"
"Kamu ngusir aku?!" tuduh Valerie.
"Siapa yang ngusir? kan aku tanya... sayangku my darling, hm?"
huekkkk!!
Serasa ingin muntah, atau Valerie baru sadar jika suaminya terkadang lebay sekali. Padahal itu permintaan Valerie yang menginginkan 'di istimewakan' beberapa saat lalu. Rasanya, dia menyesal mengutarakan permintaan yang sedikit menggelikan itu.
"Ck udah ah, aku mau pulang. Nanti jangan malam-malam ya pulangnya." Valerie pun mengecup sekilas pipi suaminya dengan manis seakan tidak terjadi apa-apa beberapa saat lalu.
"emmm.......jangan lupa nanti malam ikut aku ya."
Victon yang terbiasa dengan perubahan sikap Valerie yang secepat kilat, sudah tak terkejut kala Valerie mengangguk dengan patuh.
Meski belum bisa mengumbar status sah mereka, tapi Victon berusaha mengantar Valerie sampai ambang pintu. Tentu tidak ada yang curiga, karena semua orang tahu jika sebelumnya Valerie selalu berada di sisi Victon sebagai pengawal pribadi.
My Possessive bodyguard! pikir Victon terkekeh sendiri seraya memandangi langkah Valerie yang kian menghilang. Baru saja hatinya merasakan kehangatan akan kehadiran sang penguasa hati, secepat itu berubah saat seseorang membuyarkan lamunan pria itu.
"Ck, kau seperti jailangkung saja Al. Mengganggu!!"
"Ini ada hal penting dari pak Jordan, tolong di cek boss."
__ADS_1
hahh......
Dengan seksama Victon menerima panggilan itu. "Apa!!" Galak sekali. Memang berbanding terbalik 180 derajat jika Victon berbicara dengan sohib super tengilnya itu.
" buset ...sans man! kurang asupan apa gimana? Gue cuma mau kasih tahu, kemungkinan cara yang sama bakalan di lakuin ke istri lo."
"Maksud lo, mereka bakal pake cara sama kayak pas membunuh Eveline, eh.. maksudnya mama mertua gue?"
"Yup, gue kira lo nggak akan setuju sama rencana ini Vic."
Jordan tak percaya jika Victon rela mengambil resiko paling berbahaya. Karena jika Jordan yang di posisi itu, dia tidak mungkin mau menjadikan orang paling berharga menjadi umpan.
Tiba-tiba Victon berkeringat dingin. "Dia nggak tau dan jujur aja gue cemas banget sama rencana gila kalian."
"Ralat .Kita .....bukan kalian. Gue kan cuma bantu."
"iya, i know that."
"Kamp*ret"
Salah duga Victon menilai jika Jordan sekali saja tidak membuat darahnya mendidih. Dia kembali di ingatkan kala tengah malam di mintai tolong mencari soto Bogor yang penjualnya harus memiliki brewok, hanya demi memenuhi keinginan ibu hamil yang tak lain istri sahabatnya itu.
.
.
.
.
19.00, di rumah..
__ADS_1
Baru keluar dari mobil, seseorang membuat hari Victon yang panjang dan melelahkan menjadi sirna begitu saja. Siapa lagi kalau bukan senyum lebar sang istri yang menyambut Victon di teras depan rumah.
"heunggg." Valerie merentangkan tangannya lengkap dengan ekspresi yang sengaja di buat imut atau memang imut dari sananya. Yang jelas, jantung Victon terasa meloncat-loncat saat ini.
"Kok belum siap-siap? kita berangkat jam 8 loh."
" Aku udah mandi, paling tinggal tancap-tancap sedikit." Valerie mengeratkan pelukannya selagi menikmati sesuatu yang cukup lama mendarat di keningnya.
Agaknya, wanita seperti Valerie ini hanya satu di antara seribu. Caranya sungguh tak biasa. Bahkan jika pada umumnya, wanita biasanya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merias diri namun hal itu tidak berlaku untuk Valerie.
Pada dasarnya bawaan lahir atau bagaimana, sehingga apapun yang melekat walau sesederhana apapun pasti terlihat indah di tubuh Valerie.
Beberapa menit kemudian....
"Udah siap! Aku cantik kan?"
"Always." jawab Victon yang juga siap dengan balutan pakaian mewahnya. "Aku jadi nggak rela mau bawa keluar, kamu terlalu indah buat di umbar." Bisik Victon seraya menyelipkan anak rambut Valerie yang terpisah dari kelompoknya.
"Ck, jangan!! emang begini style-nya, kamu merusak aja." Oh, salah rupanya. Victon tidak tahu jika beberapa helai rambut tadi sengaja di buat seperti itu.
imutnya kalo lagi kesel ☺️☺️
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1