
Greb...
“Anda jangan melewati batas!” Ucap Valerie yang secepat mungkin menepis tangan Sonya yang menjijikkan itu. Sudah tentu Valerie kebakaran jenggot. Bukan alih-alih melindungi boss, ia tidak bisa menutupi hatinya yang sudah berapi-api.
“Beraninya kau?” Hardik Sonya kepada Valerie yang menatapnya tajam.
“Apa anda bisa menjawab pertanyaan saya pak Victon?” tanyanya lagi tanpa mempedulikan Valerie yang hendak melemparkan ultimatum. Tak segan-segan Sonya mendorong tubuh Valerie agar menjauh karena tujuannya belum tuntas.
“Belum.”
Victon menjawab dengan santainya dan tidak menyadari kala Valerie menatapnya kian tajam. Tidak ada yang salah ucapannya, memang Victon belum menikah. Tapi hal itu benar-benar mengundang gemuruh dan petir di hati Valerie yang melihatnya.
“Kalau begitu apa saya bisa di jadikan kandidat? Ini akan menguntungkan bagi HK group maupun perusahaan anda.” Sonya berkata dengan logat anehnya seraya menepis kasar tangan Valerie lagi. Dia memang sudah tergila-gila dengan Victon sejak lama. Itulah kenapa selain kerja sama, dia memiliki tujuan lain.
Victon masih diam. Dia ingin melihat, sampai mana Sonya akan bertingkah. Sialnya, wanita itu memang dasarnya penggoda kelas kakap. Victon tidak bisa memprediksi kala Sonya semakin mendekat kemudian menarik dasinya dan hendak menciumnya begitu saja.
Plak….
Tanpa aba-aba, Valerie pun memukul tangan Sonya hingga terhempas. Dia menarik kemudian mendorong Sonya hingga terpojok di sudut tembok. “Pak Victon alergi bersentuhan dengan wanita asing. Tolong jaga sikap, jika tidak ingin saya bertindak lebih.” Ancam Valerie tepat di telinga Sonya seraya menahan tangan wanita itu di atas kepala.
“K….kau!”
Victon masih bergeming di tempat melihat sifat bar-bar Valerie yang keluar. Jujur saja, ia menahan tawa sejak tadi. Bahkan saat kata ‘alergi wanita asing’ keluar dari mulut gadis itu, Victon benar-benar di buat tergelitik lucu.
“Tolong jaga sikap anda. Di luar pekerjaan, saya tidak akan membahasnya lagi. Silahkan keluar sekarang juga karena pintu sudah terbuka lebar!!.” Ucap Victon dengan nada dinginnya. Sonya yang sudah di buat tak berkutik oleh Valerie pun hanya bisa mengangguk pasrah.
“Cih, pahamu itu nggak bikin aku ngilerrr.” Cibir Valerie seraya membenarkan jasnya saat Sonya pergi dengan tergesa-gesa. Ini bukan pertama kali bagi Valerie, karena sebelumnya ia juga sudah menghempaskan para lebah ganjen seperti Keisha contohnya.
“Cemburu?”
Valerie tersentak kala tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. “Saya hanya melaksanakan tugas.” Ucap Valerie dengan wajah masamnya.
__ADS_1
“Saya hanya melaksanakan tugas.” Victon menirukan kalimat Valerie dengan nadanya yang mengejek. “Apa susahnya bilang ‘iya aku cemburu’ gitu. Sok jual mahal!!” Memang menggoda Valerie kini menjadi hobi baru Victon. Sangat mengasyikkan, apalagi bibirnya yang monyong itu membuat Victon ingin sekali memakannya.
Hauppphhh….
“Rasain!!.” Dengan jahilnya Victon meraup bibir candu itu hingga sang empunya semakin kesal.
"Emmmpp."
“Makan siang yuk, laper nih.” Ajak Victon seraya mengusap bibir Valerie yang basah kemudian terkekeh pelan.
“Lepas dulu!! Ini di kantor.!” Cubitan tangan Valerie mendarat di pinggang Victon kemudian mendorong dadanya agar menjauh. Tidak tahu apa kalau Valerie sedang dag-dig-dug serrrrr, memang meresahkan.
“Ah, iya lupa.”
.
.
.
Ting….
You have destroyed all mine and I”ll do the same. It’s worth it.
Sebuah pesan masuk hingga notifikasinya muncul jelas di layar Smartphone milik Victon. Pemilik wajah tegas itu pun di buat mengerutkan keningnya akibat pesan tak jelas tersebut.
“Ada apa pak?” tanya Aldi yang hendak membukakan pintu mobil.
“Tidak ada. Hari ini aku bersama Valerie, kau pulanglah naik taksi.” Titah Victon yang secepat itu masuk ke kursi kemudi. Tanpa peduli dengan sang asisten yang kini terpaku dengan wajah memelasnya.
"Loh, pak."
__ADS_1
Tok…tok….
“Apa lagi?!!” Ketus Victon seraya membuka jendela.
“Apa saya tidak boleh nebeng pak boss, lumayan irit ongkos.” Ucap Aldi dengan memelas. Ingin kesal tapi tidak mampu, karena kadang kala Victon memang setega itu padanya.
“Astaga. Ongkos taksi tidak mahal Al. Apa aku menggajimu sedikit? Jangan kayak orang susah deh, please.”
Heran sekali Victon dengan manusia seperti Aldi ini. Tidak jarang, Jordan juga kerap mengemis padanya, padahal harta pria itu tidak akan habis meski untuk menghidupi tujuh turunan sekalipun. Sekilas, Victon kembali teringat taruhan dengan sahabatnya yang membuat dompetnya terkuras cukup dalam.
Pada akhirnya, bujuk rayu itu tidak mempan dan Aldi pun pulang dengan bapak supir taksi. “Kamu jahat banget. Kasihan Aldi, ini kan udah malem.” Omel Valerie seraya mencubit lengan Victon hingga empunya meringis.
“Biarin aja, lagian dia tuh anak tongkrongan. Masa pulang malem aja takut.” Tongkrongan apa? Valerie tahu jika Victon tengah mengada-ada. Pria yang selalu diperbudak bossnya itu mana mungkin punya waktu senggang untuk nongkrong-nongkrong.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, mobil yang di tunggangi mereka pun sampai di rumah dengan selamat. Namun, Valerie kembali di kejutkan akan sesuatu di depan matanya. “Kamu serius?” Tanya Valerie seraya menatap Victon dengan berbinar.
“Iya. Sana samperin.”
Secepat kilat Valerie turun dari mobil, dan kini berlari menghampiri sosok yang amat di rindukannya. “Omaaaaaaaaa!!” Teriak Valerie seraya merentangkan tangan.
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-