
Tiga bulan berlalu.
Adam kini menggantikan Ririn bekerja sebagai sekretaris Varen yang telah resmi menjadi CEO MD group karena semua sahamnya dari Mark holding telah ditransfer ke MD group. Sementara Aila dan Ririn hanya fokus menjadi istri yang tinggal di rumah. Dan Kinan diberikan tugas untuk menemani serta menjaga Aila dan Ririn saat saat mereka membutuhkan bantuannya.
Namun, selain menjadi penjaga Ririn dan Aila, Kinan juga bekerja sebagai hacker baik bersama pihak kepolisian untuk menangkap para penjahat negara. Selama Kinan berkerja sama dengan pihak kepolisian, begitu banyak penghargaan yang diperolehnya. Karena selama tiga bulan terakhir sudah begitu banyak penjahat yang berhasil di tangkap oleh pihak kepolisian dengan bantuan Kinan.
Pagi ini, Ririn meminta di antar ke klinik kandungan, karena sudah hampir dua bulan dia telat kedatangan tamu. Tentu saja, Kinan dengan senang hati mengantarkan Ririn berhubung dia juga sedang tidak ada tugas dari kepolisian.
"Phi Ririn hamil, kan?" Tebak Kinan. Dia sudah memutuskan memanggil Ririn dengan sebutan Phi yang artinya kakak dalam bahasa Thailand.
"Entahlah. Aku tidak berani untuk memeriksa menggunakan alat tes kehamilan. Aku takut kecewa. Jadi, lebih baik langsung memeriksakan ke dokter kandungan saja."
"Memang phi tidak merasa mual atau muntah di pagi hari, seperti kebanyakan wanita wanita hamil muda, gitu?"
"Tidak Kinan. Aku tidak merasakan apa apa. Hanya saja menstruasiku telat, dan nafsu makanku sangat meningkat. Lihatlah, bahkan pipiku membengkak." Celotehnya sambil menepuk nepuk kedua belah pipi bakpau-nya.
Kinan hanya bisa mengangguk saja menanggapi ocehan Ririn sambil terus fokus menatap jalanan di depan sana.
Dua puluh menit kemudian…
Mobil yang Kinan kendalikan akhirnya parkir tepat di depan klinik khusus untuk ibu dan anak. Kinan membukakan pintu mobil dan membantu Ririn untuk turun dari mobil dengan sangat hati hati. Lalu, Kinan juga memapahnya masuk ke klinik.
Begitu Ririn duduk di kursi tunggu, Kinan mendaftar dan mengambil nomor antrian di loket pendaftaran di depan sana.
Para staf dan perawat di klinik itu menatap kagum kearah Kinan. Wajah Kinan yang rupawan, serta tampilan gagahnya menarik perhatian mereka.
"Ganteng sih tapi sayang sudah punya istri." Gumam seorang perawat begitu Kinan melewatinya.
"Dia kakakku. Aku masih singel ngomong ngomong." Bisik Kinan menggoda perawat cantik itu.
Hal itu membuat pipinya merona dan tatapannya tertuju pada punggung Kinan yang semakin menjauh darinya.
Beberapa detik kemudian…
Kinan kembali menghampiri Ririn dan duduk di sebelahnya.
"Kau tertarik dengan perawat cantik itu?" Goda Ririn yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Kinan saat bicara pada perawat itu.
"Oh ayolah phi, itu tidak mungkin. Hatiku sudah tertambat pada gadis lain yang jauh lebih cantik dari wanita itu." Ujar Kinan.
"Benarkah? Siapa gadis beruntung itu.."
__ADS_1
"Rahasia."
"Baiklah. Kau mau main rahasia rahasiaan nih ceritanya. Kita lihat saja nanti. Phi pasti akan tahu siapa gadis beruntung itu."
Kinan hanya tersenyum menanggapi ocehan Ririn yang menggodanya.
"Nyonya Ririn!" Seru perawat cantik tadi memanggil Ririn.
"Benar nih nggak mau dibantuan mintak kontak WA perawat cantik itu?" Goda Ririn lagi.
"Tidak perlu phi. Sudah sana cepatan, dokter sudah menunggu." Ujar Kinan mengingatkan Ririn untuk segera masuk ke ruangan dokter.
