
Hari lebaran.
Semua berkumpul bersama sanak saudara setelah usai melaksanakan sholat idul fitri bersama di masjid masjid terdekat kediaman mereka. Sungguh hari ini merupakan hari bahagia seluruh umat muslim diseluruh dunia.
Aila kini duduk bersimpuh di hadapan Varen yang duduk di sofa. Awalnya Varen bingung sampai sampai dia hendak membantu Aila untuk kembali duduk di sampingnya, tapi Aila menolak dan menjelaskan bahwa ini adalah hal yang biasa di lakukan seorang istri saat hari raya idul Fitri.
"Mas.. aku minta maaf jika aku pernah membuat mas tersinggung. Baik itu dengan kata kata atau perbuatan yang aku sengaja ataupun mungkin tidak aku sengaja. Di hari nan suci ini, semoga mas memaafkan segala salahku dan meridhoi aku sebagai istri mas Varen."
Aila akhirnya menyelesaikan ungkapan hatinya yang disusun menjadi kalimat yang menyentuh, meski memang terdengar terbata bata dan juga sedikit gemetar. Maklum saja ini kali pertama Aila meminta maaf pada suami di hari lebaran.
"Kamu adalah istri terbaikku Aila, sayang. Dan insyaAllah mas sudah memaafkan semua kesalahanmu. Mas harap, sayang juga mau memaafkan semua kesalahan mas dimasa lalu sampai masa kini. Sungguh mas meridhoi kamu sebagai istri mas yang paling mas cintai, sayangi dan mas harap kebersamaan kita sebagai suami istri kekal hingga kelak sampai ke syurga."
Kata kata itu begitu indah dan membuat Aila menangis haru. Varen tidak tinggal diam melihat istrinya menangis, dia langsung meraih kedua bahu Aila untuk bisa dipeluknya dan mencium kening Aila.
Setelah acara bermaaf maaf-an usai, Aila mengajak Varen untuk berkunjung ke rumah rumah tentangga di komplek mereka.
"Kita berkunjung sekarang sayang?"
"Iya mas. Sebelum mereka berkunjung ke rumah kita, lebih baik kita duluan yang mengunjungi rumah mereka."
Aila menarik tangan Varen menuju pintu, namun begitu mereka membuka pintu, rupanya anak anak dan para remaja serta pemuda pemudi komplek sudah tiba di depan pagar rumah Aila.
"Assalamualaikum, tante Aila, om Varen."
Sapa mereka berbarengan. Salah satu dari mereka membuka pintu gerbang lalu mempersilahkan yang lain untuk masuk.
"Waalaikumsalam!" Seru Aila dan Varen berbarengan.
Aila tersenyum ramah menyambut mereka semua, begitu juga dengan Varen.
"Om sama tente sudah mau pergi berlebaran ya?" Tanya salah satu pemuda.
"Rencananya iya. Tapi karena kalian sudah lebih dulu datang, jadi mari silahkan masuk." Ajak Aila.
"Yok ayok masuk.." Sambung Varen mengajak rombongan anak anak itu masuk ke rumah mereka.
Semua anak anak masuk dan duduk di karpet yang sudah dibentang di ruang depan siap dengan segala macam jenis kue kue kering khas lebaran.
"Kalian mau makan ketupat sama opor ayam gak nih?" Tanya Aila pada mereka saat mereka sudah duduk dan juga ada yang mulai mencicipi kue.
"Mau tante.."
"Aku juga mau…"
"Aku juga tante.."
__ADS_1
"Iya tenang saja, semua pasti kebagian. Tapi, yang cewek cewek bantu tante yuk kedapur.." Ajak Aila.
"Siap tante."
Lima orang cewek cewek yang disebut pemudi komplek pun ikut bersama Aila ke dapur untuk membantu mengambil piring, sendok dan juga ketupat beserta opor ayamnya.
Untung saja bik Nur masak banyak. Ya, karena memang di komplek sini, sudah biasa melakukan kunjungan saat hari lebaran seperti ini. Jadi, sudah pasti harus memasak banyak makanan. Tapi bukan di wajibkan ya, hanya jika yang punya rumah ingin berbagi bersama tetangga.
Bhika yang mendengar suara riuh ramai itupun langsung melihat ke ruang depan.
"Mama!" Seru Varen saat melihat Bhika.
"Anak anak, ini nenek. Mamanya tante Aila dan om." Varen memperkenalkan Bhika pada anak anak.
