Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 68


__ADS_3

Tiger terdampar di pinggir sungai dalam keadaan terluka parah. Untungnya dia ditemukan oleh anak buah Ben yang kebetulan ditugaskan menjaga gerbang mansion yang berbatasan dengan sungai.


Ben sempat kaget saat mendapat kabar dari anak buahnya yang mengatakan mereka menemukan mayat Tiger. Tapi, kemudian Ben memerintahkan mereka untuk membawa tubuh Tiger yang mereka kira telah tewas itu ke mansion.


"Apa yang terjadi?" Tanya Lion melihat langsung tubuh Tiger yang dibawa oleh anak buahnya.


"Sepertinya Tiger mencoba melarikan diri dari kurungan Snake king, tapi malangnya dia malah terbunuh." Jawab Ben yang juga sudah memeriksa denyut nadi Tiger yang memang tidak lagi terdeteksi.


"Sementara sembunyikan tubuhnya. Jangan sampai Snake mengetahui keberadaan Tiger." Titahnya.


"Baik, Lion."


"Ben, pakaikan semua yang ada di tubuh Tiger pada mayat lain, lalu letakkan kembali di tempat kalian menemukannya."


Ben mengerti apa yang dimaksud Lion, hingga membuatnya langsung melaksanakan titah itu tanpa bertanya lagi.


Anak buah Ben membawa mayat salah satu tawanan mereka yang mati bunuh diri kemarin, mayat itu memiliki postur tubuh yang sangat mirip dengan Tiger. Segera mereka menukar pakaian mayat itu dengan pakaian Tiger, lalu membawa mayat itu untuk diletekkan kembali ke hulu sungai.


Sementara tubuh Tiger, dipakaikan pakaian baru yang layak. Peluru yang bersarang di paha, lengan dan bahunya di keluarkan oleh dokter kepercayaan Lion. Lion bahkan meminta dokternya menjahit luka luka di seluruh tubuh Tiger. Dan saat itu juga, denyut nadi Tiger kembali, tapi dia dalam keadaan koma.


"Rawat dia dengan baik. Jika bisa selamatkan dia, dia adalah menantu saya." Titah Lion pada dokter kepercayaannya itu.


"Baik, Lion."


Dokter itu, dibantu oleh dua orang asistennya untuk memberikan perawatan khusus pada Tiger di salah satu ruangan paling rahasia di mansionnya. Ruangan itu berdampingan dengan ruangan tempat istrinya dirawat.


Lion kini kembali menjenguk istrinya. "Sayang, aku janji, kali ini aku akan menyelematkan putra Tiger king. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Ucapnya penuh penyesalan mengingat perbuatannya dimasa lalu.


"Aku akan merelakan Aila jika memang nanti Aila memilih pria itu dibanding kita, selama pria itu bisa membuat Aila bahagia."


"Aku juga akan menerima hukuman apapun yang nantinya akan diberikan pria itu padaku untuk membalas kematian kedua orangtua dan adikknya. Asalkan bukan memberikan nyawa Aila, apapun itu akan aku turuti." Dia mencium punggung tangan istrinya.


"Kau pasti setuju padaku, kan sayang? Ya, kau pasti setuju. Karena aku memang pantas mendapatkan hukuman itu."


Lion mencium punggung tangan istrinya lagi, air matanya mulai menetes dari pelupuk matanya dan mengenai punggung tangan dingin istrinya itu. Tanpa disadarinya, jari kelingking istrinya bergerak pelan, seakan memberi respon dari hangatnya air mata yang menyentuh kulitnya.

__ADS_1


...🐯(NATM)🐯...


Baron dan anak buahnya menemukan mayat yang mereka kira adalah Tiger. Mereka bahkan memastikan luka yang mereka ukir di tubuh Tiger sebelum Tiger jatuh ke sungai, benar benar ada di tubuh mayat itu.


"Kapten, ini benar benar tubuh Tiger. Lihatlah bekas tembakan dibahunya bahkan masih basah dan mengeluarkan darah kental."


"Benar, kapten."


"Kalau begitu segera bawa mayat itu. Kita harus memperlihatkannya dulu pada Snake king."


"Baik, kapten."


Merkeka pun membawa mayat itu ke markas rahasia untuk memberikan hasil tangkapan mereka padanya.


Dan bodohnya, saat tiba di markas, Arnold lansung percaya bahwa itu mayat Tiger. Begitu juga dengan Taw dan Juno, mereka tidak menaruh curiga sedikitpun pada mayat itu.


"Wujudkan keinginan tuan muda Adrian, Baron."


"Baik Snake. Akan segera saya laksanakan."


