
"Kenapa lama sekali, nona Aila!"
"Tiger!"
Aila yang masih dalam keadaan kaget berteriak asal menyebutkan nama. Dan dengan segera pula dia membekap mulutnya sendiri saat mendapati kedua mata pria itu melotot padanya.
"Maafkan saya, tuan."
Suasana terasa mencengkam. Aila mulai merinding. Dia menyesal berteriak menyebut nama besar pria itu.
Apakah dia akan langsung menembak kepalaku? Tidak. Aku belum sholat magrib, setidaknya izinkan aku sholat terlebih dahulu. Aku mohon! Bisiknya dalam hati sambil memejamkan mata.
Telinga Aila dapat mendengar jelas suara hentakan langkah kaki Tiger mendekat padanya. Dalam keadaan seperti ini, Aila hanya bisa pasrah.
"Beribadahlah dulu." Tangan Tiger mengelus lembut kepala Aila yang terbungkus hijabnya.
"Ha?!" Aila mendongak untuk menatap wajah Tiger, dia ingin memastikan apa yang didengarnya barusan tidak salah.
"Bukankah ini sudah waktunya kau untuk beribadah?" Ulang Tiger.
"Iya, tuan."
"Kalau begitu pergilah laksanakan ibadahmu. Aku akan sabar menunggu sampai kau selesai berdialog dengan Tuhan."
"Baik, tuan."
Tiger menjauh dari tubuh Aila, saat itulah Aila langsung melangkah cepat menuju satu pintu yang dapat dia pastikan pintu itu akan mengantarnya ke kamar mandi. Namun, begitu tangannya hendak memutar ganggang pintu, ia menoleh kearah Tiger yang hendak duduk di pinggir ranjang besar, mungkin ukuran king size.
"Tuan--"
Mendengar Aila memanggilnya, Tiger pun menoleh. "Ada apa? Apa kau lupa membawa seragam ibadahmu?"
"Bukan. Bukan itu."
"Lalu, apa?"
Aila menarik napasnya berulang kali, dia masih berdebat dengan dirinya sendiri, haruskan mengatakan apa yang diinginkannya atau tidak.
"Katakan Aila. Kau tahu aku tidak suka berbasa basi."
__ADS_1
Bismillah...
"Maukah tuan ikut sholat bersamaku?" Aila mengatakan itu dalam satu tarikan napas dan dengan memejamkan matanya.
Wajah Tiger datar saat mendengar permohonan Aila barusan. Meski begitu, matanya tampak tajam menatap mata Aila yang terkatup erat.
"Seumur hidup aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Jadi, meski aku setuju pun, aku tetap tidak bisa melakukannya."
Jawaban lembut yang keluar dari mulut Tiger membuat Aila memberanikan diri membuka matanya dan tersenyum pada suaminya itu.
"Tuan masih ingat cara berwudu?" Selidik Aila.
"Ya, aku rasa aku masih mengingat caranya."
"Kalau begitu, mari ikut aku berwudu terlebih dahulu."
Sebentar Tiger tampak berpikir. Lalu, dia pun melangkah menghampiri Aila. "Baiklah."
Senyum lebar menghiasi wajah Aila. Akhirnya dia berhasil membuat suaminya perlahan luluh dan lembut padanya.
Tiger mengangkat tinggi lengan kemejanya. Tidak lupa dia juga menaikkan celananya sampai ke bagian tengah betisnya. Lalu, dia mengikuti gerakan Aila saat mengambil air wudu sampai selesai.
Tiger hanya diam memperhatikan tanpa mau bertanya apa yang Aila lakukan.
"Angkat tangan tuan seperti ini." Ucap Aila yang menengadahkan tangannya dan berdiri menghadap kiblat. Tanpa protes, Tiger pun menurut.
Aila membaca doa setelah berwudu. Barulah kemudian dia menarik lengan Tiger yang sudah terbungkus rapi lagi oleh lengan kemejanya untuk ikut berdiri disampingnya.
"Tuan ikuti setiap gerakan. Jika aku mengatakan Allaaahu akbar, maka itu artinya gerakannya akan berganti." Begitu semangatnya Aila menjelaskan dan mempraktekkan gerakan sholat pada Tiger.
"Oke. Aku bisa." Tiger sudah hafal gerakannya dengan sekali lihat saja dan dia tidak melakukan protes sama sekali, dia menjadi sangat penurut pada Aila malam ini.
