Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 76


__ADS_3

Hampir satu jam pertempuran itu, akhirnya Tiger bisa menaklukkan Snake. Kini Snake terikat kuat pada tiang gerbang mansion, dengan pasukannya yang juga sudah tumbang dengan luka luka ringan dan juga cukup parah di tubuh mereka.


"Bereskan mereka semua. Kirimkan mereka pada kepolisian lengkap dengan bukti bukti yang telah kita kumpulkan." Titah Tiger pada anak anak buah Lion.


"Siap Tiger."


Beruntungnya tidak satupun anak buah Lion yang berkhianat seperti anak buahnya. Jadi, wajar saja Lion king dinobatkan sebagai mafia terkuat dan tak terkalahkan.


Saat semua pasukan Snake dibawa pergi, justru Snake king masih dibiarkan terikat erat di tiang gerbang oleh Tiger.


"Tunggulah disini sedikit lebih lama, tuan Arnold. Besok saya akan memberikan kejutan yang dahsyat untuk anda." Bisik Tiger.


"Ah, ya. Saya rasa, saya harus meminta maaf karena tidak sengaja membunuh putra anda."


"Mmmm--" Arnold hendak memaki dan marah, tapi mulutnya ditutup erat dengan lakban.


"Sungguh, saya tidak bermaksud membunuh putra anda. Tapi, dia yang memancing saya untuk membunuhnya. Jadi, maafkan saya." Tiger menundukkan kepalanya tulus. Dia benar benar minta maaf. Bukan mengejek, hanya meminta maaf secara tulus.


"Anda tidak perlu khawatir, Adrian sudah saya makamkan di tempat yang sama dengan phi Tam dan Dino."


Tiger hendak melangkah masuk ke mansion, tapi langkahnya terhenti. Dia menoleh kearah Arnold sekali lagi. "Terimakasih karena sudah menguburkan jasad Jack ditempat yang layak. Dan terimakasih juga karena mengirimkan Juno dan Sarwa ke rumah sakit jiwa."


Ya. Setelah melihat Tam terbakar di mansion Tiger, Arnold melihat Juno dan Sarwa bertingkah aneh seperti orang gila. Mereka shok hingga kehilangan kewarasa, dan Arnold yang malas melihat dua orang itu meminta Baron mengirimkan mereka ke rumah sakit jiwa.


Setelah mengucapkan rasa terimakasihnya, Tiger benar benar meninggalkan Arnold. Tidak. Arnold tidak benar benar ditinggalkan. Justru Seon, Adit, Adam, Taw dan Vac mengawasinya.


Oh kita tidak menemukan Rey dan Vio di mansion Lion atau pun Vila. Ya, benar. Mereka sudah kembali ke kehidupan normal. Mereka memutuskan untuk kembali pada kuarga mereka dan melanjutkan hidup sebagai manusia biasa.


Tiger juga memberi tawaran pada rekan rekannya, jika ingin berhenti dari dunia mafia maka Tiger akan melepaskan mereka secara cuma cuma. Tidak ada hukuman ataupun denda seperti perjanjian awal saat mereka memutuskan untuk bergabung.


...🐯(NATM)🐯...


Kini Varen hanya berdua saja dengan Aila di kamar. Bhika sudah kembali ke kamarnya ditemani madam Susan. Sementara Lyn dan Pin pergi menemui Ririn di ruangan khusus tempatnya mengerjakan tugasnya untuk mengirimkan bukti korupsi yang dilakukan Arnold di MD group.


Suasana menjadi canggung. Tidak seperti dulu waktu Varen masih sok sok angkuh dan arrogant bila menemui Aila. Keduanya hanya duduk diam diatas kasur saling fokus menatap kearah yang berlawanan. Mereka seperti pengantin baru yang menikah karena perjodohan. Malu malu dan terasa sangat canggung.


"Mmm, apakah kamu sudah baik baik saja?"


Akhirnya Varen yang mulai membuka obrolan.


"Maksud tuan baik bagaimana?" Tanya Aila tanpa berani menatap kearah Varen.


"Maksudku, apakah kamu tidak merasa sakit lagi paska keguguran."

__ADS_1


"Sudah baik baik saja. Hanya terkadang masih ada rasa nyilu. Tapi sudah tidak sakit kok. Karena waktu itu, dokter membiusku saat mengambil paksa calon bayi kita." Tutur Aila yang sudah lebih tenang, tidak seperti sebelumnya yang masih merasa sangat terluka.


"Syukurlah."


