
Sementara itu, di lantai atap mansiaon, Lyn, Kinan dan Pin tampak saling mengobrol asik dengan beberapa candaan, saat semua pengawasan mereka tampak baik baik saja. Namun, tiba tiba mata mereka menangkap tubuh seorang bocah berlari kencang menuju ke arah mansion.
"Kalian melihat apa yang aku lihat?" Tanya Pin memastikan. Karena dia kira hanya dia yang melihat bocah itu.
"Aku juga melihatnya, Lyn."
"Aku juga--"
Sejenak mereka saling bersitatap, kemudian mereka langsung turun dari atap untuk mengejar bocah malang itu. Karena bocah itu melangkah menuju pinggir luar tembok mansion yang tertanam ranjau disana.
Lari kinan yang sangat laju, "Dek, berhenti!" Teriaknya sambil terus berlari.
"Jangan mendekat!"
"Stooooppppp!"
Bocah itu tidak peduli, dia terus berlari dengan sesekali menoleh kebelakang. Bocah itu sepetinya sedang di kejar seseorang.
"Kinan, hati hati!"
Teriakan lantang itu milik Pin dan Lyn saat melihat Kinan berhasil menubruk tubuh bocah itu hingga mereka menjauh dari sarang ranjau yang berjejer di pinggir luar tembok mansion.
Pada saat itu, bocah dalam dekapan Kinan menangis sejadi jadinya. Dia mengatakan sesuatu namun tidak jelas karena tangisannya.
"Ada apa? Apa seseorang mengejarmu?" Tanya Lyn lembut begitu tiba di dekat Kinan dan bocah itu.
"Ibu-- Aku mau ibu, tapi mereka akan membunuhku-" Ucapnya masih terisak.
"Siapa yang akan membunuhmu?" Tanya Pin berikutnya.
"Mereka-- orang jahat--- mereka bilang akan membakar rumahku."
"Mambakar rumah?"
Bocah itu mengangguk sambil menghapus air mata menggunakan lengan tangannya.
"Dimana ibumu?"
__ADS_1
"Ibu di rumah. Ibuku sakit-- ibu akan terbakar sendirian dirumah." Lanjutnya masih terus menangis.
Lyn menatap Pin dan Kinan bergantian. Mereka tampak memikirkan hal yang sama. "Dimana rumahmu?"
Bocah itu menunjuk kearah jalan raya nan jauh disana.
"Lyn, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kinan dan Pin saat Lyn mulai berdiri dengan menggandeng tangan bocah itu.
"Bukankah kalian juga sepemikiran denganku?"
"Tapi, kita tidak bisa mengantarnya, Lyn. Akan berbahaya. Lebih baik kita beritahukan pada Seon atau Jack--"
"Percuma. Mereka sudah fokus pada tugas masing masing. Jadi, percuma mengatakan pada mereka, yang ada bocah ini akan kehilangan rumah dan ibunya."
Tanpa peduli pada Kinan dan Pin yang mencoba menahannya, Lyn melangkah menjauh membawa bocah itu untuk mengantarnya pulang. Lyn benar benar terlalu naif, demi menyelamatkan bocah malang itu, dia melupakan bahaya yang mungkin saja sedang menuju padanya.
"Kinan, pergilah beri tahu Seon. Aku akan mengejar Lyn."
"Baik, Pin."
"Lyn, tunggu!"
Dia terus berlari semakin jauh dari mansion. Begitu juga dengan Lyn yang tidak pernah melepaskan tangan kecil bocah yang berlari bersamanya.
"Kita harus menyelamatkan ibumu. Kamu masih kuat lari, kan?" Tanya Lyn pada bocah yang sudah ngos ngosan itu.
"Tolong ibuku, Phi. Aku takut kehilangan ibuku--"
"Ya. Kita akan menghentikan orang orang jahat yang mencoba membakar rumahmu. Kita akan menyelamatkan ibumu."
Lyn dan bocah itu sedikit lagi mencapai jalan raya di pinggir hutan yang menjadi pembatas mansion dengan kehidupan luar. Dari jalan raya, orang orang sebenarnya hanya melihat hamparan hutan. Mereka tidak melihat adanya mansion yang berdiri megah ditengah tengah hutan itu. Dan polosnya, Lyn. Dia tidak mencurigai mengapa bocah itu bisa berlari sampai ke area mansion. Tidak. Warga sipil tidak akan ada yang sampai ke area mansion, jika bukan karena mafia lain yang menunjukkan arah area mansion. Lyn dalam bahaya.
