Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 39


__ADS_3

Varen saat ini sedang di perusahaannya, dia begitu fokus memeriksa hal hal yang mengganjal mengenai laporan keuangan perusahaan dan juga tentang saham. Sementara urusan mansion diserahkannya pada Sony untuk mengawasi anak anak Tiger. Sedangkan Pin, Kinan dan Adam diperintahkan untuk mengawasi pergerakan Aila yang mungkin diam diam menyusun rencana untuk bisa keluar dari mansion menyusul Adriannya. Sementara, Vac, Dino, Taw dan Adit di percaya untuk melakukan setiap transaksi yang terjadi seminggu terakhir.


"Nong, sudah waktunya makan siang."


Tam masuk keruangan itu sebagai seorang kakak, bukan sebagai seorang Direktur manajemen.


"Oh, Phi Tam. Kau datang untuk mengajak makan siang?" Varen mematikan laptopnya.


"Beberapa hari ini kau sibuk sekali? Apa yang terjadi?"


"Tidak ada. Hanya ingin memberi perhatian lebih pada Mark holding."


Tam hanya tersenyum mencoba mempercayai omongan Varen yang sedang memberi perhatian lebih pada Mark holding yang baik baik saja. Mungkin.


"Phi Tam sudah memesan resto untuk kita makan siang?"


"Tentu. Aku memesan tempat yang privasi. Karena ada banyak hal penting yang harus dibicarakan."


"Begitukah?"


Tam mengangguk sambil merangkul bahu Varen yang sudah dianggapnya sebagai seorang adik kesayangan yang akan dilindunginya dengan jiwanya dan raganya seperti janjinya dua puluh tahun lalu pada mendiang Tiger king, tepatnya beberapa jam sebelum Tiger king menerobos masuk ke markas Lion king hingga akhirnya terbunuh disana.


Mobil mewah milik Tam meluncur menuju restoran yang telah dipesannya untuk tempat mereka maka malam. Setelah berkendara beberapa belas menit, akhirnya mereka tiba.


Kini, Tam dan Varen duduk di meja makan yang super mewah dengan hidangan yang sedang disajikan oleh pelayan restoran. Dan setelah semua pelayan restoran selesai menata makanan dan mereka sudah meninggalkan ruangan itu, Tam dan Varen pun mulai menyantap makan siang mereka sambil berbincang bincang.


"Apa yang akan kau lakukan pada gadis itu, Tiger?"


"Menyiksanya, lalu merekam setiap jeritan kesakitannya saat aku menyiksanya. Rekaman itu akan aku kirimkan pada Lion king." Jawabnya santai seakan tidak memiliki perasaan sama sekali.


"Kau yakin akan melakukan itu, nong?"

__ADS_1


"Tentu. Kanapa? Apa phi tidak percaya padaku lagi--"


Tam mereguk air sebelum menanggapi Varen. "Phi rasa, kau tidak akan bisa menyiksanya, nong. Ya, kupikir begitu."


"Why?"


"Because_ You love her so much, right?"


Kalimat itu membuat sendok yang hampir masuk kemulutnya terhenti. Sendok berisi makanan itu kembali diletakkannya diatas piring hingga menimbulkan suara dentingan yang lumayan keras.


"Aku tidak mencintainya sama sekali. Tidak akan pernah, Phi. Never." Dia menegaskan dengan suara beratnya yang selalu membuat sipendengar merinding.


"Oke. Terserah. Tapi, aku harap kau tidak lengah, nong. Kau terlalu memperlihatkan bahwa kau mencintai gadis itu." Tam memperingatkan Tiger bahwa dia telah jatuh cinta pada gadis itu dan sangat terlihat jelas.


"Begitukah? Apa wajahku sangat memeperlihatkan bahwa aku mencintainya--" Varen menatap wajahnya melalui pantulan gelas kaca dihadapannya. Hal itu membuat Tam tersenyum.


Suasana menjadi sunyi, hanya suara sendok yang bertemu piring saja untuk waktu yang cukup lama. Keduanya menikmati makan siang hingga selesai tanpa suara sedikitpun.


"Phi-- Apa yang ingin kau katakan padaku? Tidak mungkin kau hanya ingin menanyakan tentang gadis itu, bukan?" Akhirnya Tiger buka suara.


"Ah tikus yang kau tangkap di Hawai?"


