
Sudah hampir lima bulan Varen tinggal di mansion dan kembali melakukan transaksi senjata ilegal seperti dulu. Sementara Aila kini berada di Villa, dia dirawat oleh dua orang dokter kejiwaan kepercayaan Varen.
Hari ini, Varen menyempatkan diri menjenguk istrinya itu yang sudah hampir sebulan tidak pernah dia temui, karena kesibukannya membangun kerajaannya lagi dari awal.
"Bagaiamana perkembangannya, dokter?" Tanya Varen.
Dia duduk di samping Aila yang terbaring tidur di atas ranjang dengan keadaan tangan terikat.
"Maafkan kami tuan. Nyonya Aila tidak mengalami perubahan sama sekali. Jika kami melepaskan ikatan di tangannya, dia akan langsung menggigit pergelangan tangannya. Dia masih terus berusaha bunuh diri." Tutur dokter itu menjelaskan.
"Kalian silahkan keluar. Saya ingin berdua saja dengan istri saya." Titahnya mengusir kedua dokter itu.
Mereka pun langsung meninggalkan kamar itu. Dan begitu mereka telah pergi, Varen langsung membuka ikatan di tangan Aila. Lalu, di kecupnya dahi Aila sangat lama.
"Aku merindukanmu, sayang. Aku mohon, kembalilah seperti dulu. Jadilah Aila-ku yang dulu." Bisik Varen yang mulai meneteskan air matanya.
Perlahan mata Aila membuka, Varen juga dapat merasakan tangan Aila bergerak melingkar di lehernya.
"Sayang? Kamu sudah bangun.."
Varen menatap wajah Aila yang tersenyum manis padanya. Senyum itu senyuman yang hampir lima bulan terakhir tidak pernah dilihatnya lagi.
"Aila, kamu mengenalku, sayang?"
Aila menggangguk, lalu dia memeluk Varen sangat erat. Varen pun membalas pelukan itu dengan sangat erat, penuh kasih sayang dan kerinduan.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku.." Ujar Varen.
"Mas, maukah mas menemaniku, tetap disampingku semalaman..." Tanya Aila pada Varen.
"Tentu sayang, aku akan disini bersamamu." Varen bahkan tidak mau melepas pelukannya dari sang istri.
Aila tampak baik baik saja. Bahkan tidak ada tanda tanda aneh yang menunjukkan gejala gangguan jiwa padanya seperti sebelumnya. Varen sendiri sebenarnya merasa aneh, tapi dia tidak akan mempertanyakan itu. Saat ini yang dia butuhkan adalah istrinya, dia akan selalu disamping istrinya memeluknya dengan erat semalaman seperti yang istrinya mau.
"Apa sayang tidak lapar?" Tanya Varen saat mereka hampir setengah jam dalam keadaan saling berpelukan.
"Lapar, tapi aku tidak mau mas pergi walau sebentar saja untuk mengambil makanan." Rengeknya manja sambil menambah erat pelukannya.
Varen tersenyum senang mendengar rengekan manja istrinya, dia juga menambah erat pelukannya. Tapi, kali ini Varen mengganti posisi mereka yang berpelukan sambil duduk, menjadi berbaring.
__ADS_1
Varen berbaring miring untuk menatap wajah cantik Aila yang sangat dirindukannya.
"Sayang mau makan apa? Mas akan menyuruh seseorang mengantar makanan untuk kita."
"Aku ingin makan kamu, sayang." Bisik Aila yang membuat Varen tersenyum senang.
"Kamu yakin?"
Aila mengangguk malu malu, dia bahkan menyembunyikan wajah bersemu merahnya di dada bidang suaminya.
"Apa keadaanmu baik baik saja? Apa tidak apa kita melakukan itu?" Tanya Varen lembut sambil menciumi puncak kepala Aila.
Ya, tentu Varen sangat rindu sentuhan dan belaian dari istrinya. Dia juga sudah menahan hampir lima bulan terakhir keinginannya untuk bisa membelai dan menyusuri seluruh lekuk tubuh istrinya. Varen menahan dengan baik, tentu dengan cara menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
Dia benar benar setia pada satu wanita yaitu istrinya Aila. Bahkan saat Aila tak bisa memberikan haknya sebagai suami, Varen tetap sabar dan tidak mengalihkan hasrat itu pada wanita lain seperti saat dulu sebelum dia bertemu Aila.
"Aku baik baik saja, mas. Aku mau itu..." Rengek Aila.
"Kamu sangat menggemaskan sekali sayang." Varen mengusak kepala Aila, lalu menciumnya dan beralih posisi.
Kini Varen sudah berada di atas Aila dengan menjadikan kedua sikunya sebagai penyanggah agar tidak benar benar menimpa tubuh mungil Aila. Dia mengungkung tubuh mungil istrinya yang merona menatap penuh kerinduan padanya.
"I love you tuan Mafia." Ucap Aila sambil menyentuh wajah Varen.
"Aku sangat mencintaimu, mas. Hanya kamu satu satunya yang aku punya. Hanya kamu satu satunya alasanku masih bertahan. Tentu aku tidak suka mas kembali ke dunia hitam ini. Karena aku sangat takut kehilangan kamu, mas. Tapi, aku tidak punya hak untuk melarangmu."
