My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 22 Pengakuan Cinta


__ADS_3

”Sayang ini oma.”


“Masuk aja oma.” Ucap Valerie seraya mengusap ujung matanya yang berair. Saat ini hanya tersisa nenek dan kakek dari pihak sang mama, karena papa Valerie merupakan anak yatim piatu. Namun, di antara keluarganya, hanya merekalah yang paling menyayangi Valerie.


“Oma selalu ada buat Valerie. Maafin oma karena tidak bisa meyakinkan papamu yang keras kepala.” Ucap oma Arin yang kini mendudukkan diri di pinggir kasur bersama dengan cucunya itu. Valerie amat sangat marah saat ini, karena tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk kabur saja tidak bisa, sebab rumahnya di jaga amat ketat.


“Oma, Val nggak mau menikah sama Kevin.” Ucap Valerie lirih dan memeluk omanya.


“Oma tahu, makanya ini kesempatan terakhir. Jaga diri Val baik-baik ya.”


Oma Arin mengecup sekilas kening Valerie dan segera melenggang pergi. Apanya? Valerie merasa di gantung dengan ucapan omanya tadi. Bahkan Valerie tidak mengerti jika itu di sebut sebagai sebuah penyelesaian.


tok...tok...tok


“Buka jendelanya.”


Valerie tersentak dan kini menoleh ke arah suara horror tersebut. Bagaimana tidak, suara berat yang tidak ada wujud makhluk aslinya terdengar secara tiba-tiba membuat bulu kuduk Valerie berdiri semua. “Genderuwo?” gumam Valerie. Sembari mendekati jendela, ia mengambil salah satu kain putih untuk di jadikan handwrap di tangannya. Tinjunya sudah siap jika ancaman tiba-tiba datang.



“Val, ini aku. Tolong buka jendelanya!”


Valerie pun mendekat dengan mengendap-endap. Bayangannya teringat pada sosok makhluk tak kasat mata yang kerap kali membuatnya bergidik ngeri. Matanya kembali menelisik bayangan hitam dari balik jendelanya, dan itu membuat pikirannya semakin menjadi-jadi.


“Aku siap…aku nggak takut.” Gumam Valerie kemudian membuka kaca jendelanya dengan pelan.

__ADS_1


Tiba-tiba…


Greb!!


“Jangan pukul! Ini aku!!.” Ucap pria yang tak lain adalah Victon.


Hampir saja kepalan tangannya memukul pria tak bersalah itu. Lega sekali rasanya, hingga tanpa sadar Valerie lebih dulu memeluk tubuh kekar Victon. Meski masih gugup, tapi setidaknya amarah yang sempat memuncak kini bisa sedikit mereda.


Aroma mint atau entah apalah itu, Valerie bisa menciumnya menyeruak keluar dari tubuh Victon. Mereka kini tak berjarak hingga detak jantung Victon pun terdengar nyata di telinga Valerie. Tolonglah, jika malam ini dia bisa membawanya pergi sejauh mungkin, maka Valerie sangat bersedia.


“Bawa aku pergi dari sini, ku mohon!!” Ucap Valerie seraya mengeratkan pelukannya dan itu mengundang senyum bahagia di wajah tegas Victon.


Memang ini lah yang selalu di nantikannya, ternyata tidak sia-sia Victon harus melewati puluhan penjaga rumah, bahkan juga harus memanjat dinding balkon kamar Valerie yang bukan main menantang adrenalin. Ungkapan gadis itu bak air terjun yang menyegarkan. Awalnya dia masih berperang dingin dengan pikirannya dan takut jika Valerie menolak ajakannya, siapa sangka jika semua di luar prediksinya.


Victon masih belum berniat untuk membalas pelukan itu, ia harus melihat dulu seberapa tulus Valerie saat ini. “Benarkah? Asal jangan pernah lari dariku bahkan sejengkal pun. Aku bersedia membawamu pergi sejauh yang kamu mau. Kamu bisa?” Ucap Victon dengan suara baritonnya.


“Janji!! Aku nggak mau hidup bersama pria yang nggak ku cintai sama sekali. Tolong, bawa aku pergi!!.”


Valerie bahkan mengacungkan jari kelingkingnya demi membuat Victon percaya. Saat ini hanya Victon yang bisa di percaya dan bisa membantunya. Valerie bersyukur kala Tuhan mengabulkan doanya beberapa saat lalu dengan mengirimkan seorang malaikat penolong.


“Apa aku cuma pelampiasan?” tanya Victon sesaat berubah dingin.


“Bukan gitu.”


“Berarti kamu mengakuinya?” Wajahnya berubah secepat itu saat tahu jika Valerie tidak menganggapnya demikian.

__ADS_1


“Apa?”


“Cinta tulus untukku.” Ucapan Victon kembali membuat Valerie berdebar kencang. tik...tik..tik.... beberapa detik berlalu dalam keheningan kala itu.


“I …iya.”


Cup…


Entah dari mana keberaniannya, Valerie maju lebih dulu. Meski hanya di pipi, itu sebuah kemajuan besar. Semua hal perlu yang namanya terbiasa. Terbiasa bersama, terbiasa melakukan apa yang di inginkan termasuk juga terbiasa untuk menerimanya.


“I love you.” Balas Victon yang kemudian mengecup pucuk kepala Valerie dengan lembut.


Reaksi tubuhnya menjadi lebih rileks dan tidak tegang lagi kala menerima kehangatan yang di salurkan oleh pria itu. Seperti darah yang mengalir ke seluruh tubuhnya, Valerie seolah-olah merasakan energi positif kini menyebar rata.


Sementara dua insan yang sedang di mabuk cinta itu saling memadu kasih, mereka tidak tahu jika saat ini Aldi tengah tegang luar biasa. Sejak tadi pria malang di tugaskan untuk berjaga di bawah sana, yang rasanya seperti mengantar nyawa ke dalam lubang ular.


“Mereka lagi ngapain sih? waktunya nggak banyak ini, aduuuhhh.” Gumam Aldi yang bersembunyi di balik semak belukar seraya mengamati keadaan.


Brugh….


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2