Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 16


__ADS_3

Setengah jam Aila duduk cemas di sofa kamar Tiger. Akhirnya Tiger keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di bagian bawahnya, sementara bagian atasnya dia biarkan terbuka. Dia sedang tidak berminat untuk memakai bathrobe. Aila dapat melihat jelas tato kepala harimau dipunggung Varen.


"Tuan. Izinkan saya mengobati luka di lengan anda." Aila berdiri menundukkan kepalanya saat mengatakan kalimat ini.


Tanpa menjawab apapun, Varen melangkah kearah Aila, lalu dia duduk di sofa dengan nyaman. Aila pun ikut duduk di sebelahnya. Lalu Aila menarik pelan lengan kanan Varen yang tergores dan masih mengeluarkan sedikit darah, itu karena terkena air saat dia mandi.


Aila mulai memoleskan obat merah, dan Varen merintih merasakan perih di bagian lukanya yang terkena obat merah. Varen hanya berbohong. Dia tidak benar benar merasakan perih. Dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Aila.


"Tahan sebentar tuan. Rasa perihnya akan segera hilang." Aila meniup lembut luka di lengan Varen, kemudian dia langsung membalut luka itu dengan perban.


"Apa tuan terluka saat bertugas?" Aila menatap lembut tepat ke bola mata Varen yang juga menatapnya namun hanya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Aku menginginkanmu saat ini juga, sayang."


Tubuh ringan Aila kini sudah berada dalam gendongan Varen. Dia membawa Aila dan meletakkannya dikasur dengan sangat hati hati, lalu menindihnya. Tidak benar benar menindih, dia menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan untuk menahan tubuh besarnya agar tidak menyakiti Aila.


"Kau begitu berani. Apa kau tidak takut padaku?"


"Tentu aku takut, tuan. Tapi, apa yang sebenarnya aku takutkan pun tidak berarti, karena aku telah mempersiapkan diri saat tuan akan melaksanakan misi tuan untuk membunuhku." Jawab Aila lembut, tenang dan seakan dia benar benar telah ikhlas jika memang harus meregang nyawa di tangan lelaki yang mungkin bisa disebutnya sebagai suami.


Jawaban itu membuat mata Tiger sedikit bergetar. Dia merasakan sesuatu yang aneh di relung hatinya. Ada perasaan marah, kesal dan juga sedikit iba pada gadis yang telah dinikahinya itu. Bisakah dia menyebutnya istri. Rasanya sangat kekanakan menurutnya.


"Tuan. Bolehkah aku mengutarakan sesuatu--"

__ADS_1


"Katakan." Tiger mulai mencium kening, pipi dan mengendus leher Aila.


Jilbabnya sudah ia lepas, saat tiba di kamar. Aila juga tidak lupa untuk mengunci pintu kamar mereka tadi saat Varen sedang di kamar mandi. Aila tidak ingin seseorang tiba tiba menerobos masuk disaat mereka sedang berdua. Seperti kejadian yang beberapa saat lalu dia alami.


"Harusnya, saat tuan merasa bergejolak, datangilah aku. Karena aku sudah halal untuk tuan sentuh semau tuan. Jadi, jangan melakukan hal itu dengan wanita lain selama aku masih tuan izinkan bernapas."


Tidak ada jawaban dari Varen. Dia tahu apa yang Aila maksud. Tapi siapa Aila berani memerintahnya. Terserah dirinya mau melakukan itu dengan siapapun. Dan dia tahu Aila mengatakan itu bukan karena cemburu, tapi karena dia seorang yang taat akan agamanya dan berhubungan badan sebelum ikatan pernikahan adalah dilarang.


Varen melanjutkan pekerjaanya, sampai pada titik dimana dia tidak sengaja menyentuh goresan di bawah dagu Aila akibat perbuatannya melepas paksa jilbab wanita itu.


"Kau terluka--" Varen mendongak melihat ekspresi meringis Aila.


"Bukan apa apa dibandingkan luka di lengan, tuan."


Kalimat itu sungguh membuat hari Aila sakit. Tapi, untuk apa dia sakit hati, toh benar dia hanya mainan baru bagi tuannya itu.


Varen beranjak dari tubuh Aila. Dia tidak jadi menyentuh Aila. Goresan kecil itu sangat mengganggunya. Varen segera memakai pakaiannya, celana pendek selutut, dengan kaos over size berwarna abu abu tentunya. Dia terlihat keren dengan pakaian itu. Bahkan dia terlihat seperti cowok abg. Aila tidak munafik, wajah dan tampilan Varen benar benar mempesona. Varen satu satunya pria yang membuatnya mengakui bahwa dia keren.


Aila tahu, andai ada seratus persen untuk nilai ketampanan, maka lima puluh persennya tentu saja dimiliki oleh Nabi Muhammad, dua puluh lima persennya nabi Yusuf dan mungkin sepuluh persennya Levarendo Mark dan sisanya pria gagah lainnya termasuk Adrian.


"Hilangkan goresan kecil itu segera. Aku tidak suka."


Varen meninggalkan kamar begitu saja. Dan Aila bisa menghela napas lega, karena akhirnya dia aman dari sentuhan pria itu yang mungkin bisa disebut suaminya.

__ADS_1


Kini Varen sudah kembali ke meja kerjanya, di depannya sudah ada Jack dan Adit.


"Apakah anda terluka parah, Tiger?"


Jack yang bertanya saat melihat perban melingkar di lengan atas Tiger.


"Hanya luka kecil. Dan ini--" Dia menggoyangkan lengannya untuk memperlihatkan perban yang melingkar itu. "Aila yang memasangkannya."


Jack dan Adit saling bersitatap, mereka merasa Aila luar bisa spesial hingga bisa mengobati luka di tubuh Tiger.


"Jangan berpikir berlebihan. Ini hanya bagian dari trikku untuk memikat hatinya."


Jack dan Adit pun mengangguk paham. Ya, semua orang di mansion sudah tahu bahwa Aila hanya tawanan yang akan disiksa secara perlahan hingga Aila merasa ingin segera mati dengan sangat prustasinya dia nanti. Itulah rencana Tiger.


Kenapa Tiger ingin menyiksa Aila? Apa yang sudah Aila perbuat padanya? Tentang itu hanya Tiger yang tahu dan mungkin Seon juga tahu.


"Kalian hanya perlu mengantarkan barang barang itu ke perbatasan. Jangan terpancing untuk membuat keributan apa lagi sampai terjadi pertumpahan darah."


"Siap, Tiger."


"Kembalilah dengan tanpa terluka."


"Siap Tiger."

__ADS_1


Kalimat manis itu selalu diucapkan Tiger saat mengirim anak anaknya ke mendan perang. Dan itulah yang membuat semua anak anaknya setia padanya. Mereka sangat beruntung memiliki pimpinan seperti dirinya yang kejam, tegas, angkuh namun sangat setia kawan dan selalu melindungi anak anaknya.


__ADS_2