My Possessive Bodyguard

My Possessive Bodyguard
BAB. 80 Lakukan!


__ADS_3

dia?


"Selamat pak Victon atas pernikahannya. Anda sangat beruntung memiliki istri secantik Valerie." Ucap pria bernama Marc. Senyum itu tampak mengerikan hingga Valerie beringsut mundur kemudian bersembunyi di belakang punggung Victon.


"Terimakasih. Ka....lian saling kenal?" tanya Victon menatap Marc dan istrinya bergantian.


"Nggak/iya!!" Tegas Valerie dan Marc serempak.


Aneh sekali, Victon merasakan kejanggalan. "Kenapa malah ngumpet? Sayang, tuan Marc ini adalah rekan bisnis aku dari Prancis........... Val?" Victon berkerut kala melihat wajah pucat istrinya secepat itu. Tubuhnya bergetar dan dahinya penuh peluh. Victon bingung kenapa istrinya menunjukkan reaksi aneh begitu.


"A.....aku. Aku lelah, aku mau ... a....aku hah..." Valerie terbata-bata kala sesaat bertemu pandang dengan sepasang mata Marc.


Rekan bisnis katanya? Valerie tidak percaya jika Victon bekerja sama dengan pria biadab itu. Brugh.... tanpa sadar Valerie terduduk dan bersimpuh di lantai karena kakinya lemah tak mampu menopang tubuhnya lagi. Sedangkan Marc? tanpa ada yang tahu jika pria itu tengah menyeringai di antara orang-orang yang datang mengerumuni Valerie.


"Vic, bawa Valerie istirahat. Biar mama yang urus di sini. Cepat !!" Ucap mama Nindi dengan nada khawatir.


Tanpa naninu, secepat kilat Victon membopong tubuh istrinya. Kembali ke tempat paling nyaman di mana Valerie tidak merasa terusik lagi.


pip...pip...


Di sebuah kamar hotel khusus......


Victon pun mendudukkan tubuh Valerie di pinggir bed kemudian ia berjongkok di depannya seraya menggenggam tangan yang mengepal itu. Menatap wajah sendu yang kini menunduk bahkan enggan menampakkan wajah cantiknya.


"Kamu kenapa? Ingat! jangan ada rahasia di antara kita."


Tidak ada jawaban hingga Victon melontarkan pertanyaan lagi "Yank? sayang jawab aku. Kamu kenapa, hm?"


Valerie menghela napas kemudian dengan lirih berkata, "Putusin kerjasama itu. Jangan berhubungan apapun sama Marc, jangan pernah lagi."

__ADS_1


" Kalian saling kenal?" tanya Victon dengan lembut.


"Dia bajingan. Aku nggak suka, aku benci ...... aku takut."


deg.....


Victon terhenyak mendengar penjelasan itu. Ketakutan yang begitu nyata ia rasakan dari nada bicara dan tangan Valerie yang bergetar.


Singkat cerita, Marc ini adalah pria yang pernah menoreh luka pada Valerie. Semua trauma yang menyerang psikisnya itu akibat perbuatan Marc. Katakanlah, Valerie pernah di perlakukan buruk dengan pelecehan dan nyawanya juga hampir melayang karena pria itu.


"Brengsek!! Aku tau dia itu casanova, tapi aku nggak tau kalau istriku salah satu korbannya. Biar ku hajar dia !!" Victon menyincing lengan kemejanya kemudian beranjak hendak pergi tergesa-gesa.


greb ...


"Aku butuh kamu di sini." Takut. Valerie takut jika Victon meninggalkannya sendirian, ia butuh sosok penenang saat ini. Sebuah pelukan pun tak apa, yang penting ia tidak sendiri. "Tetap di sini." Pinta Valerie menahan tangan kekar itu.


hahhhh......


"No!! Aku nggak mau suamiku jadi pembunuh. Tolong, saat ini cukup peluk aku aja. Aku butuh itu sekarang."


Mendekatlah si Victon, kemudian ia memeluk Valerie. Puk.....puk.... Selembut sutra Victon memperlakukan Valerie saat ini. Usapan-usapan lembut itu ia berikan


"Nangis nggak apa-apa kok. Jangan malu-malu." Ucap Victon.


"Aku nggak mau bahas lagi. Itu cuma masa lalu, cukup ada kamu di sisi aku."


"Marc bajing**n!!" Batin Victon meremang. Jauh-jauh dia mengira jika Ray adalah pria masa lalu Valerie satu-satunya dan tidak menyangka jika Marc lah yang membuat Valerie lebih menderita.


Bagaimana bisa Victon merelakan mata indah di depannya memerah dan berlinang air mata? Jika saja ia bisa menjadi selembar tisu, maka tak apa jika terus menyeka air matanya.

__ADS_1


Tangan kekar itu terulur mengusap pipi Valerie. Sesaat berhenti, kemudian mengusap lagi. Menatap lebih lekat, lebih dalam dan semakin dalam. Victon terlena, hingga jarinya turun menelusuri garis wajah cantik istrinya.


"Aku nggak akan kemana-mana." jawab Victon dengan lembut.


Victon terlena dengan wajah ayu di depannya hingga tidak sadar wajahnya sudah mendekat. Namun, Valerie malah mundur. Apa yang terjadi? Apa dia terpengaruh lagi? Victon menerka jika trauma kontak fisik sang istri kambuh seperti dulu.


"Aku Victon, suamimu. Valerie sayang....... ini aku." Ucap Victon dengan nada rendahnya seraya mengangkat dagu Valerie. Itu karena istrinya menolak. ia paham situasi, tapi jika karena pengaruh Marc maka tidak bisa di biarkan begitu saja.


cup...


"Aku siapa?" tanya Victon lagi setelah melabuhkan kecupan di bibir ranum itu.


"S....suamiku. Victon.......pria yang ku cintai." Meski terbata-bata Valerie tetap mengatakannya dengan jelas.


"Kamu mau menyentuhku?"


Valerie mengangguk pelan. "Mau menciumku?" Valerie mengangguk lagi, padahal raut wajahnya sulit di jelaskan. Wajah keduanya sudah sedekat itu hingga cahaya lampu tertutup oleh bayangan mereka masing-masing.


"lakukan! seperti yang aku ajarin." Ucap Victon.


Hah? maksudnya apa?


.


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continued-


__ADS_2