Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 21


__ADS_3

Aila baru saja selesai sholat zuhur. Sembari menunggu Lyn atau mungkin Pin membawakan makan siangnya, dia berdiri di balkon kamar yang menghadap kearea depan. Matanya menatap kedatangan mobil Tiger. Dengan penuh rasa bahagia, Aila langsung berlari keluar dari kamarnya untuk menyambut kedatangan suaminya. Ya Aila memutuskan untuk menyatakan Tiger adalah suaminya sampai akhirnya Tiger akan membunuhnya.


Aila berlari menuruni anak tangga dan itu dilihat oleh Lyn dan Pin yang hendak menuju kamarnya. Kaki Aila terus berlari hingga dia tiba di ruang tengah dimana Jack dan Adam sedang menikmati segelas teh sambil berbincang. Dan di luar sana, Adit, Kinan, Vac, Taw, Dino dan Seon melihat senyuman manis menghiasi wajah Aila yang berlari keluar dari pintu utama.


Menyadari orang orang disampingnya terdiam, membuat Varen pun menghentikan langkahnya dan menatap kearah depan disana Aila yang berlari kearahnya dengan senyum bahagia.


"Tuan baik baik saja?" Aila melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tiger dan menghamburkan tubuhnya untuk masuk dalam dekapan suaminya itu. Hal itu membuat Tiger terkejut hingga dia mematung dengan tangan yang masih berada didalam saku celana kanan dan kiri.


"Apa yang kau lakukan?"


Aila tidak menjawab, dia meletakkan telinganya didada Tiger lalu tersenyum senang.


"Maafkan aku karena menularkan demam pada, Tuan." Bisiknya yang tentu saja di dengar oleh orang orang yang ada di samping kiri dan kanan Tiger.


"Kalau begitu, jangan pernah demam lagi." Akhirnya Tiger ikut bermain. Dia pun memeluk tubuh mungil Aila dan itu sontak membuat banyak pasang mata menatap kearah mereka.


"Tuan sudah merasa baikan?" Aila melepas pelukan, dia menyentuh dahi Tiger dengan telapak tangannya. Dan satu tangan lainnya memeriksa dahinya sendiri. Dia menbuat perbandingan suhu tubuh mereka.


Aila tersenyum sangat manis setelah memastikan suhu tubuh mereka sudah sama dan tidak lagi terkena demam.


Tiger meletakkan satu tangannya di belakang lutut Aila, sementara tangan lainnya dibawah ketiak Aila. Dia menggendong tubuh itu dan membawanya menuju kamar meninggalkan orang orang yang merasa seakan sedang menonton adegan film romantis secara nyata.

__ADS_1


"Kau sudah makan?" Tanya Tiger saat mereka menaiki tangga menuju kamar dan di kamar sudah ada Lyn dan Pin yang mengantarkan makanan untuk Aila.


"Belum. Aku tidak berselera untuk makan."


"Apa masakan mereka tidak sesuai dengan lidahmu?" Tiger mendekatkan hidungnya dengan hidung Aila dan menggesekkannya, membuat Aila merona sempurna.


Saat adegan tersebut bertepatan dengan Lyn dan Pin yang baru saja keluar dari kamar. Mereka mematung menyaksikan adegan romantis dan manis sepasang suami istri itu. Saat Tiger melangkahkan kakinya memasuki kamar, baik Aila maupun dirinya tidak menyadari keberadaan Lyn dan Pin. Mereka sungguh terlihat bak pengantin baru. Dunia hanya milik mereka berdua.


Varen membaringkan tubuh Aila di atas kasur, lalu dia berada diatas Aila dengan menjadikan tanganya sebagai tumpuan agar tidak menghimpit Aila.


"Kau mencoba menggodaku lagi, beby."


"Tidak, Varen. Aku tidak menggodanmu." Aila mengelus wajah Varen. Dia menyentuh dengan tangannya seluruh permukaan wajah Varen sambil tersenyum.


"Apakah tidak boleh?"


"Tentu boleh. Tapi, aku lebih suka kau menyebut namaku saat kita sedang melakukan--"


Aila memotong ucapan Varen dengan menempelkan bibirnya di bibir Varen, lalu Aila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Oh sungguh Aila dalam bahaya. Dia membangunkan harimau yang sedang tidur.


"Kau sudah berani memotong ucapanku, beby. Kau harus di hukum."

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Aila berada dalam pelukan Tiger dengan menjadikan tangan Tiger sebagai bantalnya. Tiger tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya sebentar setelah atraksi hangat keduanya tadi siang. Dan kini sudah senja, mereka masih berada di tempat tidur itu. Dan sebenarnya, tadi sempat berhenti karena Aila sholat asar terlebih dahulu. Setelah itu mereka lanjut lagi dan baru saja selesai beberapa menit yang lalu.


"Tuan Varen, aku mandi dulu. Sudah mau magrib."


"Tidak bisakah sekali saja kau berhenti sholat? Apa Tuhanmu benar benar membantumu saat kau rajin menghubunginya?" Tiger mengatakan itu tanpa membuka matanya.


"Tentu saja. Tuhanku sangat baik. Dia mendengarkan segala permohonanku."


"Kalau begitu berdoalah padanya agar tidak satupun benihku hidup dalam rahimmu."


Duaarrrrr


Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar secara tiba tiba.


Mata Tiger menatap tajam jauh menelisik bola mata Aila yang mulai berkaca kaca. Sungguh kaliamat itu sangat menyakiti hatinya.


"Jangan berharap apapun dariku. Aku tidak akan pernah bisa kau miliki. Bahkan jika kau mencoba menjinakkanku dengan menjadi hamil, aku tetap tidak peduli."


Tiger telah bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil pakaian baru dari lemari dan memakainya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Kemudian, dia melangkah keluar dari kamar itu meninggalkan Aila dengan segala kesedihan dan luka hatinya.

__ADS_1


Meski kesedihan melanda, Aila akhrinya bangkit dari tempat tidur. Dia mandi, setelah itu sholat magrib, berdo, baca Qur'an, lalu sholat isa dilanjut dua rakaat sunah hajat, baru kemudian dia kembali berbaring sambil menangis sejadi jadinya dibawah selimut. Dia menangis dalam diam, sendirian tanpa ada yang mau memeluknya atau sekedar mengelus punggungnya untuk menenangkan kesedihannya.


__ADS_2