
Bhika sudah kembali membuka matanya. Tapi, dia hanya diam tidak mengatakan apapun. Sedangkan Arjin tetap setia berada di sampingnya menggengam tangannya dan mendoakannya tanpa henti.
"Dimana putriku?"
Akhirny Bhika kembali bicara.
"Sayang, ini aku suamimu."
Bhika menatap sebentar wajah Arjin, lalu terlihatlah senyum manis diwajah pucatnya itu.
"Arjin di mana putri kita?"
"Putri kita bersama suaminya. Dia akan baik baik saja."
"Putri kita sudah menikah? Siapa suaminya?"
Sebentar Arjin terdiam, dia masih menimbang nimbang untuk menceritakan yang sebenarnya atau membohongi istrinya.
"Apa mungkin Tiger membawa pergi putri kita…"
Arjin semakin tidak bisa mengatakan apa apa. Dia takut istrinya shok dan kembali tidak sadarkan diri seperti sebelumnya.
"Kenapa diam, Arjin? Jawab, dimana putri kita?"
"Tenang ya sayang. Aila baik baik saja, dia dikamar sebelah bersama Tiger."
"Apa? Kamu membiarkan Tiger membawa putriku, Arjin--" Bhika histeris khawatir.
"Tiger adalah suami Aila, sayang. Mereka sudah menikah sejak empat bulan yang lalu."
Bhika terdiam mendengar penjelasan suaminya. Dia tidak bisa berkata kata saat mengetahui kenyataan bahwa putrinya telah dinikahi oleh putra dari pria yang telah mereka tuduh menculik putrinya itu.
"Arjin, apakah ini karma atas kesalahan kita di masa lalu?"
Arjin memeluk erat tubuh rapuh istrinya yang mulai menangis terisak.
Sementara di kamar sebelah, Varen tampak telaten merawat Aila. Dia bahkan meminta dokter dan perawat untuk keluar dari kamar itu, karena Varen membuka hijab Aila untuk membiarkan udara lebih mudah masuk ke rongga dadanya yang sesak.
"Bangun sayang. Aku merindukanmu--"
Varen membelai lembut kepala Aila yang sudah tidak memakai jilbabnya. Di ciumnya dahi indah itu sangat lama.
"Maafkan aku, tuan." Suara Aila membuat Varen menyudahi ciumannya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tangan Varen membelai kedua belah pipi lembut Aila.
"Maafkan aku, tuan. Aku tidak bisa menjaga bayi--"
Belum selesai Aila berucap, Varen kembali memeluk Aila. Dia bahkan mendudukkan Aila untuk lebih mudah dipeluknya.
__ADS_1
"Tidak sayang, jangan meminta maaf padaku. Aku yang harusnya meminta maaf, karena aku tidak mampu mengendalikan amarahku saat melihat Lion king."
Aila memangis terisak dalam pelukan Tiger. "Bawa aku pergi dari sini tuan. Aku tidak bisa hidup tanpa tuan. Aku rasa aku akan gila jika tuan meninggalkan aku lagi." Ujar Aila sambil mempererat lingkaran tangannya di pinggang Varen.
Varen mengangguk sambil memberikan ciuman di puncak kepala Aila. "Kita akan pergi dari tempat ini, sayang. Kita akan hidup bebas, lepas dari segala macam hiruk pikuk dunia mafia. Aku janji, aku akan membawamu pergi dari dunia hitam ini."
Aku janji akan membawamu pergi, sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Hanya kamu satu satunya milikku saat ini. Aku akan tetap hidup untuk bisa bersamamu, Aila.
Tanpa mereka sadari, Bhika dan Arjin menonton pertunjukan penuh haru Aila dan Varen melalui layar ipad Arjin yang tersambung dengan cctv rahasia di ruangan tempat Aila dan Varen saat ini.
...🐯(NATM)🐯...
_VILA RAHASIA_
Setelah mansion benar benar habis dilahap jago merah, Seon dan rekan rekannya kembali ke Vila. Dua minggu terakhir mereka habiskan di vila untuk mempersiapkan diri dalam perperangan melawan Snake king dan juga Lion king.
"Lyn, kau merindukan Tiger?" Tanya Seon menghampiri kekasihnya itu yang duduk melamun di taman bunga tulip yang dulu di tanam Aila.
"Aku masih tidak bisa percaya Tiger terbunuh. Setidaknya sebelum aku melihat sendiri mayatnya, aku belum bisa percaya."
"Karena itu lah, besok kita akan menyerang markas Lion dan Snake sekaligus. Jika memang benar Tiger telah tewas, setidaknya kita akan menemukan bukti di sana."
