
Hampir dua bulan berlalu sejak kepergian Aila ke Thailand. Adrian benar benar terpukul mendapat kabar bahwa Aila telah tewas dalam kecelakaan mobil yang menyebabkan mobil itu terbakar, hingga jasad Aila tidak terindentifikasi sama sekali. Adrian tidak mau mempercayai itu sebelum dia benar benar menyaksikan jasad Aila dengan mata kepalanya sendiri.
Selama dua minggu terakhir, Adrian menyusun rencana untuk bisa kabur ke Thailand mencari Aila. Dia tahu, papanya akan sangat marah jika saja sampai ketahuan. Tapi Adrian benar benar tidak lagi peduli pada papanya yang menurutnya malah bertingkah aneh dengan mengklaim perusahaan menjadi miliknya sendiri.
Berkali kali Adrian meminta papanya untuk mencari tahu kebenaran tentang kematian Aila, tapi diabaikan. Seakan papanya memang mengharapkan Aila tidak kembali. Adrian tidak bisa duduk diam saja. Setelah rencananya matang, dengan bantuan temannya, akhirnya kini dia berhasil sampai di Thailand.
Ya benar. Saat Adrian sudah tiba di bandara Bangkok. Dia telah menghubungi salah satu kenalannya dan dia berjanji akan menjemput Adrian di bandara. Tapi, Adrian mulai gelisah, sudah hampir satu jam menunggu tidak ada siapapun yang datang menjemputnya. Bahkan nomor telepon dari kenalannya itu pun tidak bisa dihubungi.
"Adrian?"
Seseorang mendekat dan menyebut namanya. Tentu Adrian langsung mengangguk mengiyakan, karena dia pikir pria yang kini berdiri dihadapannya adalah kenalannya yang berjanji akan menjemputnya. Maklum Adrian tidak begitu mengingat jelas wajah kenalannya itu karena telah lama tidak pernah bertemu.
"Saya Adrian."
"Selamat datang, Adrian. Mari ikut saya."
Dengan penuh rasa semangat Adrian mengekor dibelakang pria tinggi itu yang bahkan membantu membawakan koper milik Adrian.
"Maaf atas keterlambatan saya menjemputmu, Adrian."
"Tidak apa. Terimakasih karena masih mengenaliku." Ujar Adrian tanpa ada rasa curiga.
Pria itu mempersilahkan Adrian naik ke mobilnya. Dan pria itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan bandara.
"Apakah kau tau alamat ini?"
Adrian memberanikan diri memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah kuasa hukum kakek Cakra yang mungkin di kunjungi Aila sebelum terjadinya kecelakaan mobil itu.
Pria itu mengambil secarik kertas tersebut. Sebentar dia tampak berpikir, lalu tersenyum sambil mengangguk.
"Benarkah?"
"Tapi tempatnya sangat jauh dari perkotaan. Apakah kau ingin aku antar sekarang, atau besok?" Tanya pria itu.
__ADS_1
"Jika tidak keberatan, bisakah kau mengantarku sekarang juga. Aku ingin memastikan apakah kekasihku ada di sana atau tidak." Ungkap Adrian yang tiba tiba mengklaim Aila sebagai kekasihnya. Benar. Sudah pasti Aila yang disebutnya kekasih. Bukankah alasan kedatangannya ke Thailand memaag karena ingin menemukan Aila.
"Kekasih?"
"Iya. Aku datang ke negara ini untuk menemui kekasihku."
"Apa yang kekasihmu lakukan di negara ini? Apakah dia bersekolah?" Selidik pria itu yang tampak penasaran.
"Dia menghilang kurang dari dua bulan lalu. Dia datang ke negara ini untuk menemui seorang pria di alamat itu. Aku hanya berharap semoga kekasihku ada di sana." Tutur Adrian dengan lancar tanpa curiga sama sekali.
Pria tinggi yang fokus menyetir itu akhirnya mengangguk paham. Entah dia pura pura paham, atau memang paham dengan situasi yang terjadi pada Adrian.
"Ingin minum?" Tawar pria tinggi itu dengan mengulurkan sekaleng minuman soda kearah belakang.
"Terimakasih." Sambut Adrian. Dan lagi lagi, tanpa curiga Adrian langsung meminum soda tersebut. Karena kecerobohannya yang terlalu gampang percaya pada orang asing, Adrian kini akhirnya kehilangan kesadarannya setelah meminum minuman soda tersebut yang sudah diberi obat tidur oleh pria tinggi yang tidak lain adalah Taw.
