Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 86


__ADS_3

Sepuluh hari pertama puasa, Varen masih mengeluh lemas dan suka bilang haus. Hingga saat berpuasa dia habiskan dengan hanya menonton tv, membaca buku dan tidur.


Lalu saat habis sholat asar, Aila mengajaknya berburu takjil ke pasar beduk. Itu bagian kesukaan Varen. Dia bisa memilih sendiri menu apa yang diinginkannya.


Hari pertama sampai hari ke tiga ikut ke pasar beduk, Varen membeli begitu banyak makanan. Dia mengikuti seleranya saat perut kosong. Alhasil, saat buka puasa dia hanya bisa makan beberapa potong kue saja. Lalu sisanya dibawanya ke masjid diberikan pada anak anak yang ikut berkeliaran meramaikan suasana masjid di malam hari saat sholat tarawih.


Sisa yang dimaksud, bukan sisa bekas Varen ya. Tapi, maksudnya kue kue yang belum disentuh, masih utuh dan masih bagus yang dibeli Varen di pasar beduk.


Melihat betapa suka citanya anak anak memakan kue yang diberikannya. Keesokan harinya Varen malah membeli begitu banyak vorsi makanan, minuman dan kue kue untuk diberikannya pada anak anak yang ada di sekitaran masjid.


"Sayang, gimana kalau kita adakan buka puasa bersama anak anak komplek atau anak anak panti?"


"Boleh banget mas."


Nah jadilah, di sepuluh hari kedua. Varen yang puasanya sudah lebih kuat, tidak lemas lagi dan lebih semangat, mengundang bergantian anak anak komplek dan anak anak panti untuk buka puasa di rumah mereka.


Selain berbagi makanan, Varen juga suka membagikan amplop berisi uang lima puluh sampai seratus ribuan untuk anak anak itu.


Dan di sepuluh hari terakhir, Varen mengajak ibu ibu dan bapak bapak komplek perumahan mereka untuk buka puasa bersama sekaligus menjalin silaturrahim.

__ADS_1


Selama bulan puasa, rumah mereka selalu ramai. Mereka bahkan bukan hanya sekedar buka puasa bareng, tapi langsung sholat magrib, isa dan taraweh bareng. Dilanjutkan dengan tadarusan al-qur'an bareng juga.


Nah di tiga malam terakhir, Varen khususkan untuk kumpul bersama Adam, Ririn dan Kinan. ya, Ririn sudah membaik dan dia bahkan sampai ikut puasa di tiga hari terakhir.


Kebahagiaan sungguh selalu dirasakan oleh mereka, terlebih malam ini mereka mendapat kabar bahwa Pin dan Adit akan menikah besok.


"Pin.. miss you." Teriak Aila saat melihat wajah Pin di layar laptop suaminya yang terhubung pada Pin dan Adit yang ternyata sedang di London.


"Miss you too, sayang." Balas Pin.


"Maaf ya Pin, kita tidak bisa datang besok ke pernikahan kalian. Soalnya, besok itu kita merayakan hari lebaran." Ujar Aila dengan wajah tampak sedih.


"Iya Aila, tidak apa apa kok kalian tidak bisa datang. Tapi, doanya bisa dong untuk kebahagiaan aku dan Adit."


Lanjut Kinan, Adam dan Varen yang mengobrol bersama Pin. Mereka membahas tentang keadaan vila dan pabrik senjata. Seon dan pak Sony serta Ben berencana untuk menyudahi segala kegiatan transaksi ilegal mereka. Itu karena mereka pun ingin kembali menjalani kehidupan normal.


Mendengar kabar itu membuat Varen bahagia. Dia bahkan mengatakan pada sahabat sahabatnya itu untuk jangan khawatir soal keuangan, karena Varen sendiri yang akan membantu mereka untuk terlepas dari kegiatan ilegal mereka.


Setelah perbincangan hampir satu jam, kini tibalah saatnya Varen, Aila dan teman temannya untuk ikut takbiran keliling bersama warga komplek.

__ADS_1


Suara riuh warga bertakbir di luar sana membuat Aila dan Ririn melangkah keluar lebih dulu.


"Apakah setiap malam sebelum lebaran selalu ramai seperti ini, bu Aila?" Tanya Ririn.


"Ya, selalu ramai dan meriah seperti ini, Rin." Jawab Aila tersenyum senang.


"Tapi, bisakah kau memanggilku dengan Aila saja. Rasanya aneh harus di embel embeli panggilan ibu." Sambung Aila merengek agar Ririn memanggilnya dengan namanya.


"Bolehkah?"


"Tentu boleh, boleh banget malahan." Jawab Aila semangat.


"Baiklah, mulai malam ini aku akan memanggil Aila saja."


Mereka sama sama tersenyum senang, lalu ikut melantunkan takbir bersama rombongan warga yang berkeliling mengumandangkan takbir memuji kebesaran Allah.


Sementara para suami ikut berkeliling bersama warga, Aila dan Ririn hanya memandangi dari balkon rumah Aila di latai atas. Kerlap kerlip lampu lampu dan juga cahaya dari obor yang dibawa oleh warga sungguh terlihat indah.


"Alhamdulillah, meski ini pertama kalinya aku merayakan malam lebaran dan insyaAllah besok akan ikut sholat idul fitri, tapi rasanya aku sangat bahagia seakan akan aku sudah sering merayakan lebaran." Ungkap Ririn bahagia merasa penuh syukur.

__ADS_1


Aila hanya tersenyum menanggapi pernyataan syukur yang Ririn ucapkan barusan.


Aku juga sangat bahagia. Meski lebaran tahun ini aku hanya tinggal bersama mama dan mas Varen, tapi aku merasa seakan kakek, bunda, dan ayah ayahku ikut merayakan lebaran bersamaku. Ya Allah, ampuni dosa dosa kakek, bunda dan ayah. Tempatkan mereka ditempat terbaik disisi-Mu. Aamiin ya Allah.


__ADS_2