My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 64 Si Pengganggu


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dengan cepat dan Valerie berhasil melewati hari-harinya dengan baik. Mulai dari memanjakan diri bersama ibu mertua, mengunjungi sahabatnya dan berbagai hal menyenangkan lainnya.


Hanya satu yang terlewat. Valerie masih belum siap untuk menemui kedua orang tuanya. Bukannya ingin menjadi anak yang durhaka, dia sangat malas jika harus melihat wajah ibu tirinya yang menyebalkan itu. Penuh tipu daya dan munafik, Valerie sangat benci orang bermuka tebal seperti Aurora.


Teruntuk sang papa, Valerie sudah sempat menelponnya 2 kali dalam seminggu ini. Seperti yang sudah Valerie khawatirkan selama ini, Candra mengetahui jika dirinya menghentikan pendidikannya. Bisa di bilang kemarahan yang cukup besar hingga telinga Valerie menjadi panas kala sang papa mencecarnya dengan pidato piala oscar.


5 AM..


Drtttt….drtttt….


“emmmmhhh, sayang... Hp kamu bunyi terus ih.” Ucap Valerie pelan seraya meraba tubuh Victon di sampingnya. Valerie sangat terganggu karena benda itu berdering beberapa kali dan Victon tak kunjung bangun juga.


“Ck, siapa sih!!” Akhirnya Valerie turun tangan sendiri. Dengan mata yang masih berat untuk terbuka, Valerie berusaha menemukan di mana letak ponsel itu. Sedikit sulit pada awalanya, rupanya terselip di bawah bantal.


Srekkk….


“Carl?” Valerie tampak mengerutkan keningnya dan tak sengaja jarinya terpeleset menekan tombol hijau. Sudah terlanjur, jadi ya sudahlah. Valerie memilih untuk menempelkan ponsel itu di telinganya. Sayangnya belum sempat bicara, seseorang di balik sana nyerocos dan tak membiarkan Valerie menjawab barang satu kata saja.


“...Raymond dan Aurora. Kau harus berhati-hati dengan dua nama yang ku sebutkan itu Vic. Sisanya akan ku kirim ke emailmu okay? secepatnya aku mau barang itu, Victon kau dengar?”


Pip…


Valerie di landa kebingungan. Antara percaya atau tidak percaya dengan omongan pria tadi. “Apaan sih? Dia ngomong pake bahasa apa fbdsjfgewufiufiiudsyf... begitu?” Ya, lebih tepatnya Valerie tidak paham dengan perkataan Carl.


“Raymond? Aku samar-samar denger nama itu?” gumam Valerie yang kemudian menoleh dan menatap wajah tenang Victon yang terlelap. “Kamu nggak sembunyiin sesuatu dari aku kan?” batin Valerie yang tiba-tiba merasa aneh.

__ADS_1


Valerie pun segera beranjak dari kasur. Perasaannya yang tak baik tiba-tiba, membuat Valerie memilih untuk menjalankan rutinitas pagi seperti biasanya. Mungkin, curhat kepada sang pencipta bisa membuat Valerie lebih tenang setelahnya.


.


.


.


Di suatu tempat yang tak jauh. Entahlah othor tak tahu pasti....😁


“Diraa-dira.... hehehe.” Seseorang tengah meyeringai seraya membolak-balikkan ponsel di tangannya. Nampaknya kabar baik baru saja dia terima hingga tak henti-hentinya pria itu menyunggingkan bibir.


“Dia cuma numpang, sedangkan aku yang akan jadi pemenangnya. Kita lihat aja nanti.” Ucap pria itu penuh kemenangan.


...🌬️🌬️🌬️🌬️🌬️...


“Kamu nggak penasaran, alasan suamimu selalu menutupi hal yang seharusnya nggak di tutupi?”


“ Kalau mau tau, temui aku di jam istirahat nanti.”


Tidak ada hujan maupun badai, entah darimana seseorang yang mengaku sebagai Ray menghubungi Valerie beberapa menit lalu. Rasa penasaran yang kian menggebu-gebu bersamaan dengan matanya yang menatap kepergian mobil mewah itu yang kian menjauh.


“Hal yang seharusnya nggak di tutupi?”


Valerie mengehela napas kasar dan masih menempati posisi yang sama. Berdiri di depan rumah mengantar suami yang hendak bersibuk ria, tapi jiwanya terasa ikut di bawa pergi juga.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Valerie pun menyambar kunci dan segera melajukan kuda besinya menuju tempat yang mungkin bisa melepaskan rasa penasarannya. Entah benar faktanya atau tidak, Valerie ingin memastikan dengan mata dan telinganya sendiri.


brummmmm brummmm....🛵🛵


Beberapa menit kemudian...


Masih ada beberapa jam sebelum tiba waktunya istrirahat para karyawan. Jadi, Valerie memutuskan untuk menunggu di café tak jauh dari perusahaan seraya menikmati pencuci mulut dan kafein kesukaannya.


Ting....



Valerie menatap layar ponselnya seraya terkekeh pelan. Bukan aneh lagi baginya menghadapi tingkah konyol suaminya yang semakin hari membuatnya kian jatuh hati. Hanya sebuah pesan teks saja, Valerie di buat merona malu.


“Dasar.” gumam Valerie yang masih senyam-senyum tidak jelas. Kling… seketika Valerie mendongak ke arah suara.


“Udah lama?”


.


.


.


.-To Be Continued-

__ADS_1


__ADS_2