"Halo nenek." Sapa mereka serentak dan bergantian menyalami Bhika yang tampak bingung, tapi tetap tersenyum ramah pada anak anak itu.
"Maaf lahir batin, ya nek." Ucap seorang remaja cewek pada Bhika tapi, Bhika yang tidak mengerti bahasa Indonesia hanya bisa tersenyum saja.
"Nenek orang Thailand, jadi nenek tidak bisa bicara bahasa Indonesia." Jelas Varen pada remaja itu.
"Oo gitu ya om.." Sahutnya mengangguk paham dan kembali duduk.
"Aila mana?" Tanya Bhika pakai bahasa Thailand pada Varen yang membuat atensi anak anak tertuju padanya.
"Aila ke dapur, Ma. Mengambil ketupat sama opor ayam." Jawab Varen pakai bahasa Thailand juga.
"Ada yang mau belajar bahasa Thailand nggak nih?" Tanya Varen.
"Aku om, aku mau…"
"Aku juga om…
"Gratis nggak om, kalau gratis aku mau. Tapi kalau bayar nggak mau ah, nanti dimarahi mamak.." Ujar seorang remaja yang cowok yang sejak tadi memang suka bergurau dan melucu.
"Untuk yang lain sih gratis. Tapi khusus buat kamu bayar dong, goceng deh satu kata."
Varen balik melontarkan kalimat candaan yang akhirnya membuat anak anak tertawa dan mengejek remaja itu, tentu saja juga dengan candaan.
"Ya elah om, mahal amat satu kata goceng. Serebu deh om.." Protesnya.
Varen tersenyum, dia merasa bahagia bisa berkumpul dan akrab dengan anak anak komplek yang super ramah dan juga sopan santun tentunya.
Saat itu juga, Aila bersama cewek cewek tadi datang dari dapur membawa opor ayam dan ketupat.
"Ketupat opor ayamnya datang.." Ujar Aila.
__ADS_1
"Makan makan.."
"Yeeyyy lezat nih.."
"Tante aku boleh makan dua piring gak nih?"
"Boleh boleh, silahkan kalian makan sepuasnya." Jawab Aila yang sudah kembali duduk diantara mama dan suaminya.
"Mama mau makan ketupat juga nggak?" Tanya Aila pakai bahasa Thailand, meski masih terbata bata.
"Boleh deh mama coba dikit."
"Mas juga mau?" Tanya Aila pada suaminya.
"Mas ambil sendiri. Sayang ambilkan saja untuk mama."
Mereka bicara bahasa Thailand dan lagi lagi mengalihkan atensi anak anak untuk mendengar mereka.
"Mama juga mau ambil sendiri lah, tapi ajari mama harus ambil apa duluan." Ujar Bhika yang sudah memegang piring dan sendok.
Aila pun langsung mencontohkan pada mama dan suaminya dengan cara memasukkan potongan ketupat kedalam piringnya, lalu menuangkan dua sendok kuah opor keatas nasi lontong ketupatnya. Tidak lupa mengambil sepotong daging ayamnya juga dan terakhir ditaburi bawang goreng.
Setelah siap, Bhika dan Varen pun mencicipi makanan khas lebaran itu.
"Mmmh enak. Mama suka.."
"Sebenarnya rasanya enak sih, tapi kok kurang pedas ya sayang.." Protes Varen yang sejak tinggal diindonesia menjadi sangat suka makan pedas.
"Mas mau tambah sambel nggak?"
"Mau, mana sambelnya?"
Aila pun kembali kedapur, dan ternyata Varen ikut kedapur. Saat Aila berdiri di dekat meja makan sambil menyendok sambel ke mangkok yang lebih kecil, Varen datang dan langsung memeluknya dari belakang.
"Mas.." Aila agak kaget.
"Sayang, mas sangat bahagia hari ini." Mencium puncak kepala Aila.
"Aku juga bahagia, mas. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah." Ulang Varen.
Kemudian tangan Varen malah pindah ke perut Aila. Dia menyelipkan tangannya kebawah jilbab Aila yang menjulur panjang menutupi sampai bagian perutnya.
"Assalamualaikum, anak papa. Selamat hari lebaran ya sayang. Baik baik di perut Mama ya. Sampai bertemu tujuh bulan dua minggu ke depan sayang." Bisik Varen berucap pada calon bayi mereka di telinga Aila.
__ADS_1
Wajah Aila merona sempurna, matanya bahkan berkaca kaca karena terharu mendengar ucapan manis suaminya untuk calon bayi mereka.