
Enam bulan dua minggu kemudian.
Ririn sudah melahirkan. Dia melahirkan operasi sesar, karena bayi mereka terlilit tali pusar.
"Adam, bagaimana keadaan Ririn?" Tanya Aila begitu tiba di rumah sakit.
"Alhamdulillah Ririn sehat. Dia baru saja dipindahkan keruangan rawat inap. Dan bayi kami cowok." Ucap Adam bahagia.
"Alhamdulillah. Selamat ya Adam."
Aila dan Varen pun ikut Adam menuju ruangan Ririn. Semetara suster juga membawa bayi mereka ke ruangan itu.
Ini kali pertama Ririn bisa melihat wajah bayinya. Karena tadi saat bayi lahir, Ririn benar benar tidak sadarkan diri masih dalam pengaruh bius.
"Selamat ibu, bayi ibu laki laki. Hidungnya mirip sekali dengan ibu dan wajahnya mirip bapak." Ucap suster itu.
Ririn tersenyum bahagia bercampur haru saat bayinya kini berada dalam gendongannya.
"Alhamdulillah ya Allah." Ucapnya penuh syukur.
Tidak henti henti Ririn menciumi wajah mungil putranya bergantian dengan Adam. Lalu setelah puas, barulah Aila meminta izin untuk menggendong bayi mereka.
Sangat hati hati Aila memegang tubuh mungil yang sangat harum khas bayi yang katanya bau syurga itu.
Entah mengapa air mata Aila ikut menetes haru saat mencium wajah mungil itu. Melihat itu Varen memeluk Aila dari belakang dan meletakkan kepalanya dipundak Aila sambil menatap wajah mungil putra dari Adam dan Ririn.
"Aku kerharu, mas. Sebentar lagi kita juga akan bertemu dengan dedek bayi." Ucap Aila.
Lalu tiba tiba terasa tendangan di dinding perut Aila. Tangan Varen yang melingkar disana merasakan tendangan itu.
"Uuhh anak papa cemburu ya mama menggendong kakak bayi?"
__ADS_1
Varen beralih posisi, dia membungkuk dan mendekatkan mulutnya kearea perut Aila.
"Sayang sabar ya, sebentar lagi kita bertemu, oke!"
Cara Veren berkomunikasi dengan calon bayi mereka membuat Ririn dan Adam gemas sendiri.
"Romantis romantisnya dan manis manisnya nanti saja pak, di tunda sampai nanti tiba di rumah." Ujar Adam bergurau.
Varen hanya tersenyum. Sementar Aila mengembalikan bayi itu pada Ririn.
"Selamat ya Rin. Semoga dedek bayi sehat selalu dan tumbuh menjadi anak yang sholeh."
"Aamiin ya Allah, terimakaish aunty." Jawab Ririn seakan mewakili putra kecilnya.
"Selamat ya, Dam."
"Terimakasih, pak Varen."
"Halo, beiby.."
Kinan masuk ke ruangan nyelonong saja tanpa menyapa Adam dan Varen. Dia langsung menghampir bayi yang ada di gendongan Ririn.
"Hello boy, uncle datang membawa hadiah." Kinan mengelus lembut pipi bayi menggunakan jari telunjuknya.
"Oh hai nyonya Aila." Sapanya pada Aila.
"Kau kenapa Kinan? Apa ada masalah?" Tanya Aila heran melihat cara bicara Kinan dan juga sikap cueknya terhadap Adam dan Varen.
"Tidak ada masalah nyonya. Hanya saja saya cemburu pada mereka." Kinan melirik sebentar pada dua pria itu.
"Cemburu!" Teriak Ririn dan Aila bersamaan dengan ekspresi terkejut bercampur heran.
__ADS_1
"Iya saya cemburu, karena Adam sudah menjadi ayah. Sementara pak Varen akan segera menjadi ayah juga. Tapi aku.. calon istri saja belum punya." Ungkapnya menjelaskan.
Alhasil penjelasan Kinan barusan membuatnya ditertawakan oleh pasangan suami istri itu bersamaan.
"Beiby boy, cepatlah besar. Temani uncle bermain." Bisiknya pada bayi itu.
"Cepatlah lamar kekasihmu itu, Kinan." Ujar Varen.
"Aku tidak punya kekasih, Tiger." Tampa sadar Kinan memanggil Varen dengan sebutan itu.
Sontak saja ruangan menjadi sunyi. Mendengar sebutan Tiger membuat suasana menjadi hening. Rasanya ada yang mengganjal di hati.
"Aku merindukan mereka, Tiger. Aku merindukan mansion, aku merindukan Thailand." Ungkap Kinan dengan mata yang berkaca kaca.
Tidak bisa dipungkiri, meski dia sangat sangat bahagia tinggal di Indonesia, tapi hatinya tetap merindukan negara tanah kelahirannya itu.
"Kau ingin pulang ke Thailand?" Tanya Varen.
"Tidak, jika tidak bersama kalian." Tegas Kinan.
"Baiklah, setelah acara aqiqah bayi Adam, kita akan terbang ke Thailand." Jawab Adam.
"Benarkah?" Kinan tampak bahagia.
Varen mengangguk yakin. Dia memang berencana akan mengunjungi Thailand untuk menemui sahabat sahabatnya dan juga menjenguk Juno yang dikabarkan kondisinya sangat mengkhawatirkan di rumah sakit jiwa setempat.
"Bolehkah aku ikut, mas?" Tanya Aila.
"Tentu sayang, tapi jika kandunganmu baik baik saja."
Varen menghampiri Aila, merangkulnya dan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1