
Dua minggu berlalu.
Keadaan Aila sudah mulai membaik, tapi dia menjadi sangat pendiam dan menjadi pribadi yang dingin. Adrian sangat menyesal karena membuat wanita yang dicintainya itu berubah menjadi sedingin es, tidak lagi sehangat dulu.
Sementara itu Lion king mengutus Ben untuk menjemput putrinya itu saat mengetahui keadaannya yang mungkin sudah semakin membaik.
Begitu tiba di markas Snake, Ben disambut sinis oleh para penjaga markas. Tapi Ben tidak peduli, dia datang hanya untuk menjemput Aila.
"Nona Aila, saya Ben. Izinkan saya mengawal nona Aila untuk menemui tuan Arjin dan nyonya Bhika."
Aila menoleh pada pria asing itu. "Siapa mereka?" Suara Aila terdengar jelas namun dengan nada yang datar.
"Mereka adalah orangtua kandung nona Aila, Lion king."
Tidak ada jawaban dari Aila, dia hanya langsung turun dari ranjang, meraih mukena dan sajadah yang terlipat rapi di atas nakas.
"Antarkan saya menemui mereka."
"Baik nona."
Ben melangkah lebih dulu dan diikuti oleh langkah kaki Aila. Tapi, saat kakinya hendak melangkah keluar dari rumah itu, Adrian menahan dengan menarik pergelangan tanganya.
"Sayang, berjanjilah kamu akan kembali."
"Aku tidak bisa pergi kemanapun lagi, Adrian. Tidak ada tempat lain untuk aku pergi." Jawabnya datar sambil melanjutkan langkahnya hingga Adrian terpaksa melepaskan tangannya.
Matanya hanya bisa menatap kepergian mobil yang membawa Aila untuk menemui kedua orangtua kandungnya yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh, akhirnya Aila tiba di sebuah mansion yang tak kalah megahnya dengan mansion Tiger. Menatap mansion megah ini membuat Aila merindukan suaminya itu. Benarkah Tiger sudah mati atau justru pria itu berpura pura mati dan sengaja tidak berusaha mencarinya untuk melancarkan misi balas dendamnya.
Aila menghela napas untuk menepis bayangan tentang Tiger. Segera kakinya ia langkahkan mengikuti langkah Ben semakin jauh masuk ke dalam mansion, hingga berhenti tepat di ujung lorong lantai dua mansion.
"Nona Aila, silahkan masuk. Lion sudah menunggu kedatangan nona."
Ben membuka pintu kamar itu dengan lebar, hingga memperlihatkan seorang wanita terbaring diatas ranjang dengan banyak alat kedokteran yang terpasang ditubuhnya.
Perlahan langkah kaki Aila mendekat kearah ranjang wanita itu. Sayup sayup Aila melihat wajah wanita tak sadarkan diri itu sekilas mirip dengannya.
Lion berdiri di samping kanan ranjang istrinya, menatap diam kearah Aila yang semakin dekat pada istrinya.
__ADS_1
"Dia istriku. Namanya Bhika, dia jatuh pingsan setahun setelah kehilangan bayinya, tepatnya sembilan belas tahun lalu dan tidak pernah mau bangun lagi sejak hari itu." Tutur Arjin perlahan dan hati hati saat mencoba bicara pada Aila.
Aila sudah berdiri di samping kiri ranjang Bhika. Entah apa yang mendorong tangannya untuk menyentuh wajah tak sadarkan diri itu.
"Benarkah dia yang telah melahirkan, saya?" Mata Aila menoleh pada Lion dan Lion pun mengangguk yakin.
"Maafkan kesalahan ayah, Aila. Ayah gagal menjagamu, hingga mereka menculikmu dari kami." Ucap Lion sambil menundukkan kepalanya menyesal.
"Yang saya tahu, kedua orangtua saya sudah meninggal. Tapi, ternyata saya bukanlah putri mereka." Matanya mulai berkaca kaca. Rasanya campur aduk, sedih saat ternyata orangtua yang memberinya kasih sayang sejak lahir bukanlah orangtua kandungnya. Namun, untuk menerima kenyataan bahwa kedua orangtua kandungnya masih hidup, semakin membuatnya sedih dan bingung.
Aku kehilangan janin yang masih berbentuk gumpalan darah saja, seperti sebagian jiwaku ikut menghilang. Anda-- anda kehilangan bayi yang baru lahir dari rahim anda, pastilah sangat menyakitkan. Bahkan suamimu membunuh orang orang yang dikiranya telah menculik bayi kalian. Dan putra dari orang yang kalian bunuh ternyata malah memberikan kesempatan untuk bayi kalian tetap hidup sampai saat ini, tapi aku malah tidak bisa menjaga bayi kami.
Tangan Aila mengelus lembut pipi Bhika sekali lagi, hingga terlihatlah air mata menetes diujung pelupuk matanya.
"Sayang! Sayang kamu mendengarku."
Arjin sangat bahagia melihat istrinya merespon dengan air matanya. Dia tampak sangat bahagia. Aila menyaksikan itu, membuatnya teringat saat Tiger mendekapnya erat waktu tubuhnya menggigil kedinginan dan nyaris pingsan waktu itu.