Baron pun memerintahkan lagi agar anak buahnya membawa mayat itu untuk di letakkan di dekat mansion Lion. Sesuai perintah Adrian.


Pagi harinya Baron mengetuk pintu kamar tempat Aila dirawat.


"Ada apa Baron?" Adrian melangkah mendekati Baron.


"Tuan muda, pagi ini kami menemukan mayat Tiger tewas di area mansion Lion." Bisik Baron dengan suara lantang sengaja supaya didengar oleh Aila.


"Mayat siapa?"


Adrian sengaja bertanya lagi agar Baron mengulangi ucapannya karena Aila sama sekali tidak memberi reaksi apapun.


"Kami menemukan mayat Tiger di sekitar area mansion Lion. Sepertinya Tiger datang ke sana untuk merebut nona Aila, dia mengira Lion yang membawa nona Aila. Namun sayangnya dia malah terbunuh."


"Apa? Anda yakin tidak salah Baron?"Adrian menoleh kebelakang untuk melihat bagaimana reaksi Aila.

__ADS_1


"Jika tuan ingin melihat lansung mayatnya, tuan bisa ikut saya. Mayatnya ada di gudang belakang. Snake memerintahkan untuk menguburkannya secara layak."


Masih belum ada respon apapun dari Aila. Hal itu membuat Adrian sedikit emosi. Dia kira Aila akan mengamuk atau malah pingsan, tapi diluar dugaannya Aila malah tampak santai menyantap sarapan yang ada dihadapannya.


"Aila, tidak apa jika aku tinggal sebentar?" Dia mendekati Aila.


"Tidak apa." Jawab Aila datar.


"Baiklah, kalau begitu tetaplah disini. Aku ingin melihat mayat yang mereka duga adalah Tiger."


"Silahkan, Adrian. Aku tidak apa apa kok ditinggal sendirian." Jawab Aila sambil tersenyum.


*Kenapa Aila bereaksi seperti ini. Apa dugaanku salah, menganggap Aila mencintai mafia itu. Jika benar dugaanku salah, syukurlah. Berarti aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Aila.*


"Aku pergi sebentar, sayang. Tetaplah disini." Adrian hendak menyentuh kepala Aila yang tertutup hijabnya, tapi diurungkannya saat mengingat bahwa Aila tidak suka disentuh tanpa izin.


Begitu Adrian menghilang di balik pintu kamar, tangan Aila yang tadi menyendok sarapan dipiringnya pun berhenti. Napasnya naik turun tak beraturan, tangannya sampai memegangi dadanya yang semakin terasa sangat sesak.


*Tidak. Varen tidak mungkin tewas. Tidak, aku tidak akan mempercayai omongan Adrian sebelum aku menyaksikan sendiri bahwa mayat itu benar benar tuan Varen.*


Matanya mulai berair, tangannya memukul mukul dada yang terasa semakin sesak seakan semua oksigen telah habis didunia ini. Akhirnya Aila menangis dalam diam.


"Haa, aa aaaa aakkhrr-- Ya ALLAH!" Teriakannya tertahan. Tangannya semakin kuat menekan dadanya yang sangat sakit dan semakin bertambah sakit.


Sayangnya, saat Aila masih belum menyelesaikan tangisannya, suara langkah kaki terdengar mendekati pintu kamar itu. Hal itu membuat Aila berusaha sebaik mungkin untuk terlihat baik baik saja.


"Selamat pagi, Aila."


Itu Arnold. Ini pertama kalinya dia menemui Aila setelah dia mengirim Aila ke tangan Tiger beberapa bulan yang lalu.


"Takdir hidupmu ternyata masih panjang. Padahal saya telah berusaha menyingkirkan kamu saat itu. Tapi, sialnya pria itu malah memilih menikahi gadis cantik nan malang ini." Oceh Arnold yang kini sudah berdiri tepat di samping ranjang Aila.


"Apa lagi yang om inginkan dariku? Bukankah om ingin menyingkirkan aku karena ingin menguasai MD Group? Dan om sudah mendapatkannya, bukan!"


"Tenanglah sayang, jangan marah marah begitu. Itu tidak baik untuk masa pemulihanmu."

__ADS_1


"Apa lagi yang om inginkan dariku? Oh, om ingin membunuhku? Silahkan om, bunuh saja sekarang, aku sudah tidak peduli." Pekiknya penuh emosi, hingga air matanya kembali tumpah.


"Tenanglah Aila. Maafkan saya. Saat itu saya terlalu berambisi, tapi sekarang saya sudah mendapatkan semuanya, jadi saya rasa saya bisa merestui pernikahanmu dengan Adrian."


__ADS_2