Wajah Tiger berubah menjadi merah padam. Tikus yang ditangkap Tam di Hawai adalah Sarwa. Jalangnya yang juga bekerja sebagai manejer akuntan di Mark group. "Phi tidak membawanya padaku? Ku rasa sepertinya ada sesuatu yang besar terjadi--"


Lagi lagi Tam tersenyum. "Sarwa. Wanita itu, dia bekerja untuk Arnold CEO MD group. Sarwa, menyamar menjadi ja-la-ng-mu untuk memata matai Aila. Tapi, setelah beberapa kali ber-cin-ta denganmu, dia benaran jatuh cinta padamu, nong."


"Lalu--" Tiger malas sekali membahas wanita itu.


"Dia membatalkan niatnya menjadi mata mata yang bekerja untuk Arnold. Dia malah melarikan sejumlah uang perusahaan untuk kabur dari Arnold dan juga kabur darimu. Ya, setidaknya kau harus tau alasan Sarwa melarikan uang perusahaan."


"Phi percaya pada wanita itu?" Tiger tersenyum mengejek mendapati Tam begitu mudahnya percaya pada wanita mu-ra-han itu. Atau mungkin memang terjadi sesuatu antara Tam dan Sarwa.

__ADS_1


"Awalnya aku juga tidak percaya, nong. Tapi, setelah--"


"Setelah me-ni-du-ri-nya, kau jadi percaya padanya." Tiger menatap malas pada Tam yang terdiam mendengar kalimat yang keluar dari mulut Varen. "Jangan mudah percaya pada wanita hanya karena wanita itu mau tidur denganmu, Phi. Wanita itu licik."


"Aku tidak tidur dengannya, nong. Aku juga tidak mencintainya sama sekali. Sarwa-- wanita itu, dia mengandung anakmu."


Kalimat barusan membuat Tiger tercengang. Beberapa detik dia tampak kesulitan untuk menarik napas, hingga akhirnya terdengar suara tawanya yang menggelegar seakan memenuhi ruangan VVIP tempat mereka menyantap makan siang.


Tam terdiam mendengar Varen tertawa terbahak bahak sampai mengeluarkan air mata di ujung matanya. Dia tidak dapat menebak maksud dari tawa itu.


"Phi, kau lucu sekali_ kau langsung percaya pada wanita itu?" Varen kembali tertawa.


"Ya, phi percaya padanya, nong. Usia janinnya sudah terhitung 13 minggu dan dia sudah melakukan tes dna selama di Hawai dan hasilnya 99,9% janin itu berasal dari benihmu."


Tawa renyah Varen berhenti seketika. "Tidak mungkin, phi. Dia hanya berbohong."


"Kau tau, nong. Phi tidak mudah percaya pada siapapun. Tapi, kali ini wanita itu tidak bohong. Dia benar benar mengandung benihmu."


"Lalu apa yang phi ingin untuk aku lakukan, Phi?"


"Bawa dia ke mansion. Suruh orang orangmu merawatnya, setidaknya sampai bayi-mu lahir."


"Tidak mungkin, Phi. Aila akan terluka, jika sampai dia tahu wanita itu mengandung bayiku_"


"Kau bilang tidak mencintai Aila, never. Lalu, mengapa sekarang kau malah peduli dengan perasaan gadis itu?"


Mata Varen sedikit bergetar tanpa alasan. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh, sakit rasa itu mungkin yang dia rasakan saat membayangkan bagaimana wajah Aila saat dia membawa Sarwa yang hamil untuk tinggal bersama di mansion. Tapi, bukankah ini kesempatan untuknya menyiksa Aila tanpa harus melukai pisik wanita yang telah menjadi istrinya itu.


"Hentikan semua dendam ini, Tiger. Kembalikan Aila pada Lion king, dan mulailah hidup baru bersama Sarwa."


"Phi, aku tidak menginginkan Sarwa-- Dan aku yakin kandungannya bukan berasal dari benihku." Varen menegaskan.

__ADS_1


"Phi tahu kau tidak menginginkan Sarwa, nong. Tapi, setidaknya pikirkan bayi yang dikandungnya, itu benar benar bayi-mun, nong. Dia benar benar mengandung benihmu. Dia berbeda dari wanita wanita yang kau bunuh karena mereka mengaku ngaku hamil hanya untuk memilikimu. Sarwa berbeda. Dia bahkan rela menjauh darimu untuk menyelamatkan bayinya. Karena dia menginginkan bayinya meski pun tidak bisa memilikimu, nong."


Varen menghela napas kasar. Kedua telapak tanganya mengusap wajahnya yang terasa panas tanpa alasan. Apa yang sebenarnya phi Tam rencanakan. Mengapa dia begitu kekeh memintaku percaya pada Sarwa?


__ADS_2