"Lyn, tunggu!"
Pin terus berlari dengan kencang, hingga dia tersandung sebuah kayu yang sudah lapuk. Sayangnya Pin kehilangan keseimbangan hingga dia jatuh terpeleset yang menyebabkan kepalanya terbentur pada batang pohon lain yang berdiri kokoh.
"Aakhhgg--"
__ADS_1
Pin memegang bagian kepalanya yang terasa sangat sakit, menimbulkan rasa pusing yang teramat sangat, bahkan dihidungnya mengeluarkan darah. Tapi, Pin hanya berhenti sebentar dan lanjut berlari mengejar Lyn, dia mulai menyadari bocah yang dibawa Lyn adalah umpan dan itu berarti Lyn dalam bahaya besar.
Saat Lyn dan bocah itu tiba di pinggir jalan raya, entah bagiaman dan entah dari mana, seorang pria bertopeng menutupi seluruh bagian kepala Lyn dengan menggukan kain hitam.
"Yaaakkkk, lepaaasss!!!" Teriak Lyn berontak. Dia menggerakkan tangannya untuk memukul orang itu tapi gagal karena tidak bisa melihat apapun.
"Lepaskan aku brengsek!"
"Diam!" Teriak pria itu tak kalah lantangnya dari Lyn. "Kau telah masuk dalam perangkapku, cantik." Bisik pria itu sebelum akhirnya memukul kuat bagian belakang leher Lyn, hingga si cantik itu pingsan.
Sedangkan Pin sudah kehilangan keseimbangan, larinya semakin pelan dan kepalanya semakin pusing, hingga tubuhnya jatuh tak sadarkan diri di tengah tengah hutan. Dan saat itu juga, seseorang yang tadi memukul Lyn hingga pingsan kini menghampiri Pin. Dia dengan enteng membawa tubuh ringan Pin untuk dibawa pergi kesuatu tempat.
"Kerja bagus, bung." Ucap pria yang membawa Pin pada seseorang diseberang sana melalui alat yang terpasang di telinganya.
"Aku tidak pernah gagal dalam misiku, kecuali saat kalian menjebakku saat itu, bung."Jawab seseorang diseberang sana.
"Yah, andai bukan karena titah dari Lion, aku sangat ingin menghabisi kalian malam itu. Sayangnya Lion melarangku. Tapi, lihatlah ternyata ada untungnya aku tidak membunuhmu, bung. Kau juga pengkhianat yang handal." Ucapnya mengejek pria di seberang sana yang ternyata adalah Jack.
"Jangan merendahkanku, bung. Pengkhianatan ini tidak akan sia sia. Aku akan segera mendapatkan hal besar yang selama ini aku impikan." Tegas Jack pada pria itu.
"Ya semoga saja kau beruntung, bung."
Jack memutus sambungan dengan pria menyebalkan itu. Dia merasa geram karena pria itu berani mengejeknya.
"Juno, bagaimana situasi disana?"
"Misi kita berhasil, Jack. Lanjutkan tugasmu dengan baik. Jangan sampai kesempatan bagus ini terlewat begitu saja."
"Kau tidak usah menceramahiku, Juno. Aku jauh lebih pintar dari yang kau pikirkan."
Kedua pengkhianat itu tengah beradu argumen mengaku diri mereka yang terhebat. Padahal, mereka adalah orang orang bodoh yang dengan gampangnya termakan bujuk rayu. Mereka tidak pernah tahu, bahwa mereka masuk kedalam sarang ular yang siap melilit tubuh mereka hingga tulang tulang mereka patah serta darah akan memancar dari mulut dan hidung mereka.
"Kau siap Juno. Aku akan mulai aktraksi besar."
"Aku sudah siap sejak lama, Jack. Segera laksanakan tugasmu. Jangan terlalu banyak bicara."
"Aaa, sangat disayangkan bocah ingusan itu tidak mau ikut bergabung." Ucap Jack saat melihat Kinan berlari dengan kencang untuk menemui Seon. "Kinan yang malang. Kau sangat menggemaskan, tapi sayang kau akan segera mati."
__ADS_1