Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 52


__ADS_3

Aila mulai nyaman tinggal di vila. Sesekali jika sedang tidak bertugas, Pin dan Lyn mengunjunginya sekedar untuk bermain bersama dan mengobrol hal hal yang membahagiakan. Sementara Tiger dalam dua minggu terakhir baru tadi malam menemuinya lagi.


Pagi menyapa. Aila kini duduk bermenung di halaman depan vila, menatap indahnya hamparan bunga matahari dan juga bunga tulip yang tumbuh dengan cantiknya. Tapi, dia merasa sedih karena tidak bisa menatap wajah suaminya saat bangun untuk sholat subuh tadi.


"Padahal aku masih sangat merindukannya. Ya, walaupun dia kejam dan selalu menyakiti hatiku. Tapi, dia tetap suamiku dan aku masih merindukannya."


"Nona Aila, makanlan sarapan dulu." Seorang maid cantik membawakan salad buah untuk Aila atas perintah Tiger sebelum pria itu meninggalkan vila subuh tadi.


"Terimakasih, Nam."


Aila mengambil mangkuk berisi salad buah itu dari nampan yang dibawa Nam, kemudian Nam meletakkan segelas susu diatas meja kecil didepan Aila.


"Salad buah dan segelas susu ini spesial dibuat sendiri oleh Tiger untuk, nona Aila." Ungkap Nam sambil tersenyum.


Uhuukk--


Aila tersedak, padahal saladnya masih belum masuk ke mulutnya.


"Ini minumnya, nona." Dengan sigap Nam mendekatkan segelas susu pada Aila yang langsung disambut oleh Aila dan meminumnya.


Rasa susu itu hambar. Aila rasa ada yang aneh, apa Tiger sengaja tidak menambahkan gula, atau dia lupa. Melihat wajah bingung Aila, membuat Nam kembali bertanya.


"Apa rasa susunya tidak enak, nona?"


"Oh ini hambar. Apakah mungkin Tiger lupa menambahkan gula, ya--"


Nam tersenyum, "Ini susu khusus untuk ibu yang sedang hamil."


Uhuuukkkk


Aila kembali tersedak saat maid itu mengatakan bahwa susu itu susu untuk wanita hamil. Mengapa Tiger memberinya susu seperti ini, sementara dia belum hamil.


"Nona Aila baik baik saja?" Maid tampak khawatir.


"Ya, saya baik. Tapi, saya belum hamil--" Ucapnya ragu dengan wajah yang memerah.


"Tapi, Tiger bilang kami semua harus menjaga nona Aila dengan baik, karena nona Aila sedang hamil."

__ADS_1


"APA? TIDAK. Saya tidak. Saya rasa belum, saya belum hamil. Kalian tidak usah terlalu mempercayai ucapan Tiger." Teriak Aila yang mulai heboh sendiri. Dia tampak salah tingkah sambil sesekali memegangi wajahnya yang terasa panas.


Aku baru telat tiga hari dengan hari ini, mana mungkin aku hamil. Masih normal kok untuk telat tiga atau empat hari. Pikirnya mencari pembelaan untuk sekedar menenangkan dirinya.


"Tiger muntah berulang kali pagi ini dan itu sudah terjadi sejak tiga hari yang lalu, katanya. Tiger muntah hanya karena mencium bau parfum kesukaannya. Jadi, madam Susan yang memberi tahu pada Tiger, kemungkinan nona Aila sedang mengandung." Tutur Nam dengan raut wajah senang.


"Muntah? Tiger muntah karena bau parfum kesukaannya?"


"Iya nona. Sungguh romantis bukan? Tiger menggantikan nona Aila mengalami muntah di pagi hari."


"Hah-- haahahaa---" Aila tertawa dipaksakan. Dia benar benar salah tingkah. Dan tanpa sadar tangannya mengelus area perut yang masih datar itu.


Benarkah aku hamil? Lalu, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Jika benar aku hamil, Tiger pasti akan sangat marah padaku, dia tidak menginginkan bayi ini. Apakah dia akan membunuh kami---


Pada akhirnya, Aila mulai percaya bahwa dirinya benar benar tengah mengandung.


...🐯(NATM)🐯...


Lagi dan lagi, Tiger muntah saat sedang memberikan pengarahan pada anak anaknya. Hal itu membuat mereka semua menjadi bingung. Terutama Juno, dia bahkan bersiap untuk memberikan obat pada Tiger, tapi dia menolaknya dengan alasan nanti akan membaik meski tanpa mereguk obat.


Aku tidak boleh lemah seperti ini. Misi ini bahkan belum berlangsung.


