
Pukul 09:20 pagi.
Usai sarapan, kini semua orang berkumpul di ruang tengah mansion Lion.
"Berhubung, kalian semua berkumpul di sini. Aku akan menyampaikan beberapa hal."
Tiger mulai bicara. Dia duduk berdampingan dengan Aila, dan tangannya tidak pernah melepas genggamannya di tangan Aila.
"Aku dan Aila akan pindah ke Jakarta. Kami akan menetap disana selamanya."
"Lalu, bagaimana dengan kami, Tiger?" Tanya Kinan.
"Kalian bebas memilih. Jika mau ikut kami ke Jakarta, boleh. Dan kalau kalian ingin menetap di dunia mafia ini pun, silahkan."
"Tiger--" Adam mengangkat tangannya hendak memberitahukan pendapatnya.
"Silahkan Adam."
"Aku juga memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Aku akan menikahi Ririn di sana dan kami akan menetap di sana." Uangkap Adam sambil menggenggam erat tangan Ririn.
"Ya, kalian mendapat izinku. Kita akan mengadakan perayaan pesta pernikahan serentak nanti di Jakarta."
"Terimakasih Tiger."
Kini Kinan yang mengangkat tangannya tinggi tinggi, tapi kepalanya malah menunduk.
"Ada apa Kinan?"
"Bolehkah aku ikut kalian ke Indonesia?"
Varen tersenyum senang. "Tentu boleh Kinan."
"Kami akan menetap di vila, dan melanjutkan kelangsungan disana. Kami juga akan menjaga pabrik, jika Tiger memberikan izin." Ungkap Taw dan Vac.
"Kami juga akan menetap di vila, Tiger." Sambung Sony dan Susan hampir bersamaan.
"Tiger--"
Itu Seon, Lyn, Pin dan Adit yang juga mengangkat tangan mereka secara bersamaan.
"Silahkan Pin."
"Aku akan menetap di vila bersama madam Susan dan pak Sony."
"Aku juga, Tiger. Aku akan tinggal bersama Pin." Adit menggenggam erat tangan kekasihnya itu. Mereka resmi berpacaran sejak dua minggu lalu.
Tiger mengangguk setuju. Kemudian, matanya terarah pada Lyn dan Seon.
"Aku akan menikahi Lyn, dan kami akan tetap tinggal di vila, Tiger."
Sebentar Varen menatap pada Aila yang memberikan senyum dan anggukan pertanda dia ingin Varen mengabulkan semua keinginan teman temannya.
__ADS_1
"Karena kalian semua sudah memutuskan, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak menyetujui keinginan kalian."
Lalu tiba tiba Ben berlutut menghadap kearah Varen. Hal itu membuat semua mata tertuju padanya.
"Tiger, izinkan saya bergabung dengan mereka--" Tunjuk Ben pada Seon dan pak Sony.
Varen tidak langsung menjawab, dia malah menatap raut wajah terkejut Seon dan Sony.
"Saya tidak akan mengkhianati kalian. Sungguh, saya berhutang pada kalian." Lanjut Ben. Dia mencoba meyakinkan semua orang.
"Kau yakin ingin bergabung, Ben?"
"Saya yakin Tiger. Lion king sudah tiada, jadi tidak ada lagi tempat untuk saya pergi."
"Baiklah. Kau boleh bergabung dengan mereka. Tapi, aku sudah bukan bagian dari kalian lagi. Aku hanya seorang sahabat atau keluarga yang jika kalian butuh bantuanku, maka aku akan membantu dengan senang hati. Namun, aku hanya memberi bantuan jika itu tidak berhubungan dengan dunia mafia."
Seon hanya bisa menghela napas mendengar penuturan Tiger yang memang sudah memutuskan dengan matang bahwa dia akan berhenti dari dunia mafia. Meski Tiger mengaku sebagai sahabat dan keluarga mereka, tetap saja rasanya menyakitkan menerima kenyataan dengan keluarnya Tiger dari kelompok mereka.
"Aku membenci anda nona Aila." Ujar Seon yang membuat Aila menundukkan kepalanya.
"Seon. Bukan Aila yang menarikku untuk keluar dari dunia mafia. Tapi, aku sendiri yang ingin pergi. Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi, termasuk kalian semua. Jika saja aku bisa memaksa, akan aku paksa kalian semua untuk berhenti dari dunia hitam ini."
Seon menundukkan pandangannya, sementara Lyn mengelus punggungnya lembut. Lyn tahu, Seon tidak benar benar membenci Aila, dia hanya mengungkapkan rasa sedih kehilangan Tiger.
...🐯(NATM)🐯...
Pukul 02:04 Siang.
Saat tiba di sana, mereka melihat Juno yang tampak aneh terduduk di sudut ruangan tempatnya dirawat. Matanya menatap jauh kedepan, tapi tatapan itu kosong..
