
Lyn sedang berada di kamar Aila. Dia mengantarkan sarapan pagi untuk Aila. Dan dia memutuskan untuk bicara ramah pada Aila karena Aila begitu berani membelanya saat hampir dihukum oleh Tiger. Dan Aila langsung memeluk Lyn. Rasanya Aila sangat merindukan Lyn.
"Apa kau sudah baikan, sayang?" Lyn membalas pelukan Aila dengan penuh kasih bak pelukan seorang kakak pada adik kecilnya.
"Tentu Lyn. Aku sudah merasa lebih baik."
Aila melepaskan pelukannya lalu melangkah mendekati tembok kaca menatap ke taman di bawah sana, dimana para tukang kebun sedang membersihkan area taman dan juga rumah kaca.
"Lyn, apa kau tahu kenapa Juno dan yang lainnya tampak panik subuh tadi?"
"Oh, itu karena Tiger pingsan."
"Apa? Apa dia tertembak atau dia terluka?" Aila benar benar khawatir.
"Tenanglah, Aila. Dia hanya demam." Lyn tersenyun menatap wajah khawatir Aila.
"Harusnya aku tidak menggodanya. Ini salahku." Gumam Aila pelan, tapi Lyn bisa mendengarnya.
"Kenapa salahmu, sayang?"
Aila terbata tidak tahu harus menjawab apa, hingga wajahnya merona dan dia merasa kepanasan tanpa alasan.
"Apa dia memaksamu melakukan itu saat kau demam?" Tebak Lyn. Dia menggertak marah pada Tiger.
"T-**--tidak Lyn. Bukan begitu. Aku yang menggodanya. Aku yang menginginkannya--"
Bola mata Lyn membelalak kaget mendengar pernyataan Aila. Bagaimana gadis itu dengan polosnya mengatakan bahwa dia yang menginginkan untuk disentuh oleh Tiger yang akan segera membunuhnya.
"Ya, walau bagaimanapun, kami suami istri. Kami sudah halal, dan aku--"
"Aila. Kamu lupa, Tiger tidak benar benar serius dengan pernikahan kalian. Jangan lupakan itu Aila. Tiger tidak bisa menjadi milik siapapun, dia tidak bisa di ikat oleh apapun termasuk pernikahan." Lyn mengatakan itu dengan nada marah, Lyn khawatir Aila akan benar benar jatuh cinta pada Tiger.
Dia menghampiri Aila yang terdiam menundukkan kepalanya. Lyn membawa wanita malang itu dalam pelukannya.
"Bagaimana kalau kau sampai hamil, Aila. Tiger akan membunuhmu dan janinmu segera."
"Apa maksudmu Lyn. Aku tidak mungkin hamil." Aila melepaskan diri dari pelukan Lyn.
"Apa kau menggunakan obat anti hamil atau Tiger yang tidak mengeluarkannya didalam?"
__ADS_1
Lyn bertanya tanpa peduli wajah Aila yang kembali merona. Rasanya dia sangat malu harus membahas hal seiintim itu.
"Kau harus tau Aila. Tiger pernah membunuh salah satu wanita yang ditidurinya hanya karena wanita itu hamil." Lyn memperingatkan.
"Aku tidak mungkin hamil kan, Lyn. Lagi pula aku tidak merasa aku akan hamil--"
"Semoga saja kau beruntung, sayang. Makan makananmu. Aku permisi."
Lyn keluar dari kamar itu meninggalkan Aila yang tertunduk sendu. Dia menyadari lagi keberadaannya dan posisinya saat ini di tempat ini.
"Hamil atau tidak hamil, Tiger tetap akan membunuhku. Tapi, jika aku hamil, anakku--"
Reflek saja Aila memegangi perutnya yang datar. Dia mulai menangis dan terduduk lemah di lantai sendirian diruangan yang luas itu.
Sementara itu, saat ini di markas. Tiger sudah merasa lebih baik. Dia bahkan sudah terbangun sempurna.
"Sudah baikan, Tiger?" Tanya Juno.
"Seperti yang kau lihat. Apakah aku terbius?"
"Tidak Tiger. Kau demam. Kau tertular virus dari Aila."
"Jangan bercanda, Juno. Aku tidak semudah itu bisa tertular penyakit."
"Anda melakukan itu dengannya saat dia sedang demam tinggi, Tiger. Dimana hati nuranimu." Kali ini Seon yang menyahut.
"Sudah ku katakan dia yang menggodaku."
"Tidak akan ada yang percaya. Semua orang tau kau yang terlalu bernafsu."
Seon benar benar tidak mau mengalah untuk berdebat dengan Tiger yang masih terbaring lemah.
"Kau berani berdebat denganku, Seon?"
"Berhenti berdebat. Aku hanya penasaran, apa yang kita dapatkan kali ini. Semuanya kacau karena tiba tiba Lion menyerang." Itu suara Adit. Dia merasa sangat kecewa atas kegagalan kali ini.
"Kinan, periksa saku sebelah kanan." Tiger memerintahkan Kinan untuk memeriksa saku celananya sebelah kanan.
Kinan merogoh saku itu dan mendapatkan sebuah benda hitam, benda itu adalah Usb.
__ADS_1
"Periksa apa yang ada di dalamnya."
"Baik Tiger."
"Kau mendapatnya Tiger?" Itu suara Adit.
"Kau pikir aku akan pulang dengan tangan kosong, bung?"
Adit tersenyum puas. Dia merasa kali ini bukanlah kegagalan. Sementara Kinan dan Seon mulai memeriksa isi usb itu, dan mata mereka membelalak kaget.
"Apa yang kalian temukan?" Tanya Juno.
"Ini benar benar brapo." Seon dan Kinan saling bersitatap.
Juno dan Adit mendekat pada mereka untuk memastikan temuan mereka, hingga akhirnya mereka pun ikut merasa bahagia karena mendapat tangkapan yang besar.
"Tapi, kenapa Lion tiba tiba menyerang?" Pertanyaan itu dari Juno.
"Tentu saja mereka juga menginginkan usb itu, Juno."
Tiger melepas selang infus dari tangannya. Dia memakai kembali jas nya dan melangkah keluar dari markas.
"Kau belum benar benar sembuh Tiger." Teriak Juno.
Tiger hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh kearah Juno, Kinan, Adit dan Seon yang menatap punggungnya hingga ia menghilang di balik tembok.
"Snake akan mengincar Aila. Mereka curiga kemungkinan Aila memiliki darah king Lion."
Ucapan Seon barusan membuat mata mereka membola sempurna.
"Jadi Aila putri king Lion, begitu maksudmu?" Tanya Adit.
"Belum pasti. Itu hanya sebatas kecurigaan mereka saja."
"Apakah Tiger punya rencana?"
"Tentu, Tiger akan menjadikan Aila sebagai umpan untuk menghabisi Snake dan jika Aila benar benar putri Lion King, itu berarti Tige rmendapatkan tangkapan besar untuk membalaskan dendamnya pada Lion king." Jawab Seon yakin.
Dan Kinan hanya terdiam. Dia merasa kasihan pada Aila yang tidak tahu apa apa tentang permasalahan ini. Tapi malah menjadi korban Sungguh gadis yang malang.
__ADS_1