Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 10


__ADS_3

_MARK HOLDING_


Suara langkah kaki Varen mengalihkan atensi setiap orang yang ada di lobi gedung Mark holding. Mereka menunduk memberi hormat pada CEO mereka yang tampan, berkarisma dan penuh wibawa. Tepat tiga langkah dibelakangnya, Ririn sekretarisnya dan juga seorang pria gagah berjalan sejajar mengekor dibelakang bos mereka.


Setelah naik lift, kini mereka tiba di lantai delapan tepat dimana ruangan CEO itu berada.


Pria bernama Tam dengan sigap membuka pintu ruangan Varen, lalu dia ikut masuk mengekor di belakang Varen. Sementara Ririn sudah duduk di meja kerjanya yang berada tepat didepan ruangan Varen.


"Bagaiman perkembangan perusahaan saat ini, Tam?"


Varen mulai melepas jasnya, lalu meminta Tam menggantung jas itu di hanger sudut rungannya.


"Sejauh ini semuanya sangat baik, pak Varen. Bahkan Mark holding masih tetap mempertahankan posisinya sebagai perusahaan nomor satu se Asia."


Varen tersenyum mendengar penuturan Tam tentang perkembangan perusahaannya.


"Kembalilah ke tempatmu."


"Baik, pak Varen."


Tam meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat pada Varen.


Omong omong, Tam adalah tangan kanan Levarendo Mark dalam mengurus perusahaannya. Tam bukan bagian dari kelompok Tiger. Tapi, Tam memiliki posisi yang kuat di dunia nyata ini, mungkin posisinya sama dengan posisi Seon di dunia hitam.


Tam adalah putra dari tangan kanan Ayahnya dulu. Tam juga kehilangan orangtuanya dihari yang sama dengan Varen. Ya, orangtua mereka tewas terbunuh dihari yang sama. Hingga Tam dan Varen tumbuh bersama dengan saling mengasihi sebagai keluarga dan tentu saja Tam tidak pernah merasa dirinya lebih tinggi dari Varen meski secara usia dia dua tahun lebih tua dari Varen. Baginya Varen adalah majikannya yang harus dia lindungi dengan sepenuh jiwa.

__ADS_1


Namun, meski Tam bukan bagian dari Tiger, dia dan anak anak Tiger saling mengenal baik satu sama lain. Bedanya hanya saja terletak pada tugas yang dilakukan Tam. Dia sama sekali tidak terhubung dengan kegiatan mafia mafia itu. Bukan karena Tam tidak mau, tapi karena Varen yang tidak pernah dan tidak akan pernah mau merekrut Tam menjadi bagian dari Tiger. Karena Varen telah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Tam dari dunia dunia hitam itu.


Menyudahi perkenalan dengan Tam, kini kembali ke CEO Varen. Dia tampak mulai fokus menatap layar laptopnya. Beberapa file tampak sudah tidak tersusun rapi lagi seperti pertama dia datang tadi. Tampaknya Varen mulai mengecek beberapa file tersebut.


"Ririn, keruangan saya sekarang!"


Varen hanya menekan tombol hijau pada bagian telepon yang ada di atas meja kerjanya untuk bicara pada Ririn si sekretaris cantiknya itu.


"Baik, pak Varen."


Ririn memasuki ruangan itu dengan membawa tabletnya. Dia berdiri tepat didepan meja Varen.


"Schedule."


"Hari ini ada makan siang bersama CEO Bite group di hope resto hotel. Lalu, pukul tiga sore menghadiri acara peresmian jitu hotel dilanjutkan dengan acara makan malam bersama keluarga besar CEO Gee entertaimen sekaligus, memperkenalkan putri tunggalnya pada pak Varen."


"Ya?"


Satu kata yang keluar dari mulut Ririn membuatnya mendapat tatapan tajam dari Varen.


"Maksud saya, apakah acara makan malamnya juga dibatalkan?"


"Tentu saja, Ririn. Apa kamu tidak tahu, acara makan malam itu kesempatannya untuk memperkenalkan putrinya itu."


"Tapi, mengapa pak Varen menolak. Padahal, putrinya sangat cantik, pintar dan elegan." Jelas Ririn mencoba merayu Varen agar mau mengenal putri tunggal Ceo Gee entertaimen.

__ADS_1


"Astaga! Apakah tidak ada yang memberitahumu bahwa saya sudah menikah kemarin?"


"Ya?!"


Ririn tampak terkejut dan bingung. Varen mengatakan dia telah menikah kemarin. Tentu saja Ririn dan seluruh karyawan di Mark holding tidak ada yang mengetahui hal itu. Lagi pula, siapa wanita yang benar benar beruntung itu, apa rahasianya bisa dinikahi seorang Levarendo Mark yang selalu menatap rendah wanita yang tertarik padanya.


"Tanyakan langsung pada Adam."


"YA?!"


Nama Adam yang disebutkan Varen ternyata jauh lebih membuat Ririn terkejut ketimbang berita pernikahan Varen.


"Jangan mencoba menyembunyikan apapun dari saya, Ririn. Bukankah diam diam kau dan Adam sering berkomunikasi?" Itu bukan pertanyaan, tapi sindiran untuk Ririn yang memang masih menyembunyikan hubungannya dengan Adam.


Mereka hanya baru sekedar pdkt. Ririn yang naksir Adam lebih dulu, itu saat pertama kali Adam datang ke perusahaan ini. Sejak saat itu Ririn dan Adam sering bertukar kabar.


"Maafkan saya, pak Varen." Ucapnya sambil menunduk.


"Saya tidak pernah melarang siapapun untuk jatuh cinta atau pun saling mencintai. Hanya saja, jangan sampai cinta membuat kalian lalai pada pekerjaan."


"Baik, pak Varen. Saya akan bekerja lebih giat lagi." Jawab Ririn tegas.


"Tapi, apakah benar pak Varen sudah menikah?" Hal itu ternyata masihlah mengganggu pikiran Ririn.


"Ya."

__ADS_1


Hanya satu kata yang terdiri dari dua huruf itu saja respon dari Varen. Wajahnya bahkan tampak datar dan tidak ada ramah ramahnya sama sekali. Dia terlihat seperti baru saja akan bercerai ketimbang baru menjadi pengantin baru.


__ADS_2