
Ben datang ke vila membawa pesan dari Tiger untuk Seon dan rekan rekan lainnya yang masih selamat.
Kedatangan Ben tentu saja membuatnya dalam bahaya, Seon bahkan hampir menembaknya jika saja Tiger tidak kunjung bersuara melalui benda yang terpasang di telinga Ben.
"Tiger! Kau baik baik saja?" Tanya Seon khawatir.
"Seon, jangan menyakiti Ben. Aku meminta bantuannya untuk menyampaikan pesanku pada kalian. Dengarkan dia dengan baik, ikuti instruksinya."
"Apa maksudmu Tiger? Kenapa tidak kau saja yang langsung datang ke vila. Apa kau terluka."
Itu suara pak Sony yang juga ikut bicara pada Tiger.
"Aku sempat terluka dan nyaris tewas, tapi Lion king menyelamatkan nyawaku."
Mendengar penuturan Tiger, membuat semua mata menatap kearah Ben dengan tatapan yang aneh hingga membuat Ben merasa canggung.
"Aku tidak bisa menemui kalian, karena aku harus menjaga Aila."
"Terjadi sesuatu pada Aila? Apa dia terluka?" Lyn, Pin dan madm Susan melemparkan pertanyaan itu hampir bersamaan.
"Aila baik baik saja, hanya saja dia masih shok akibat mengalami keguguran."
"Ya Tuhan."
"Kalian tidak usah khawatir. Terimakasih karena masih bertahan sampai saat ini. Aku percaya kalian semua, jadi tolong ikuti semua instruksi dari Ben dengan baik. Jika kalian berhasil dalam misi kali ini, kita akan kembali bertemu."
"Baik Tiger."
Sambungan terputus.
Dan sekali lagi mereka menatap Ben yang membuatnya merasa sangat canggung.
"Mmm haruskah kita mulai?" Tanya Ben ragu ragu."
"Ya, tentu saja. Mari masuk."
Mereka mengajak Ben masuk ke vila dan duduk di ruang tengah, berkumpul untuk membahas misi yang harus mereka jalankan sesuai perintah dari Tiger.
Sementara itu, di markas Snake. Adrian tampak gusar karena Ben tak kunjung mengembalikan Aila. Itu membuatnya mengamuk dan menembak apa saja yang terlihat didepannya. Ya, Adrian sudah berlatih menggunakan sejata api sejak dua minggu terakhir. Dia juga sudah di latih oleh Baron untuk menjadi pimpinan Snake king selanjutnya.
"Baron, jemput Aila sekarang!" Teriaknya.
__ADS_1
"Baik tuan muda."
"Jika Lion tidak menghalangi kalian membawa Aila, bunuh saja dia. Bunuh siapapun yang menghalangi kalian membawa Aila."
"Baik, tuan muda."
Baron bersama empat orang anak buah terbaiknya bergegas menuju mansion Lion untuk menjemput Aila. Kebetulan sekali, saat mereka tiba di sana rupanya mansion tampak sepi. Bahkan Ben yang biasanya selalu cepat tanggap saat musuh mendekatpun tidak terlihat.
"Ada keperluan apa anda datang kemari, bung?" Seorang penjaga gerbang mansion menahan langkah Baron dan anak buahnya.
"Jangan menghalangi, jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu, bung."
"Jangan banyak bicara, bung. Cukup katakan apa tujuan kedatangan anda, bung!" Tegas penjaga itu.
Baron tersenyum mengejek, "Untuk menjemput nona Aila, tentu saja."
Dorrr---
Baron menembak tepat di dada penjaga itu, begitu selesai mengatakan tujuan kedatangannya.
Suara tembakan itu terdengar sampai ke lantai empat mansion, dimana kamar tempat Aila kini terbaring lemah sambil terus menggenggam tangan Varen.
"Sebentar, sayang." Varen melepaskan genggaman tangan Aila, dia melangkah mendekati tembok kaca untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana.
Mata Varen menangkap sosok Baron yang melangkah masuk ke mansion dengan menodongkan pistolnya pada para penjaga di bawah sana.
"Tiger."
Itu suara Arjin. Perlahan sekali dia membuka pintu kamar dan masuk sambil memapah istrinya.
"Ada apa lagi, Lion?" Tanya Varen datar.
"Istri saya sangat ingin menemui Aila.."