Sejak kemarin Taw di beri perintah untuk mengawasi pergerakan Baron atau anak anak Snake lainnya yang mungkin akan terbang ke Indonesia untuk menemui Arnold. Ternyata, Taw malah berhasil menangkap putra dari Snake king yang datang ke Thailand dengan meninta bantuan seseorang yang dikenal oleh Taw.
Taw membawa Adrian ke mansion seperti perintah Tiger. Dia membawa tubuh Adrian dengan sangat enteng seperti membawa karung beras. Tubuh pingsan Adrian dibawa langsung ke penjara bawah tanah.
Aila yang sejak tadi berdiri menatap keluar melalui dinding kaca kamar, melihat kedatangan Taw. Dia memang tidak begitu mengenal Taw dengan baik seperti dia mengenal beberapa anak Tiger lain. Awalnya Aila tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Taw, tapi beberapa saat kemudian dia tersadar akan sesuatu.
"Adrian!" Pekiknya dalam hati.
Aila yang penasaran, langsung keluar dari kamar. Dia mengendap endap mengikuti langkah Taw tanpa ketahuan.
"Aku yakin itu Adrian. Setidaknya aku harus memastikan--" Bisik Aila pada dirinya sendiri.
Taw melangkah semakin jauh menuruni lantai semen yang semakin terasa dingin. Semakin jauh Aila ikut melangkah, maka hawa dingin perlahan membuatnya menggigil.
Taw meletakkan tubuh Adrian berbaring begitu saja di lantai, tepat didalam sebuah penjara yang memiliki ruangan kecil kira kira ukuran satu kali satu meter. Dindingnya tanah yang tampak lembab, lantainya semen yang kasar dan juga agak berair.
Aila mengintip dibalik tembok tanah pembatas penjara bawah tanah. Wajah Adrian dapat dilihatnya dengan jelas. Ia hampir saja menjerit histeris saat melihat tubuh Adrian yang mulai diikat dengan rantai oleh Taw, jika saja seseorang tidak menarik dan membekap mulut Aila segera.
__ADS_1
"Mmhhpp--" Aila berontak ketika seseorang membekap mulutnya dan menariknya secara tiba tiba.
"Tenang Aila. Ini aku." Bisiknya di telinga Aila.
Hal itu membuat Aila sedikit tenang. Dia mengenal suara itu dengan baik.
"Pin!"
Benar. Itu Pin. Dia melihat Aila mengikuti Taw, dan dia pun mengikuti Aila.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Dia dia-- aku mengenal pria itu, Pin." Ungkap Aila gemetar dan terbata bata.
"Kau mengenal pria yang dibawa oleh Taw?" Pin bertanya untuk memastikan apa yang didengarnya tidak salah.
"Dia satu satunya yang aku punya, Pin. Hanya dia yang aku punya di dunia ini."
Mendengar penuturan itu, membuat Pin menyimpulkan kemungkinan apa yang dikatakan Taw beberapa saat yang lalu, bahwa pria malang itu mengklaim Aila sebagai kekasihnya adalah benar. Pin kini percaya, pria itu kekasih Aila. Mereka saling mencintai dan malah menjadi korban keserakahan orangtua.
"Izinkan aku menemuinya, Pin. Aku mohon! Aku sangat merindukannya." Rengek Aila penuh harap.
Pin tidak tau harus bagaimana. Dia tidak berani memberi izin tanpa perintah Tiger. Tapi, dia merasa iba melihat Aila merengek memohon bahkan sampai berlutut seperti ini.
Di ruang kerjanya, Tiger mengawasi setiap pergerakan Aila sejak kedatangan Taw. Dia juga melihat Aila memohon, merengek sampai berlutut. "Biarkan, dia." Tiger mengatakan itu pada Pin melalui sambungan yang terhubung dengan wanita itu.
Mendengar Tiger memberi izin, Pin langsung menarik Aila untuk kembali berdiri. "Pergilah-"
Tanpa menunggu lama, Aila langsung berlari kebawah sana untuk menemui Adrian.
"Bagaiman nona Aila bisa ada disini?" Taw terkejut dengan kedatangan Aila yang tiba tiba. Dia hendak menarik Aila keluar dari ruangan sempit itu, tapi segera di cegah oleh Pin.
"Apa yang terjadi?" Taw masih bingung. Sampai akhrinya dia mendengar perintah dari Tiger untuk membiarkan Aila menemui Adrian. Tiger bahkan memerintahkan Taw untuk melepas rantai yang melilit ditubuh Adrian.
__ADS_1