"Dewi kembali di kurung di penjara bawah tanah, Tiger. Dan ini peta yang dibawanya." Seon mengulurkan dua lembar kertas tebal peta rahasia. Tiger tahu peta yang kini ada di tangannya adalah copy-an.


Rupanya pengkhianat itu sudah lebih dulu mengambil peta dan sengaja menjadikan Dewi sebagai umpan seolah aku akan percaya bahwa Dewi yang mengambil peta untuk di berikan pada Snake.


"Sementara awasi dia. Sial, harusnya aku langsung menemb-- ah tidak. Aku tidak boleh mengatakan kata kasar itu."


Kaliamat Tiger barusan membuat mereka saling bersitatap. Tiger sangat aneh sejak kembali dari vila pagi ini.


"Perintah untuk kalian semua. Mulai hari ini, cobalah untuk tidak melakukan pembunuhan atau penyiksaan pada apapun dan siapapun!"


"YA??!" Serentak mereka terperangah mendengar perintah Tiger. Bagaimana mungkin mereka tidak melakukan tugas itu saat di medan perang.


"Tiger, apa anda baik baik saja?" Juno merasa sesuatu terjadi.


"Ya, saya baik-- hueeekk!"

__ADS_1


Tiger kembali muntah.


"Nona Aila hamil?" Tanya Juno memastikan.


Semua mata kembali saling bersitatap saat mendengar apa yang ditanyakan Juno pada Tiger yang masih menunduk menghadap tong sampah disampingnya.


"Jika bukan karena nona Aila, berarti anda muntah karena nona Sarwa." Lanjut Juno.


Dengan cepat Tiger menggeleng. "Jangan sebut nama wanita itu. Aku membiarkannya hidup, karena phi Tam. Dan aku tidak menghabisinya dan janinnya karena aku tidak ingin membuat Aila merasa takut dan benci padaku."


Tiger sangat terang terangan mengungkapkan perasaannya pada Aila. Haruskah mereka merasa bahagia? Tapi, bagaimana mereka bisa bahagia, saat mengingat Aila adalah putri dari Lion king mangsa yang telah ditunggu Tiger sejak dua puluh tahun lalu untuk di habisinya.


"Tiger. Ini bukan saatnya untuk mengungkapkan perasaan anda pada nona Aila. Maaf jika aku tidak sopan. Tapi, saat ini Snake dan Lion sedang menyusun rencana untuk menyerang kita. Dan sebab penyerangan itu karena mereka ingin mengambil nona Aila dan Hubo."


Suara itu milik Seon. Dia sengaja mengatakan itu untuk mengembalikan Tiger pada kedudukan yang sebenarnya. Ya, Tiger seorang pimpinan mafia yang sangat kuat, hebat dan penuh dendam. Tapi, sejak kehadiran Aila, Tiger perlahan lahan berubah dan itu membuat Seon merasa tidak senang.


"Kau benar Seon. Harusnya kau tidak usah mengingatkan itu, karena aku tidak pernah melupakan itu." Suara Tiger kembali pada mode serius, suara berat yang khas membuat orang yang mendengarnya merinding.


"Adit, siapkan pasukanmu pada formasi siaga."


"Siap, Tiger."


"Seon, siapkan pasukanmu untuk melakukan perburuan segera. Sekaligus perintahkan juga anak anak untuk mengawasi terowongan bawah tanah."


"Siap, Tiger."


"Jack kembali ke posisimu, dengarkan semuanya. Jangan sampai kita ketinggalan satu informasipun."


"Siap, Tiger."


"Kinan, Pin dan Lyn. Kalian bertiga harus saling melindungi."


Kedua wanita cantik itu menatap pada Kinan yang juga menatap bergantian pada mereka sambil saling tersenyum. Kinan dan Pin merasa bahagia, karena Lyn diperintahkan untuk berada di tim mereka kali ini. Bekerjasama sebagi tim sungguh menyenangkan bagi mereka yang memang sangat akrab dan satu frekuensi.


"Siap, Tiger."


"Dan kau Juno. Tolong siapkan dirimu dengan segala obat obatan untuk menyelamatkan yang mungkin saja nanti akan mendapatkan sedikit cidera."

__ADS_1


"Siap, Tiger."


Setelah mendapatkan tugas masing masing, mereka pun segera meninggalkan ruangan Tiger. Sementara Tiger kembali muntah lagi dan lagi hingga rasanya seluruh tenaganya terkuras habis. Dia merasa sangat lemah tidak berdaya, ini yang pertama kali dia rasakan seumur umur menjadi pimpinan kelompok mafia.


__ADS_2