Lyn hanya mengangguk, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu Seon yang selalu menjadi tempat favoritnya.
"Kau tahu Lyn, aku pernah hampir tertembak tepat dikepalaku waktu aku ikut Seon melakukan transaksi di Maroko. Tiger mengambil alih peluru itu dengan tangannya hingga punggung tangannya bolong."
"Kau serius? Jadi bekas luka tembak di tangan Tiger benar benar karena ingin menyelamatkan kamu?"
"Mengapa baru sekarang kamu bercerita tentang ini? Kenapa tidak dari dulu--"
"Aku rasa karena dulu aku terlalu sibuk, rasanya tidak punya waktu untuk hanya sekedar mengobrol santai seperti ini, sayang." Seon mencubit manja puncak hidung Lyn yang membuat si empunya mendengus kesal.
Meninggalkan sepasang sejoli yang bermesraan, justru di kamarnya Ririn sedang sibuk mengutak atik laptopnya.
"Apa yang kau lakukan, sayang?" Tanya Adam heran melihat betapa fokusnya kekasihnya itu di depan laptopnya.
"Bukankah phi Tam telah tewas dalam kebakaran mansion?"
"Iya. Kita bahkan melakukan pemeriksaan berkala untuk memastikan mayatnya. Memangnya ada apa?" Adam mendekati Ririn.
"Tidak ada apa apa, hanya melakukan pemeriksaan ulang pemegang saham Mark holding."
Mendengar pernyataan Ririn membuat dahi Adam berkerut bahkan alisnya nyarit bertemu satu sama lain. "Kau yakin tidak terjadi apa apa?"
"Iya, sayang. Aku yakin tidak ada yang terjadi kok. Hanya saja tadi aku keliru, apakah aku sudah memindahkan saham phi Tam atau belum, tenyata sudah." Jelasnya tersenyum manis.
"Syukurlah kalau memang tidak terjadi apa apa."
Ririn akhirnya mematikan laptopnya, lalu menghampiri Adam yang sudah kembali berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Kau tahu, Adam. Tiger berjanji akan memberiku hadiah paket pernikahan gratis untuk kita, jika aku berhasil menyelesaikan misi ini."
"Apa kau lupa, sayang. Kau sudah pernah mengatakan itu padaku."
"Benarkah? Apakah aku sudah tua dan pikun."
"Kau menggemaskan, Ririn." Adam memberi ciuman dibibir kekasihnya itu. "Aku janji setelah misi pembalasan atas kematian Tiger selesai, kita akan segera menikah."
"Mmm, tapi misi-ku membantu Tiger menyelamatkan Mark holding dan juga pabrik senjata belum benar benar selesai, Adam."
"Kau berhasil sayang. Misimu sudah selesai. Kita berhasil melindungi pabrik, vila dan Mark holding."
"Benarkah, kita berhasil."
"Benar, sayang. Kita berhasil."
"Tapi, bagaimana aku bisa mendapatkan hadiahku saat Tiger sendiri entah dimana keberadaannya." Rutuknya kecewa.
Tok--
Tok--
Tok--
Suara ketukan pintu itu membuat Adam dan Ririn menatap tajam kearah pintu.
"Siapa?" Tanya Adam.
"Adam, aku Kinan. Bolehkah aku masuk?"
"Hei Kinan, silahkan masuk." Sahut Ririn yang langsung memperbaiki posisi duduknya diatas ranjang yang sama dengan Adam yang masih berbaring tengkurap.
"Ada apa Kinan? Kau berlari menuju kesini?"
Kinan mengangguk dengan napas yang tersengal sengal.
"Terjadi sesuatu?" Selidik Adam hati hati.
Kinan malah mengangguk cepat, kemudian berkali kali dia mencoba menetralkan kembali napasnya. "Tiger terdeteksi. Gps nya menyala. Itu berarti Tiger masih hidup."
"Benarkah?"
"Iya. Kali ini Tiger bahkan memberikan signal agar kita segera menemuinya."
"Kau yakin ini bukan jebakan?"
"Aku yakin. Hanya Tiger yang bisa mengaktifkan atau mematikan gps di bahunya."
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita temui Tiger." Ajak Adam dan Ririn yang siap melangkah keluar dari kamar mereka.
__ADS_1
"Tiger berada di mansion Lion."
Kalimat barusan membuat langkah dua sejoli itu berhenti. "Kau yakin bukan jebakan, Kinan?" Mereka menatap tajam kearah Kinan yang malah menaikkan kedua bahunya.