
Saat dokter Dimas sudah pergi, Bhika pun mencoba menanyakan pada Aila. Dia mengandung anak siapa. Bhika sih yakin itu anak Varen, tapi tetap saja dia merasa ada sedikit keraguan, karena Aila dan Varen saja sudah tidak saling bertemu selama dua bulan terakhir.
"Sayang, apa masih mual?" Tanya Bhika.
"Tidak ma. Hanya kepalaku pusing." Jawabnya lemas.
"Maafkan mama, nak. Tapi mama penasaran, apa mungkin kamu hamil anak Varen?" Tanya Bhika hati hati takut menyinggung perasaan Aila.
Aila tersenyum menatap wajah khawatir mamanya. Lalu diraihnya tangan mamanya untuk diletakkannya di area perutnya yang masih datar.
"Malam sebelum mas Varen mengetahui bahwa aku telah mengkhianatinya kami melakukannya, ma. Ini anak kami, anakku dan mas Varen. Ini cucu mama."
"Syukurlah. Tapi, apa Varen akan percaya? Mama khawatir dia malah akan tambah membenci kita karena dia bisa saja tidak percaya dengan kehamilanmu, sayang." sahut Bhika khawatir.
"Aku harap mas Varen akan percaya, ma. Lagi pula aku tidak pernah melakukan apapun dengan pria manapun. Aku bukan wanita seperti itu. Kalaupun nanti mas Varen tidak mau percaya, ya sudah biarkan saja."
Aila tampak mulai meragukan kesetiaan suaminya. Ya, dia tahu semua ini memang kesalahannya yang membohongi suaminya dan tidak menaruh kepercayaan pada suaminya itu. Tapi, apakah harus Varen menghukumnya seperti ini?
Aila mulai bosan dan lelah karena itulah setiap hari dia menyibukkan diri hanya untuk melupakan rasa rindunya pada Varen. Tapi, pria itu entah bagaimana sekarang. Bisa saja dia sudah mendapat pengganti yang baru. Terlebih Aila tahu suaminya itu seorang mafia yang gila hasrat. Mana mungkin Varen bisa menahannya. Sudah pasti dia akan melampiaskan pada wanita lain.
Terkadang pikiran buruk seperti itu terlintas dalam pikiran Aila. Hingga dia bertekad untuk bisa menjadi lebih kuat dan tegar. Tidak cengeng dan lemah hanya karena merindukan suami yang tega membuangnya dengan berkedok masih merasa kecewa karena pengkhianatan yang dia lakukan. Padahal jelas dia melakukan itu demi melindungi suaminya.
Menurut Aila yang masih belum dewasa, apa yang dilakukannya tidak seutuhnya salah. Tapi, ternyata berbeda bagi Varen. Ya, bagi sang mafia kesalahan Aila sangat tidak bisa dimaafkan. Hingga dia menghukum Aila seperti ini. Apa Varen tidak terpikir sama sekali, bagaimana kalau akhirnya Aila tergoda oleh kehadiran sosok pria yang baik hati dan bisa menerimanya dengan tulus, kan jadinya senjata makan tuan untuk Varen yang katanya masih sangat mencintai Aila.
Tapi ini Varen, mafia yang selalu tahu lebih awal kalau istrinya sudah hamil. Ya, Aila baru muntah malam ini, itu pun karena dia kelelahan bekerja. Sementara Varen sudah mengalami muntah muntah sejak tiga minggu terakhir. Jangan salah, sejak awal Varen merasa mual dan muntah saat melihat buah apel, dia sudah tahu bahwa Aila telaj hamil lagi.
Huwweekkk…
__ADS_1
Varen muntah saat lewat di pasar hanya karena dia melihat buah apel.
"Kinan singkirkan semua buah apel itu. Perutku mual dengan hanya melihatnya saja." Titah Varen pada Kinan.
"Baik phi." Kinan pun meminta penjual buah apel itu menutup sebentar peti buah apel mereka saat Varen hendak melewati tempat mereka.
"Semua buah apel sudah tidak terlihat, phi."
Varen kembali melangkah mausk lebih dalam lagi di pasar. Dia datang untuk mencari barang yang bisa dijadikannya bahan untuk interior rumah, pesanan pelanggannya.
"Phi, apa phi Aila hamil lagi?" Kinan akhirnya melepaskan kalimat yang sudah bersarang dikepalanya sejak melihat Varen muntah muntah dipagi hari sejak beberapa hari terakhir.