Jawaban Aila membuat Varen merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya untuk tidak membawa Aila lagi ke dunia hitam. Tapi, menurutnya hanya dengan cara ini dia merasa punya kemampuan untuk melindungi Aila.
"Maafkan aku sayang." Varen mencium kening Aila sangat lama hingga air matanya menetes.
"Tidak perlu meminta maaf, mas. Aku yang harusnya minta maaf. Karena mas menjadi seperti ini juga untuk melindungiku, bukan?"
Aila menarik wajah Varen agar berhenti mengecup keningnya. Kini wajah itu dia bawa untuk sejajar dengannya dan Aila pun mulai menyatukan bibir mereka.
Kini, dua insan itu sudah kembali bersatu dalam indahnya ikatan penuh kasih dan kerinduan. Varen lepas kendali, dia benar benar menikmati sentuhan sentuhan itu dan juga memberikan sentuhan sentuhan hangat penuh kasihnya pada Aila.
Mereka tidak melakukannya sekali, tapi sesuai kemauan Aila mereka melakukannya semalaman. Meski Varen hampir berhenti saat melihat Aila tampak kelelahan, tapi Aila memintanya untuk tidak berhenti.
Aila benar benar membuat Varen berpikir sesuatu akan terjadi. Karena Aila mengekspresikan rasa rindunya seakan ini adalah yang terakhir diantara mereka. Hal itu juga yang membuat Varen akhirnya menyentuh Aila bertambah semangat dan bahkan sampai membuat Aila menrintih puas. Varen pun memperlakukan Aila seakan malam ini adalah yang terakhir bagi mereka.
__ADS_1
"Maafkan aku mas. Maafkan aku. Aku harus pergi meninggalkan kamu. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak akan sanggup jika harus melihatmu bersimbah darah di depan mataku. Sungguh maafkan aku mas." Bisik Aila pelan tapi tidak dihiraukan oleh Varen karena dia sibuk merasakan indahnya penyatuan rindu.
Sebenarnya sesuatu telah terjadi pada Aila. Saat Sayyidah meninggal, seseorang mendatangi Aila. Dia memberi Aila pilihan dan Aila harus memilih antara dua. Melihat Varen mati berdarah darah dihadapannya atau berpura pura gila karena kehilangan Sayyidah dan menjadi mata mata untuk mereka.
Tentu saja Aila memilih berpura pura menjadi gila, dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Dan sebenarnya, dua dokter yang merawatnya adalah bagian dari musuh Tiger.
Kemarin malam, Aila kembali di temui oleh orang yang pernah memberi pilihan padanya. Pria itu mengatakan dia akan menjebak Tiger malam ini untuk membunuh Tiger. Jika Aila ingin menyelamatkan Tiger, maka sebagai ganjarannya, Aila harus mencuri peta menuju pabrik senjata dan mememberikan pada mereka paling lambat besok.
Dan Aila menyetujui itu, dengan syarat dia ingin menghabiskan waktu bersama Tiger semalaman seperti saat ini. Sementara dua dokter tadi pun dengan mudah masuk keruang kerja Tiger untuk mengambil peta tersebut tanpa dicurigai oleh siapapun.
Aila mengkhianati Tiger demi menyelamatkan nyawa Tiger. Bagaimana reaksi Tiger saat mengetahui istri tercintanya telah mengkhianatinya?
"Maafkan aku suamiku." Bisik Aila dalam hatinya sambil memeluk erat tubuh suaminya.
Tidak terasa, pagi menjelang. Varen masih tertidur lelap. Dia sangat kelelahan setelah bertarung semalaman dengan Aila. Tapi, Aila sudah bangun.
"Selamat pagi suamiku." Bisik Aila. Lalu dia mencium seluruh wajah suaminya dan mencium punggung tangannya sebelum dia kembali berpura pura gila.
Setelah itu, Aila ke kamar mandi, dia mandi dengan bersih lalu berganti pakaian. Setelah itu, Aila pun mulai berpura pura gila lagi. Dia mengamuk, berteriak histeris dan melempar barang barang yang ada di sekitarnya.
Suara berisik Aila membangunkan Tiger, betapa terkejutnya dia melihat Aila kembali mengamuk.
"Sayang, Aila tenanglah!"
Varen melompat dari atas kasur, dia berlari menghampiri Aila, lalu memeluk erat tubuh Aila mencoba menghentikan amukannya.
"Aku mohon tenanglah sayang.." Varen mengelus punggung dan kepala Aila sambil mengecup puncak kepalanya berkali kali.
Air mata Aila menetes saat itu. Dia pun langsung tenang dan berpura pura pingsan.
"Aila, sayangku.." Varen panik, segera dibawanya tubuh Aila untuk kembali di baringkannya di kasur.
Kemudian, Varen kembali mengenakan pakaiannya, lalu dia menelpon dokter untuk segera ke kamarnya.
"Sayang, maafkan aku. Ya Allah, ampuni aku… Aku mohon jangan biarkan istriku menjadi seperti ini terlalu lama." gumam Varen sambil membelai wajah Aila penuh kasih dan ketulusan.
🐯🐯
...Halo semuanya, Tiger dan Aila kembali lagi....
__ADS_1
...Mohon dukungannya, Kritik dan Saran juga yaaaa......
...Salam kenal dari Author untuk Readers baru dan salam sayang dari Author untuk Readers lama.. 😍😘😄...