
Sama-sama menahan diri, karena dua pria itu tak kuasa jika harus saling baku hantam. Ya, benar adanya jika tak arus adu kekuatan dalam memecahkan masalah. Mungkin terlihat mudah saja, tetapi hati mereka tak bisa karena jalinan batin sebagai keluarga itu teramat kuat.
Tangan Victon sungguh bergetar hebat di lengkapi ekspresinya yang seketika membuat Jordan menciut. Biasanya Jordan sering menggodanya tapi jarang sekali Victon marah. Bisa di bilang ini pertama kalinya Victon semarah itu padanya.
gleg...
"Aaaaaaaaaarrrrrrrrrrrgggghhhhhhh." Victon mengacak rambutnya frustasi. "Jawab gue jujur!! Eveline Maylafaisha, gue rasa nama itu nggak asing di kuping lo, iya kan?"
"Yeaa........i.....guess." Jawab Jordan terputus-putus.
Victon menengadah di ikuti sorot matanya yang tidak bersahabat. Sungguh, baik Jordan maupun Valerie, mereka berdua sama berharganya bagi Victon. Terlebih Jordan yang sudah menemani Victon lebih dari 10 tahun lamanya sebelum mengenal Valerie.
Victon masih memberi kesempatan bagi pria itu untuk menjelaskan sejujur-jujurnya. Jika sulit di terima sekalipun, Victon ingin mendengarkan dari mulut itu secara langsung. Tanpa alibi atau terselip kebohongan sedikit pun.
Beberapa menit pun berlalu….
Dari dulu Victon sangat suka dengan Jordan yang tidak bertele-tele. Namun di akhir kalimat, Victon kembali di buat tercengang. ".......itu pembunuhan, bukan bunuh diri. Eveline adalah petunjuk satu-satunya petunjuk yang gue punya waktu itu, and gue juga di jebak!! Brengsek mereka!!.” Jelas Jordan.
“Jangan melebih-lebihkan.” Victon menatap Jordan tanpa berkedip.
"Kalo gue tau dia bakal jadi nyokap mertua lo……. Well, gue nggak salah man, come on!” Ucap Jordan dengan memelas.
"Gimana cara mereka membunuhnya?" tanya Victon di iringi Jordan yang tampak ragu untuk menjawab. "Aconite." Singkat Jordan yang kemudian mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
(jangan terlena dengan keindahan bentuk dan warnanya, sebab yang indah bisa saja lebih berbahaya. Melenyapkan tanpa meninggalkan jejak😨)
FLASHBACK
"Buat apa ini Max?" tanya Jordan pada Maxton. Tangannya mengambil sebuah botol kaca kecil dengan cairan di dalamnya. Tutupnya amat rapat dan sudah di pastikan jika itu bukan sembarang cairan.
"Itu racun."
Jawaban Maxton merubah wajah Jordan menjadi datar, sedatar layar monitor di depannya. "Aku tanya ini buat apa, bukan ini apa. Di mana telingamu sebenarnya?" Kesal Jordan.
"Aku menjualnya pada seseorang dan dia memberi informasi yang kita butuhkan sebagai imbalan." jawab Maxton apa adanya.
Dengan berbagai dalih, Maxton menjelaskan sesuatu yang terbilang menguntungkan. Jordan sendiri di buat tergoda kala Maxton mengajaknya bekerjasama dengan komplotan orang-orang itu. Tanpa dia tahu dan dengan sedikit kewaspadaan, Jordan terjebak di dunia gelap para sekumpulan orang yang selalu menghalalkan berbagai cara demi tujuan yang hendak di capai.
Drrttt…drrtt…
“Em…kita segera kesana sekarang.” Ucap Maxton dingin seraya menatap Jordan yang berdiri di hadapannya. Sedikit pun mereka tak merasa curiga akan apapun karena mereka sama-sama melakukan apa saja demi sebuah tujuan.
Pip….
FLASHBACK END
__ADS_1
Jordan sempat menjadi saksi dari penganiayaan perempuan bernama Eveline itu. Jika saja hati nuraninya muncul kala itu, mungkin Jordan tidak hanya berdiam diri saja. Sayangnya, dia sendiri juga terhimpit dan pada saat itu kuasanya tidak sebesar saat ini.
“Gue nggak ada pilihan karena Anderson family di pertaruhkan kalo gue belok sedikit aja. Vic, gue bener-bener terjepit!.”
“ lo saksi dari kejadian itu dan diem aja gitu?” Tanya Victon tak percaya.
“Gue nggak bisa gegabah apalagi identitas lain gue. T.Fly belum ada dan aarrrrrghhhhhh!! Sorry Vic….sorry!!.” Jordan kini sama frustasinya dengan masalah Victon. Secebis rasa sesal mulai muncul dari dalam benaknya. Seharusnya membantu orang tak perlu berpikir dua kali, namun Jordan bodoh sekali kala itu.
Sementara Victon sendiri lebih khawatir jika Valerie sampai mendengar kisah asli tentang mendiang mamanya. Harus apa dan bagaimana? Victon semakin gundah memikirkannya. Tak selamanya pula Victon bisa menyembunyikan fakta tentang pembunuhan itu yang menyangkut hati.
Seseorang yang menyimpan perasaan mendalam terhadap Eveline dan tidak terima kala hati perempuan itu sudah bersemayam dan menjadi milik orang lain. Tidak beruntungnya lagi, ada dendam berbeda antara cinta segitiga tersebut yang membuat cinta berubah menjadi obsesi dan membengkak menjadi kebencian yang amat besar.
Jika bukan karena istrinya, Victon tak mau di buat pusing tentang kisah cinta segitiga itu. Lalu, apa ini ada hubungannya dengan Candra yang selalu ingin mengasingkan putri semata wayangnya itu? pikir Victon menerka-nerka.
“Maafin aku Val.”
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1