"Sepertinya begitu."
"Phi tidak ingin menemui phi Aila?"
Gengsinya sangat tinggi untuk langsung menemui istrinya itu. Jadilah dia memerintahkan Kinan untuk datang ke desa tempat Aila tinggal.
"Sore ini juga terbanglah ke Indonesia. Pergilah ke desa tempat Aila tinggal. Tugasmu mulai menjaganya lagi, tapi dari jarak yang jauh, jangan sampai ketahuan olehnya." Titah Varen pada Kinan.
"Baik phi. Aku akan menjaga phi Aila."
Sore itu Kinan terbang ke Indonesia dan dia langsung datang diam diam ke desa itu tanpa ketahuan oleh Aila dan Bhika. Tugas yang diberikan Varen padanya yaitu, Kinan menemui penduduk yang memberi pekerjaan pada Aila dan Kinan memerintahkan pada mereka untuk meringankan tugas Aila dan memberi Aila upah yang lebih dari sebelumnya.
"Saya akan memberi kalian uang setiap harinya pada kalian. Tapi, kalian harus menjaga rahasia ini. Jangan sampai nona Aila tahu bahwa saya yang memerintahkan kalian." Tergas Kinan pada para petani itu.
"Itu sih tugas gampang. Tapi anda ini siapanya teteh Aila. Dia gadis baik yang sangat disukai oleh hampir semua orang di desa ini. Tentu kami tidak akan tega jika menjadikan teteh Aila sebagai sumber uang untuk kami." Sahut salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Sebenarnya saya adalah ajudan dari suaminya nona Aila. Saat ini nona Aila tengah hamil, jadi suaminya ingin menjaganya. Hanya saja sekarang mereka sedang dalam keadaan yang berjauhan, suaminya sekarang bekerja di Thailand." Tutur Kinan menjelaskan.
Semua orang yang mendengarpun terkejut. Mereka tidak yakin Aila telah bersuami.
"Jangan membohongi kami, teteh Aila belum punya suami." Protes mereka.
Kinan tidak tinggal diam. Dia memperlihatkan buku nikah Aila dan Varen pada mereka semua. Dan akhirnya merekapun percaya.
"Tapi ingat, semua ini hanya rahasia diantara kita. Jika sampai berita ini menyebar tanpa izin, maka saya akan membuat kalian sensara." Ancam Kinan pada mereka.
"Kami akan menjaga rahasia ini sampai kami mati. Ini demi kebaikan teteh Aila." Jawab mereka serentak.
Kinan tersenyum senang, karena penduduk desa ini sangat mudah diajak bekerjasama. Tugas Kinan pun terasa lebih ringan. Dia hanya perlu mengawasi Aila dari jauh sambil ngopi dan baca majalah.
Sementara itu, Aila sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Para petani memberinya tugas yang mudah dan ringan untuk dikerjakan setiap harinya, berbeda dengan sebelumnya. tugas Aila lumayan berat. Dan saat memberi upah pun, Aila terkejut karena diberi upah lebih banyak dari biasanya.
"Maaf bapak, tapi ini upahnya kebanyakan?" Tanya Aila memperlihatkan isi amplopnya.
"Iya memang teteh. Semua itu untuk teteh, karena hasil sawah meningkat pesat. Saya menaikkan upah teteh." Jawab salah seorang petani.
"Oh begitu ya pak. Kalau begitu terimakasih banyak bapak. Semoga hasil sawahnya tambah banyak. Aamiin."
"Aamiin."
Aila dan Bhika pulang dengan perasaan lega karena upah harian mereka dinaikkan. Dan mereka tidak curiga sama sekali. Mereka pikir itu karena memang penduduk yang berbaik hati. Sehingga makin hari Aila dan Bhika makin nyaman tinggal di desa ini.
Sampailah suatu sore, Aila dan mamanya baru hendak pulang dari kebun semangka. Tapi hujan turun dengan derasnya sehingga Aila dan mamanya terlambat tiba di rumah. Dan begitu tiba di rumah Aila malah mual dan muntah serta pusing kepala.
__ADS_1
Mengetahui apa yang terjadi pada Aila, Kinan tidak tinggal diam. Dia segera mengabarkan kondisi Aila pada Varen yang ada di Thailand. Dan saat itu juga Varen lansung meninggalkan pekerjaannya untuk segera terbang ke Indonesia. Dia tidak peduli lagi pada apapun. Yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya bisa sampai di tempat Aila dengan cepat.