Aila pun mulai khusuk dalam sholatnya dan Tiger mengikuti. Mereka memang berdiri sejejar, karena Aila hanya berusaha mengajari Tiger saja. Tidak mungkin dia meminta Tiger berdiri di depan sebagai imam, karena Tiger belum bisa sholat. Dan Aila tentu saja tidak mungkin menjadi imam dalam sholat untuk suaminya itu. Karena itulah posisi berdiri mereka sejajar, seperti saat seorang ibu mengajari anaknya sholat.
Tiger mengikuti setiap gerakan dengan sangat baik, meski dia harus mengintip saat sujud, karena tidak bisa melihat jelas apakah Aila sudah bangkit dari sujudnya atau belum.
Akhirnya sholat itu selesai. Aila pun langsung melantunkan satu doa yang dikhususkannya untuk Tiger dan juga dirinya sendiri. Saat Aila mengangkat tangan untuk berdoa, Tiger juga mengikutinya.
"Allahumma inni Zholamtu Nafsi Zull-man Katsiran Walaa Yagh-firu Zunuuba illa Anta, Fagh-firli Min indika Magfirotan Innaka Antal Rghofuu Rur-rahim"
__ADS_1
(Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku sendiri dengan kedzaliman yang besar. Dan tiada siapa yang akan mengampuni dosa dosaku melainkan Engkau. Maka ampunilah aku dengan keampunan yang besar dari pada sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau maha pengampun lagi maha pengasih.)
"Aamiin ya Robbal 'alamiin." Aila mengakhiri doanya dengan mengusapkan telapak tangannya ke seluruh wajahnya yang juga diikuti oleh Tiger.
Lalu, Aila meraih tangan Tiger dan mencium punggung tangan kanan itu dengan penuh syukur. Ya Aila merasa bersyukur karena Allah menitipkan pria baik sepertinya yang mau menikahinya meski tanpa mengenalnya sama sekali.
"Terimakasih, tuan."
Aila hendak melepaskan tangan Tiger, tapi sebelum itu terjadi, Tiger menarik tangan itu membawa tubuh Aila masuk dalam dekapannya.
Entah mengapa hatinya mulai terusik dan dia mulai takut kehilangan Aila. Hatinya mulai mengakui rasa ketertarikan yang ada untuk Aila. Tapi, setiap kali mengingat kedua orangtuanya, membuat Tiger merasa bersalah karena telah berani mencintai putri dari lelaki jahat yang membunuh kedua orangtuanya itu.
Ayah, ibu, Levanrino adikku-- maafkan aku karena menginginkan gadis ini. Aku takut kehilangannya, aku takut menyakitinya. Tapi, aku sangat menyesal untuk kalian.
"Tuan, bolehkan aku bertanya?" Suara lembut Aila mengembalikan Tiger dari lamunannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Mmm, aku ingin bertanya tentang Sunee--"
Mendengar nama itu keluar dari mulut Aila, membuat Tiger melepaskan pelukannya.
"Siapa yang memberitahumu tentang Sunee?"
"Lyn."
"Apa saja yang Lyn katakan tentang Sunee." Tiger kembali membawa tubuh Aila masuk dalam pelukannya.
"Mmm, Lyn bilang Sunee adalah gadis yang sangat tuan cintai."
"Apa kau cemburu?"
"Bolehkah aku cemburu?"
Kedua sudut bibir Tiger terangkat sempurna. Dia tersenyum senang mendengar pertanyaan Aila barusan. "Kau tidak perlu cemburu padanya. Dia sudah tidak ada di dunia ini."
"Berarti kalau Sunee masih ada di dunia ini, apa aku boleh cemburu padanya?" Aila mendongak, dia ingin melihat wajah Tiger, tapi sebelum Aila benar benar melihat wajahnya, Tiger lebih dulu menekan kepala Aila hingga kepala itu terbenam didadanya.
"Kau tidak berhak untuk merasa cemburu pada wanita manapun. Jangan lupa, posisimu tidak cukup menguntungkan untuk merasakan rasa remeh seperti itu."
__ADS_1
Setiap kali Varen memperlakukan aku dengan lembut, pasti akan ada kata kata yang membuatku sakit hati. Harusnya aku tidak usah bertanya saja. Lagi pula, apa hakku untuk merasa cemburu.