Varen menggeser posisinya mendekat pada Aila yang duduk di samping kirinya. Begitu bahu Varen menyenggol bahu Aila, tanpa menunggu lama, dia langsung merebahkan kepalanya dibahu itu. Bahu yang selalu membuatnya nyaman dan merasa jauh lebih baik.


"Maafkan aku, karena begitu sering mengucapkan kata kata yang menyakiti kamu." Ujar Varen, menyesal.


"Aku sudah memaafkan tuan."


"Bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan tuan?"


Aila menggeleng. "Jika tidak memanggil begitu, aku harus memanggil tuan dengan sebutan apa?"


"Mmm, bagaimana kalau sayang?"


Tiba tiba pipi Aila terasa hangat, pipinya merah merona. Andai Varen melihat itu, dia pasti akan merasa Aila sangat menggemaskan.


"Kenapa diam? Apa kamu tidak mau memanggilku dengan panggilan sayang?"


"Tidak. Memalukan." Sahut Aila cepat.


Varen tersenyum, lalu dia menyelipkan tangan kirinya dibalik punggung Aila untuk bisa memeluknya.


"Iih apaan. Nggak mau."


"Sayang--"


Varen menggoda Aila dengan terus memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Aku tidak akan memanggil tuan seperti itu."


"Tidak apa. Biarkan aku memanggilmu, sayang. Sayangku Aila. Istriku tercinta." Bisiknya ditelinga Aila yang membuat Aila semakin merona.


"Bolehkah aku menciummu, sayang?"


Varen mendekatkan wajahnya kewajah Aila, tapi dengan cepat Aila menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya hingga bibir Varen mencium punggung tangannya.


"Sayang tidak mau aku cium?" Mencoba menggeser tangan Aila yang menutup wajahnya.


"Aku malu, tuan."


"Kenapa harus malu, bukankah sebelumnya kita sering melakukan ini. Bahkan kita saling melepas pakaian."

__ADS_1


"Tuan yang memaksaku untuk melepas pakaianku. Aku tidak pernah." Bantah Aila yang malah menyembunyikan wajahnya didada bidang Varen.


"Sayangku menggemaskan sekali."


"Aku malu, tuan."


Varen melingkarkan kedua tangannya memeluk erat tubuh Aila. Diciumnya berkali kali puncak kepala Aila yang sudah tidak tertutup hijabnya.


"Sayang memakai shampoo berbeda?" Tanya Varen yang menyadari bau rambut Aila tidak seperti dulu lagi.


"Apa tuan lupa kita sedang berada di mana? Tentu saja aku memakai samphoo yang berbeda." Rutuknya.


"Tapi aku suka. Aku suka bahkan jika sayang mencuci rambut tampa memakai shampoo sekalipun." Mencium lagi puncak kepala Aila tanpa ada bosan bosannya.


"Kapan tuan akan membawaku pergi dari tempat ini?"


"Sekarang pun bisa. Tapi, kita mau pergi kemana sayang? Ke Indonesia, Korea, Singapura, Malaysia atau malah ke London?"


"Mmm, bagaimana kalau kembali ke Indonesia. Aku rindu rumah masa kecilku, tuan."


"Baiklah. Permohonan di terima. Besok kita akan terbang ke Indonesia dan menetap disana untuk selamanya."


Aila mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Varen. "Benarkah, tuan?"


"Tentu, sayang. Apakah sayang senang?"


Aila mengangguk dengan cepat. Dia bahkan mencium pipi Varen secara cepat dan tiba tiba yang membuat Varen mematung.


"Bisakah sayang ulangi lagi?" Goda Varen dengan mendekatkan lagi pipinya pada Aila yang sudah melepaskan pelukan mereka.


Tanpa protes, Aila malah memberikan ciuman di bibir suaminya yang berakhir dengan balasan dari Varen yang menuntun ciuman itu menjadi lebih manis dan menyenangkan.


"Panggil aku sayang. Atau aku akan menghukum sayang semalaman." Bisik Varen yang membuat Aila merinding.


"Sayangku, suamiku." Ucap Aila sangat pelan sambil menundukkan wajahnya tak berani membalas tatapan Varen.


"Aku tidak mendengarnya, Aila. Bisakah diulang lagi, sayang."


"Tidak mau." Pekik Aila yang sudah bersembunyi dibawah selimut.


"Kalau begitu, sayang harus dihukum."


Varen ikut masuk kebawah selimut untuk memberikan hukuman pada Aila. Hukuman seperti apa? Entahlah hanya mereka yang tahu dan jadilah dunia ini hanya milik mereka berdua saja.

__ADS_1


__ADS_2