Lima menit…
Tujuh menit…
Sepuluh menit…
Akhirnya Ririn keluar dari ruangan dokter dengan wajah tidak menunjukkan reaksi bahagia. Hal itu membuat Kinan khawatir. Segera saja dia menghampiri Ririn dan memapahnya untuk kembali ke mobil mereka tanpa bertanya apapun.
Begitu tiba di mobil, Kinan bahkan memasangkan sitbelt pada Ririn yang masih terus diam dengan wajah datarnya. Tidak ingin terlalu kepo, akhirnya Kinan melajukan mobilnya berpacu di jalanan yang mulai padat cenderung hampir macet.
"Kau tidak penasaran dengan hasilnya, nong?"
"Sejujurnya aku sangat ingin tahu hasilnya, phi. Tapi, aku pikir phi ingin merahasiakannya, jadi aku tidak akan bertanya."
Ririn tersenyum. "Aku hamil, nong. Akhirnya aku akan menjadi seorang ibu.."
Ririn tampak sangat bahagia mengungkapkan bahwa dia telah hamil dan sudah memasuki minggu ke sembilan. Sungguh hal yang luar biasa membahagiakan. Kinan pun ikut bahagia mendengar berita kehamilan Ririn.
Berbeda dengan Ririn, di kamarnya Aila justru sedang menatap garis satu pada hasil tes kehamilannya pagi ini. "Padahal aku sudah telat hampir dua minggu. Tapi, ternyata masih negatif." Gumanya sedih.
Tok…
Tok...
Bhika mengetuk pintu kamar Aila. Dia yang baru saja selesai memanggang cup cake buatannya sendiri, ingin mengajak Aila untuk mencicipinya.
"Aila…" Panggilanya sangat lembut.
Suara itu di dengar jelas oleh Aila, dan dia pun langsung memakai jilbab instannya lalu menghampiri mamanya.
__ADS_1
"Mama, ada apa?"
Bhika tersenyum, lalu mengulurkan cup cake yang dibuatnya tadi tepat dihadapan Aila.
"Wuah, mama membuatnya sendiri?" Tanya Aila dengan menggerakkan tangannya agar mamanya bisa memahami apa yang dikatakannya.
Bhika mengangguk, lalu dia memberi kode agar Aila mencicipi cake buatan tangannya sendiri.
"Mama mau aku mencicipi cake ini?"
Bhika kembali mengangguk. Dan Aila tersenyum sambil mengambil cup cake dari tangan mamanya. Lalu dia mengajak mama-nya turun menuju dapur untuk duduk di meja makan. Setelah itu barulah Aila mencicipi cup cake buatan mamanya.
"Mmm, enak. Sangat lembut dan manis, tapi tidak terlalu manis. Rasanya sangat enak, mama good." Puji Aila.
"Benarkah?"
"Iya, ma."
Lalu Bhika pun ikut mencicipi kue buatannya. Mereka makan bersama cake tersebut ditemani segelas teh panas yang dibuatkan oleh bik Nur beberapa saat yang lalu.
Saat sedang lahap menikmati kue lembut itu, tiba tiba air mata menetes dari pelupuk mata Aila. Hal itu membuat Bhika khawatir, dia langsung menggeser duduknya mendekati Aila dan mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis.." Ucapnya dengan bantuan gerak tangannya.
"Mama… sepertinya aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Varen." Rengeknya tanpa menggunakan gerak tangannya sehingga Bhika tidak mengerti apa yang diucapkan Aila. Dia hanya tahu bahwa Aila menyebutkan nama Varen.
"Varen membuatmu menangis?"
Bhika mengira Aila menangis karena perbuatan Varen.
"Ma, Varen pasti tidak menyukai aku lagi karena aku tidak juga kunjung hamil…"
"Oh putriku yang malang. Apa Varen kembali menyakitimu.." Ulang Bhika bertanya menggunakan gerak tangannya.
Aila langung menggeleng cepat dan mulai menjelaskan pada mamanya dengan bahasa isyarat dan Bhika pun langsung mengerti.
"Jangan putus asa, sayang. Mama sama ayah menunggu hingga betahun tahun lamanya untuk bisa memiliki kamu."
Ya, Bhika juga mengalami hal yang dirasakan Aila, saat setelah usia pernikahan cukup lama, tapi dia belum juga bisa hamil.
"Bersabarlah dan terus berdoa. Mama yakin, kamu pada akhirnya akan mengandung. Percayalah sayang."
__ADS_1
Bhika kembali memeluk erat tubuh Aila dengan pelukan hangat penuh kasih dan sayang.