"Sejak pertama tiba di sini, keadaan tuan Juno sudah seperti itu. Dia bahkan tidak mau makan dan minum. Lalu, setiap pukul sebelas malam, dia akan berteriak histeris ketakutan katanya ada api yang membakar seluruh tubuhnya." Panjang lebar perawat menjelaskan tentang keadaan Juno.
Varen hanya mengangguk angguk saja menanggapi penjelasan perawat itu. Tapi, dia tidak bisa membohongi hatinya bahwa dia sangat sedih dan khawatir dengan keadaan Juno saat ini.
Setelah puas menatap keadaan Juno, Varen meminta perawat itu untuk mengantar mereka melihat Sarwa yang ruangannya berada di lantai atas. Ruangan khusus untuk wanita wanita hamil yang memiliki gangguan kejiwaan.
Kenapa hatiku kok sedih ya. Rasanya aku males melihat keadaan wanita itu. Ah, Varen pasti ingin memastikan apakah kandungan wanita itu baik baik saja atau tidak. Dia menang, karena bisa mempertahankan bayi-nya, sementara aku---
Tanpa disadari, tangan Aila mengelus pelan permukaan perutnya yang datar dan masih belum berisi lagi.
"Apa kandungannya baik baik saja?" Tanya Varen.
Mata Aila menatap sebentar raut wajah Varen setelah menanyakan perihal keadaan kandungan Sarwa pada perawat yang mengantar mereka.
"Sangat baik, tuan Varen. Itulah yang membuat kami bersemangat untuk membantu kesembuhan nyonya Sarwa. Bayinya juga sehat."
"Syukurlah."
Tangan Varen meraih jemari tangan Aila untuk digenggamnya, saat langkah Aila semakin pelan begitu mereka tiba di depan pintu ruangan Sarwa.
"Saat pertama tiba di sini, nyonya Sarwa berusaha menggugurkan kandungannya berkali kali. Tapi, beberapa hari terakhir, dia mulai lebih tenang dan juga mulai berkomunikasi dengan bayinya."
__ADS_1
Varen mengangguk, melihat Sarwa sedang mengelus perutnya yang sudah tampak membesar. Dia juga seperti membisikkan sesuatu pada bayi-nya yang masih berada dalam perutnya.
"Saya sudah mengisi formulir administrasi untuk Juno dan Sarwa. Saya juga mendaftarkan diri sebagai wali dari mereka berdua. Jadi, jika terjadi sesuatu, pihak rumah sakit bisa menghubungi saya." Ujar Varen mengatakan pada mbak perawat itu yang tersenyum manis.
Setelah itu, Varen menggandeng Aila untuk keluar dari rumah sakit itu.
"Kenapa tuan tidak membawa saja Sarwa ke Jakarta. Supaya bisa lebih dekat untuk mengunjunginya."
"Kenapa aku harus mengunjunginya, sayang?"
"Ya, karena dia mengandung bayi, tuan."
Varen tertawa, lalu mencubit pelan kedua belah pipi Aila, kemudian menariknya masuk dalam pekukannya.
"Kamu cemburu, sayang?"
"Ya. Aku cemburu karena Sarwa mengandung bayi, tuan."
"Menggemaskan." Melepas pelukan, lalu memberikan ciuman dibibir istrinya yang sedang cemburu itu.
"Sarwa tidak mengandung bayi dari aku, sayang."
"Lalu bayi siapa? Bukankah memang tuan yang sering menanam benih di rahimnya." Celetuk Aila bicara judes tanpa rem.
"Hei, dimana kamu belajar bahasa aneh seperti itu, ha?"
"Entahlah, aku membenci anda, tuan."
Aila melepaskan diri dari pelukan Varen, lalu dia melangkah cepat menuju mobil yang terparkir di depan sana.
"Sayangku semakin menggemaskan saat cemburu." Goda Varen yang melangkah mengekor di belakang Aila.
"Aku benci anda, tuan Levarendo Mark."
"Tapi aku mencintaimu, Aila Khanza."
"Jangan membohongiku."
Langkah Varen semakin cepat, hingga dia bisa meraih pergelangan tangan Aila. Dirtariknya tubuh Aila masuk dalam dekapannya. Diciumnya berkali kali bibir yang menjadi candunya itu.
"Sarwa mengandung bayi phi Tam, sayang."
"Benarkah?"
Varen mengangguk yakin.
Aila menelisik kedua bola mata suaminya lekat lekat, lalu setelah mendapat jawaban yang dia inginkan, maka dengan senang hati tubuhnya kembali masuk dalam dekapan hangat suminya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, sayang." Bisik Aila yang membuat Varen mengeratkan lagi pelukannya.
"Aku akan ikut kemanapun sayang inginkan." Jawab Varen dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1