
Tidak cucok meong, kalau belum berdebat terlebih dahulu. Siapa yang tidak gemas jika mobil pilihan Victon sedikit membuat iilfeel.
Covernya sih mobil mewah, tapi warna pink mencolok itu membuat Valerie tak mampu berkata-kata. Dengan dalih 'kan kamu suka pink, si pinky aja warnanya sama kan?' Valerie benar-benar di buat tertekan.
Ya Allah suamiku...
"Dasar wanita!!" Ketus Victon setelah mengakhiri cekcok unfaedah selama di perjalanan. Untung saja sang supir datang di waktu yang pas sebelum Valerie mengamuk-amuk.
tok..tok...
"Tuan sudah sampai!"
"Okay."
Meski kesal, Valerie tetap menerima uluran tangan dari Victon. Kali ini biarlah dia yang mengalah, pikirnya. Sembari cemberut pula, ia pun melangkah keluar mobil dengan etika anggun yang sudah di ajarkan beberapa jam sebelumnya. Ia tak terbiasa tapi terpaksa. Apalah daya dirinya saat ini, tak bisa berbuat sebebas dulu dengan status yang sedikit merepotkan.
WOWWW!!
Seketika wajahnya yang kusut itu berubah menjadi halus memandang gemerlapnya malam dan tempat pesta nan mewah di depan mata.
Kemana saja Valerie selama ini? Dia terkagum-kagum dengan tempat pesta yang bisa di bilang memang perkumpulan para orang kaya abad ini. Marganya sendiri termasuk kalangan bukan kaleng-kaleng, kendati demikian Valerie yang dulu selalu kabur jika di suruh menghadiri party membuatnya sedikit tak paham.
"Nggak salah aku dandan cantik." Seakan tertampar keadaan, Valerie sedikit bingung bagaimana cara bergaul dengan para sekumpulan orang-orang di sana nanti.
Beginikah rasanya berjalan di red karpet? di penuhi kilauan cahaya yang datang dari kamera maupun orang-orang yang bersinar dari penampilannya. Valerie mendongak, menatap wajah tampan suaminya dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
Ternyata segugup ini, ia pun mengeratkan tautan tangannya di lengan Victon. Bibirnya terasa mengering, padahal Valerie sudah cukup menggunakan pelembab.
"Cukup di sampingku dan tetap tersenyum. Kamu nggak perlu ngomong apapun, karena itu bagianku okay?" Bisik Victon dengan senyum tampannya dan di angguki Valerie.
"Duh, senyumnya bikin kelojotan!" batin Valerie kian berdebar.
Tiba di dalam ruangan, Valerie kembali di buat menganga. Sayangnya bukan karena kagum, melainkan heran. Sedikit sulit dikatakan jika hal ini adalah kebetulan, karena lagi-lagi dekorasinya di dominasi warna pink serupa.
Pilar-pilar yang meninggi serta di hiasi lampu bernuansa merah muda, layaknya pesta ulang tahun gadis remaja. Tak ada yang salah sebenarnya, memang Valerie saja yang repot sendiri.
Anggap aja beginiπ€
nyuttt...
" ah.... sakit sayang!!" Victon memekik tertahan kala cubitan itu mendarat di kacang polong miliknya.
"Jangan bilang dekorasinya.......?!" tanya Valerie seraya melotot.
"Mana aku tahu, kamu tanya sana sama tukang dekornya!! awwhhh!" Bukan main, dada Victon terasa panas ulah istrinya yang bar-bar sekali.
Waktu berlalu dan ruang pesta pun semakin penuh. Di saat itu pula Valerie mengerjap pelan untuk memastikan jika matanya salah. Oh sayangnya tidak, si mama menyebalkan itu benar ada di sini. Wajar untuk dia, tapi bagaimana dengan Ray? untuk apa dan sebagai apa pria itu? Valerie cukup penasaran.
"Aku mau ambil jus, kamu juga nggak?" Ucap Valerie pelan kepada Victon yang tengah asik berbincang dengan rekan bisnisnya.
" Yea, please."
__ADS_1
cup....tak lupa kecupan pipi itu mendarat pas. Memang begitu, biar terlihat amat romantis dan sebagai tanda jika Valerie milik Victon seorang. Anggap saja si raja cemburu kumat, karena beberapa sorot mata pria tampak mengagumi wajah ayu sang istri.
"Awasi dia!!"
Victon berbicara pada smartwatch di pergelangan tangannya dengan tatapan mengarah pada beberapa sosok orang yang sedang dalam penyamaran.
Kini Valerie dengan santai berjalan menuju meja dengan tumpukan piramida gelas berisi bermacam jenis minuman. Mulai dari alkohol maupun yang non alkohol.
tiba-tiba...
"Owh, halo anak mama yang cantik."
uhuk!
baru setengah tertelan, minuman itu seakan masuk ke lubang hidung akibat Valerie yang terkejut. Ia pun menoleh ke arah suara "Ck, bikin bad mood." gumam Valerie kemudian hendak berlalu.
Ia tak tertarik barang sedikit saja walaupun melihat Aurora menggandeng mesra Raymond. Persis seperti pasangan rubah licik, Valerie menggeleng-geleng saja.
"Ckck, siapa bilang boleh pergi? Mana sopan santunmu hah?" Sindir Aurora seraya menarik kerah belakang gaun Valerie.
srekk.....
Secepat kilat, Valerie berbalik badan dengan jurus andalannya. Sudah di bilang jika hanya Aurora, maka itu bukan lawan Valerie yang sepadan.
"Mana papa? Buat apa bawa cowok brengsek kayak dia?!" Ucap Valerie penuh penekanan dengan posisi tangan mencekik leher perempuan itu, tapi tidak sesungguhnya.
"Ngapain ajak aki-aki bau tanah itu heh!!"
__ADS_1
-To Be Continued-