My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 48 Serangan Hipotermia


__ADS_3

Paginya, Valerie terbangun lebih awal. Bukan hal spesial, biasanya ia begitu karena setiap pagi selalu jogging pagi. Namun tidak kali ini. Jangankan untuk untuk jogging pagi, beranjak dari kasur saja rasanya sulit sekali.


“Aaaaa…aww…..ssshhhh.”


Bukan hanya di buat kecewa, sekujur tubuh Valerie seakan remuk seperti remahan rempeyek. Ulah siapa lagi kalau bukan pria yang lelap sekali tidurnya itu. Valerie masih kesal sebenarnya, hanya saja waktunya lebih berguna jika ia gunakan untuk membersihkan diri segera.


Baru hendak menggerakkan kaki, sela pahanya terasa nyeri hingga menjalar ke ujung kaki. Valerie pun duduk seraya menarik napas dalam-dalam. Butuh beberapa detik bagi Valerie untuk menyiapkan hatinya hanya demi mengerakkan sedikit pinggang dan kakinya saja.


Kretek….


“Apa Rara dulu juga begini?”


Sekilas ingatan muncul di kepala Valerie akan curhatan sang sahabat yang lebih dulu merasakan hal seperti ini. Ia sempat ragu kala Victon berkata jika itu juga yang pertama baginya, dari tindakannya saja sudah seperti pro player membuat Valerie tak percaya.


“Ck, bedeb**ah tampan super ngeselin!!”


Valerie pun menarik selimut itu sedikit kasar untuk menutupi tubuhnya yang molek. Mentari belum menyapa dan entah kenapa rasanya dingin sekali. Padahal kamarnya masih tertutup dan pendingin ruangan sudah mati. Mungkin saja benar jika tubuh lokalnya itu masih perlu beradaptasi.


Sembari mengedarkan pandangan, mata Valerie berhenti pada tubuh Victon yang polos tanpa sehelai benang pun. Bisa-bisanya ia gugup karena pemandangan tak senonoh itu.


“Ya Allah, cobaan macam apa ini?” Apa berdosa jika mata Valerie tak berkedip dan masih setia menatap tubuh aduhai suami sendiri? meresahkan.


Gleg…


Plak…plak..


Jangan tergoda!! Ingat Val, kamu masih marah!!, batin Valerie seraya menepuk pelan kedua pipinya. Detik demi detik berlalu, sayangnya Valerie masih belum berhasil beranjak dari posisinya.


“Ah…..sakit banget!!”

__ADS_1


“Sesulit itukah minta bantuan?.” Ucap Victon dengan suara bariton khas bangun tidurnya. Entah kenapa terdengar seksi di telinga Valerie.


Jelas sekali, Valerie masih meninggikan rasa gengsinya. Apalagi mode marah itu sedang berlangsung dan ia tak berniat untuk mudah luluh kali ini. Toh Valerie terbiasa mandiri dan ini bukan hal yang sulit baginya.


Valerie tidak mau menunjukan jika ia tengah kesakitan. Namun, niat hatinya sudah di dahului oleh Victon yang secepat itu tindakannya. Pria itu sudah memahami saat Valerie berusaha menghindari tatapannya, bahkan ucapannya saja tidak di balas.


“Nggak usah, aku bisa sendiri!!” Valerie menolak bantuan meski tubuhnya sudah di buat mengambang di udara.


“Kalau bisa, kenapa dari tadi masih di situ?”


“i…itu, aku lagi peregangan otot.”


Banyak sekali alasannya. Victon hanya terkekeh karena lucunya tingkah Valerie yang seperti ini. Pria itu mengabaikan tanduk sang istri yang keluar dengan tatapan tajamnya melebihi ujung jarum.


“Pakai baju sana, telanjang begitu nggak malu apa?!!”


“Mana ada orang mau mandi pakai baju?.” Seloroh Victon menanggapi kekesalan Valerie. Pantas saja terasa sejuk, ternyata tubuhnya sepolos mannequin.


“Buat apa malu, kamu bebas kalau mau sentuh.”


“hih. Sana jauh-jauh, ngapain ikut-ikutan kesini sih?!!” Valerie bergidik ngeri mendengar ucapan konyol suaminya, menanggapinya saja sudah malas duluan. Jauh dari kata sempurna, iman Valerie benar-benar di uji kala Victon ikut masuk ke dalam bathub dengan alibi menghemat air dan waktu.


“Mandi bareng, apalagi emangnya?.” Victon kembali terkekeh melihat ekspresi Valerie yang sangat lucu.


2 jam kemudian.....


“Suhunya 31.3 derajat Celcius, dingin banget” Ucap Victon seraya menyentuh kening Valerie seraya mencabut thermometer itu.


Seharian kemarin Valerie sibuk menuntaskan rasa penasarannya hingga lupa makan. Malamnya mereka berencana untuk dinner di luar jika saja Victon tidak ingkar janji. Namun, semua itu berakhir dengan pertengkaran di tambah pagi tadi Valerie berendam terlalu lama akibat meladeni Victon yang belum kenyang. Beginilah jadinya, tubuh Valerie yang terbiasa kuat, nyatanya tidak sekuat itu.

__ADS_1


Tut…tut….


“Tolong panggilkan dokter Kim sekarang juga dan batalkan pertemuan hari ini. Valerie sedang sakit, jadi aku harus di rumah untuk mendampinginya, emm…okay.”


Pip…


Hahh….


Victon menghela napasnya seraya menatap kembali wajah pucat Valerie.”Sayang, makan dulu ya.” Victon mengusap rambut Valerie yang menggeleng pelan sebagai jawaban.


Kasihan sekali, Victon tidak tega melihat Valerie begini. Ingin sekali Victon bertukar posisi, namun tubuhnya terlalu bugar untuk di bilang penyakitan. Bukan menyumpahi, Victon sadar jika semua ini karena ulahnya yang terlalu kasar semalam.


“Kata bibi kamu dari kemarin belum makan, maaf seharusnya aku lebih perhatian. Aku suapin ya.”


“Emmmhh…” Valerie masih menggeleng seraya mengeratkan selimutnya lagi.


Tok…tok…


“Tuan, dokternya sudah datang.”


“Masuklah.” Ucap Victon seraya meletakkan kembali mangkuk bubur itu di atas meja.


Pemerikasaan itu berlangsung hingga beberapa menit lamanya. Tubuh Valerie semakin menggigil hebat meski selimut dan pakaiannya sudah tebal sekali. Bibir Valerie membiru dan sedikit kaku itu menandakan jika gejala ini cukup serius.


“Ini hipotermia dan magnya juga kambuh. Saya sudah melakukan pertolongan pertama. Tolong pastikan pasien tetap hangat dengan pakaian yang tebal, minum air hangat dan metode lainnya yang bisa membuat tubuhnya tetap hangat.” Jelas dokter Kim


Kepergian dokter Kim kini hanya menyisakan pemilik kamar itu. Victon pun beranjak dan kini mengambil satu selimut tebal lagi untuk membungkus tubuh Valerie.


“Euungghhh dingin.”

__ADS_1


“Sini peluk.”


-To Be Continued-


__ADS_2