Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 12


__ADS_3

Usai sholat magrib, Aila kaget karena Tiger sudah berbaring di ranjang sambil menatapnya dengan tatapan yang membuat Aila sedikit merinding. Dia ingin melepas mukenanya tapi ragu karena dia tidak menggunakan jilbab lain di dalam mukenanya.


"Sudah selesai?"


Suara Tiger sungguh lembut, terasa sangat sopan masuk ketelinga Aila. Dan Aila hanya mengagguk pelan sebagai respon dari pertanyaan Tiger barusan.


"Kemarilah."


Aila terkejut mendengar Tiger memintanya untuk mendekat. Bagaimana kalau Tiger ingin menyentuhnya lagi. Seseorang tolonglah Aila. Dia masih merasakan nyilu dibagian bawahnya. Meski begitu dengan langkah ragu, Aila mendekat. Dia duduk di pinggir ranjang dan langsung ditarik Tiger untuk ikut berbaring bersamanya. Posisi saat ini, Aila berbaring tepat diatas Tiger dan kedua tangan Tiger melingkar dipunggung Aila. Mau tidak mau, Aila menyenderkan kepalanya tepat diceruk leher suaminya itu. Oh rasanya sungguh mewah saat Aila berani menyebut pria itu suaminya.


"Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat. Aku sungguh lelah." Ucap Varen dengan nada suara rendah namun serak yang terasa merdu ditelinga Aila.


"Tapi, posisi ini sungguh tidak nyaman, tuan--" Aila bergerak untuk melepaskan diri.

__ADS_1


"Jangan bergerak sedikitpun, atau kau akan membangunkan sesuatu dibawah sana."


Suara Varen sangat lembut dan terdengar tenang saat membisikkan kalimat barusan ditelinga Aila. Niat untuk melepaskan diri pun langsung Aila urungkan. Dia kembali diam dalam pelukan Varen.


Tunggu! Bukankah nama asli Tiger adalah Levarendo Mark. Nama itu terdengar familiar ditelinga Aila. Dia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya. Mendadak matanya melotot kala pikirannya membawanya kembali pada saat itu dimana Aila membaca biografi CEO Mark holding.


Kakek bilang Mark holding dikendalikan oleh seorang mafia. Jika tuan Varen benar benar CEO Mark holding, berarti saat ini aku berada dalam dekapan seorang mafia. Pikirnya.


Varen tiba tiba memberi peringatan pada Aila untuk tidak berharap lebih darinya. Peringatan itu seakan membenarkan apa yang baru saja terlintas dalam pikirannya. Dia tahu pasti bahwa dirinya memang hanya tawanan yang kebetulan beruntung dinikahi oleh Tiger dan dijadikan sebagai pe-mu-as nafsunya saja. Dan pada akhirnya Tiger akan merenggut nyawanya. Jangan lupakan hal penting itu Aila.


Hampir dua jam lamanya Tiger dan Aila dalam posisi berbaring seperti itu. Entah Tiger benar benar terlelap atau hanya memejamkan matanya, Aila justru sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bagaimana mungkin dia bisa memejamkan mata setelah mengetahui pria yang telah menikahinya itu adalah seorang pimpinan mafia.


Tiba tiba, Tiger bergerak. Dia memeluk erat tubuh Aila, lalu mengganti posisinya menjadi miring. Dilepaskannya pelukan ditubuh Aila setelah Aila berbaring nyaman diatas kasur. Karena tidak ingin membuat masalah, Aila langsung memejamkan matanya saat Tiger hendak menatap padanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau tidur dalam keadaan bahaya seperti ini?" Gumam Tiger sambil menyelimuti tubuh Aila. Dia juga memberikan ke-cu-pan singkat di dahi Aila.


"Terimakasih sudah membuatku nyaman."


Tiger bangkit dari tempat tidur usai mengucapkan kata manis tersebut. Kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Aila sendirian di kamar itu.


Setelah Tiger benar benar keluar dari kamar, Aila membuka matanya. Dia menatap kearah pintu yang sudah tertutup rapat.


"Apakah mafia memang bisa bersikap lembut dan manis?"


Perasaan aneh menggetarkan hati Aila membuatnya merasa takut, bingung dan juga gelisah. Seperti perpaduan kopi, pahit dan sedikit manis. Pahit mengingat kenyataan bahwa Tiger pimpinan mafia yang tidak akan pernah menjadi miliknya, namun manis saat Tiger mencium keningnya dan mengucapkan terimakasih padanya.


"Dia memintaku untuk tidak berharap lebih. Tapi, mengapa dia malah seakan ingin membuatku berharap lebih dan lebih." Rutuk Aila kesal. Tubuhnya dia sembunyikan dibawah selimut, lalu beberapa saat kemudian dia memukul mukul permukaan kasur dengan kedua tangan dan kakinya untuk meluapkan perasaan yang mengganggu hati dan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2