Sebelum Arjin selesai berucap, Bhika sudah lebih dulu melangkah mendekati ranjang Aila.
"Sayang, Aila. Bayiku--" Bhika mengelus kedua pipi Aila yang tersenyum pada wanita asing yang memiliki tangan yang hangat itu.
"Tolong jaga Aila. Aku akan membereskan Baron."
Tiger hendak melangkah meninggalkan kamar itu, tapi tiba tiba Arjin berlutut di hadapannya. "Terimakasih karena telah mengampuni saya, Tiger. Sungguh, meski anda telah mengampuni saya, saya tidak akan pernah melupakan perbuatan keji saya dimasa lalu."
__ADS_1
"Berdirilah, Lion. Jangan berlutut padaku di hadapan Aila." Bisik Tiger sambil menarik kedua bahu Arjin untuk kembali berdiri.
"Jangan memancing emosiku dihadapan Aila, jika kau tidak ingin melihat Aila terluka lagi." Lanjutnya berbisik di telinga Arjin.
Hanya anggukan kepala dari Arjin sebagai respon dari perintah Varen padanya.
"Tuan, jangan pergi terlalu lama." Ujar Aila begitu Varen telah berhasil membuka pintu kamar.
Varen menoleh dan hanya tersenyum manis menanggapi apa yang disampaikan Aila barusan.
Setelah Varen benar benar keluar dari kamar itu, Bhika dan Arjin pun menemani Aila. Mereka menceritakan saat saat pertama Bhika mengandung Aila, dan betapa bahagianya mereka karena akhirnya diberi kesempatan untuk bisa merasakan menjadi orangtua setelah penantian hampir sebelas tahun lamanya.
Dan Bhika juga menceritakan bagaimana kejadian dua puluh tahun lalu, yang menyebabkan pertumpahan darah antara dua kelompok mafia terkuat yaitu Lion dan Tiger.
"Tapi, bukan Tiger king yang menculikku, Mama, Ayah."
"Ya, kami tahu itu setelah tiga tahun berlalu, sayang." Jawab Arjin penuh penyesalan.
"Apa kalian tidak menyelidiki siapa yang sebenarnya telah menculikku waktu itu?"
Pertanyaan Aila membuat Arjin dan Bhika saling bersitatap. Lalu mereka menggeleng serentak.
"Tapi, menurut berita yang kami dengar, kelompok mask Rabbit lah yang menculikmu, sayang."
"Tidak, Ayah. Mask Rabbit memang menculikku, tapi itu atas perintah Snake king." Tutur Aila.
"Apa? Kamu tahu dari mana cerita itu sayang?" Selidik Arjin.
"Aku mendengarnya dari mulut Arnold langsung, Ayah."
Mata Arjin membola. Dia baru tahu kenyataan itu setelah dua puluh tahun berlalu.
"Saat itu, tepatnya dua hari yang lalu. Aku bosan terus terusan di kurung di kamar. Akhirnya aku melangkah keluar kamar secara diam diam dan tidak sengaja melewati ruang kerja Arnold, mungkin. Saat itu mereka sedang membahas tentang bagaimana cara melenyapkan ayah dan mansion ini sebelum ayah tahu yang sebenarnya bahwa dialah yang memberi perintah pada mask Rabbit untuk menculik dan membunuhku." Tutur Aila menceritakan apa yang pernah didengarnya saat tinggal di markas Snake king.
"Brengsek. Ternyata Arnold yang sengaja mengandu domba antara aku dan Tiger king." Gertaknya penuh amarah.
"Sayang, kalian tetap disini. Aku akan menghabisi Arnold dan semua anak anak nya sekaligus."
"Tidak, Arjin. Jangan melakukan apapun lagi. Aku mohon--" Bhika mencoba menghentikan suaminya, tapi percuma Arjin sudah lebih dulu meninggalkan kamar itu dan mengunci mereka di dalam.
Aila bergerak turun dari ranjangnya, dia menghampiri mamanya yang terduduk lemah di depan pintu kamar yang telah terkunci rapat.
__ADS_1
"Aku butuh mama untuk menemaniku disini." Ungkap Aila sambil memeluk tubuh rapuh Bhika.
"Mama akan tetap disini, sayang. Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Mama tidak akan kehilangan kamu lagi, sayangku." Keduanya menangis haru saling berpelukan hangat.