Dia terduduk lemas di lantai begitu saja, hal itu membuat Arjin khawatir.
"Aila, apa yang terjadi? Kau baik baik saja?" Arjin berjongkok untuk menatap wajah Aila yang sudah basah oleh air matanya.
"Saya-- saya, baru saja kehingan bayi--" Ucap Aila sambil terisak.
"Bayi-- ku--"
Suara itu milik Bhika yang berucap terputus, dan dengan perlahan dia mencoba membuka matanya.
"Sayang, Bhika!"
Arjin menghampiri istrinya dan membiarkan Aila yang juga sudah berhenti menangis. Dia menoleh kearah wanita itu dan Aila kembali berdiri sambil menghapus air mata dipipinya.
"Arjin, mana bayiku--"
"Oh sayangku. Akhirnya setelah sekian lama aku menantimu. Kau kembali sayang." Pelukan hangat Arjin berikan pada Bhika. Dia menangis haru mendapati istrinya sadar dari komanya.
Cukup lama Arjin memeluk istrinya yang masih berbaring itu, hingga sang istri mengatakan dia ingin duduk. Dengan sigap Arjin membantunya untuk duduk.
"Arjin, rasanya kedua kakiku tidak bisa digerakkan." Celotehnya dengan sedikit merengek manja dan terbata bata.
__ADS_1
"Itu karena kakimu terlalu lama beristirahat, sayang. Sebentar lagi juga akan membaik."
Arjin pun memijat pelan kedua kaki Bhika yang tertutup dibawah selimutnya.
Senyum terlihat diwajah Aila. Meski dia tidak mengerti apa yang dua orang itu bicarakan, tapi entah mengapa dia merasa gemas melihat pasangan romantis itu yang akhirnya kembali bersama setelah terpisah belasan tahun. Apakah mereka terpisah? Sepertinya tidak, mungkin hanya tidak bisa berkomunikasi satu sama lain dalam jangka waktu puluhan tahun.
Mata Bhika menangkap sosok anggun yang tersenyum kearahnya dan suaminya itu. "Siapa dia, Arjin? Apa dia istri mudamu?"
Pertanyaan Bhika membuat mata Arjin membola, lalu Arjin menggeleng cepat. "Dia Aila, sayang. Dia bukan istri mudaku, tapi dia putri kita yang hilang." Tutur Arjin menjelaskan.
Sejenak Bhika merapatkan mulutnya, matanya menatap jauh menelisik kedua bola mata Aila yang juga menatapnya. "Arjin, matanya bahkan sama dengan mataku."
"Kau benar, sayang. Senyumnya juga sama dengan milikmu."
"Tersenyumlah!" Perintahnya pada Aila. Dia mengenali putrinya, wajah mereka sangat mirip, Bhika tidak perlu meragukan itu, karena selama dia koma wajah Aila selalu hadir menyapanya dan memanggilnya dengan sebutan, Ibu.
Aila hanya diam, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Bhika padanya.
"Tersenyumlah Aila. Istriku ingin melihat senyummu." Ucap Arjin menggunakan bahasa yang Aila pahami.
Meski ragu, Aila pun tersenyum. Saat itu juga Bhika merentangkan kedua tangannya dia meminta Aila untuk memeluknya.
"Peluklah mama-mu Aila. Dia sangat merindukanmu, sayang." Ujar Arjin.
Mau tidak mau, meski ragu Aila pun melangkah mendekat pada Bhika, lalu masuk dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
Rasanya nyaman. Rasanya hangat seperti pelukan bunda. Benarkah dia yang telah melahirkan aku. Jika ia, apa yang harus aku lakukan.
Akhirnya air mata Aila tumpah sangat deras. Dia tidak bisa lagi menahan tangisan pilunya. Dia sedih karena telah terpisah cukup lama dari kedua orangtuanya. Tapi, ada yang jauh lebih menyakitkan hatinya, karena ternyata orangtua nya adalah penyebab Tiger harus kehilangan orangtuanya dan yang menjadi sumber utama pertikaian itu adalah dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan--" Ucap Aila dalam tangisannya.
Bhika mengeratkan pelukannya, dia mengelus punggung Aila dengan sangat lembut untuk menenangkan tangisannya. Tapi, bukannya mereda Aila malah semakin terisak.
"Aku harus bagaimana-- aku yang menyebabkan semua musibah ini. Dia pasti sangat membenciku---"
Bhika melirik pada Lion. Dia seakan meminta suaminya untuk menjelaskan apa yang yang diucapkan Aila. Tapi, Arjin memilih untuk tidak memberitahu dulu. Dia hanya memberi kode agar Bhika terus memeluk dan mengelus punggung putri mereka.
"Aku-- aaa-- Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya--"
__ADS_1
Kalimat itu membuat Lion merasakan sesuatu yang aneh. Dia tahu kata cinta yang diungkapkan putrinya itu tentu saja ditujukan pada Levarendo Mark, putra Tiger king.
Oh putriku yang malang. Mengapa kau harus jatuh hati pada pria itu. Dia tidak akan memberikan ampun pada kita sayang. Maafkan ayah atas semua kekacauan ini.