
Seon dan Dino tidak bisa menemukan Lyn, tapi mereka menemukan kalung milik Pin yang berliontin alat pelacak lokasinya. Benda itu terlepas dari tubuh Pin, mereka kehilangan jejak Pin seutuhnya. Tapi, mungkin mereka masih bisa melacak keberadaan Lyn.
"Kinan, kau menemukan Lyn?"
"Iya. Lyn berada di gudang markas Snake yang terbakar beberapa bulan lalu. Aku rasa Pin juga disana." Kinan yakin itu.
"Kalau begitu, kau kembalilah ke mansion. Beritahu Tiger tentang ini. Aku bersama Dino akan lebih dulu menuju markas Snake."
"Tidak bisakah aku ikut! Jack saja yang menyampaikan pesan ini pada Tiger." Rengek Kinan.
"Sambungan terputus dengan Jack, aku rasa itu karena kita terlalu jauh dari mansion." Tutur Seon.
Kinan tampak sangat kesal karena tidak bisa ikut ke markas Snake, tapi kemudian Dino menyarankan diri untuk kembali ke mansion menemui Tiger.
"Aku yang akan memberitahu Tiger. Kinan, kau boleh ikut bersama Seon."
"Terimakasih, Dino."
Seon dan Kinan pun bergegas menuju markas Snake, sementara Dino berlari cepat menuju mansion. Dan setelah cukup lama berlari, akhinya Dino tiba di mansion. Matanya membola saat mendapati banyak penjaga yang terbaring tak sadarkan diri di tanah.
"Apa yang terjadi?" Gumamnya, dia memeriksa salah satu penjaga itu yang ternyata hanya pingsan.
"Jack, apa kau tahu apa yang terjadi di gerbang timur. Para penjaga tak sadarkan diri."
Dino mencoba bicara pada Jack, namun ternyata tidak bisa terhubung. "Jack, kau mendengarku?" Dia terus mencoba menghubungi Jack sambil berlari menuju mansion untuk menemui Tiger.
Kali ini, mata Dino kembali menangkap tubuh tak sadarkan diri beberapa maid dan juga penjaga. "Sepertinya mansion diserang." Ocehnya. Kemudian langkah kakinya semakin mendekat ke ruang kerja Tiger.
"Tiger!" Teriaknya memanggil dari kejauhan, sampai akhirnya dia tiba di pintu ruang kerja Tiger yang terbuka lebar. Matanya menangkap pemandangan yang sangat diluar pemikirannya, Jack menodongkan pistol tepat diarea dadanya.
"Jack, apa yang kau lakukan?" Sontak Dino mengangkat kedua tangannya keatas dan berhenti melangkah masuk. Dia berdiri di depan pintu itu.
"Pilih antara mati atau kau berlutut padaku, Dino!"
Suara itu milik Tam yang membalikkan badannya menghadap pada Dino yang membolakan matanya terkejut. Dia tidak mengerti mengapa Tam duduk dikursi Tiger. Lalu dimana Tiger? Itu yang menjadi pertanyaan Dino.
"Dimana Tiger? Apa kalian pengkhianat!" Teriak Dino murka.
__ADS_1
"Mati atau menjadi pengikutku, Dino?"
Cuih--
Dino meludah kearah Tam. Dia muak melihat para pengkhianat itu. "Aku lebih memilih mati, dari pada tunduk pada pengkhianat seperti kalian, siaallllaaaaannn--" Pekik Dino sambil berlari hendak menembak kepala Tam, tapi sebelum itu terjadi, peluru seorang penjaga lebih dulu menembus dada kiri Dino.
"Aakkrrhhh, bajingan--" Sekali lagi Dino berusaha menembak, tapi satu peluru lari menembus dada kanannya. Tubuhnya ambruk kelantai dengan darah yang mengalir deras dari tubuhnya.
Jack dan Juno memejamkan mata mereka melihat kejadian itu. Mereka sedikit terkejut, karena ternyata Tam sama kejamnya dengan Tiger saat menghadapi orang orang yang membangkang. Padahal selama ini Tam tidak diizinkan Tiger untuk masuk ke dunia penuh darah ini.
"Habisi semua orang yang memilih untuk tidak patuh padaku." Titah Tam menegaskan pada Jack, Juno dan juga para anak anak buahnya.
"Siap, Tiger king!" Jawab mereka serentak.
Tiger king. Juno dan Jack masih tampak kaku saat harus menyebut Tam sebagai Tiger king. Tapi, mereka tetap menyebutkan itu untuk membuat Tam bahagia.
...🐯(NATM)🐯...
Dorrr---
Suara tembakan itu berasal dari mansion. Suara itu membuat Taw, Vac, Adit dan Adam juga beberapa penjaga lainnya terkejut. Sebentar mereka saling bersitatap dan mulai menerka nerka.
"Entahlah, cepat tanyakan pada Jack!"
"Aku tidak bisa terhubung dengan Jack." Ucap Adit bingung.
"Aku juga tidak bisa terhubung dengan Jack." Ujar Vac.
Adam dan Taw juga tidak bisa menghubungi Jack. "Apakah Jack yang tertembak?" Terka Taw yang mulai khawatir.
"Tidak, Taw. Jack master tembak, tidak mungkin penyusup gadungan itu bisa menembak Jack semudah itu." Ujar Adit yakin.
Mereka hampir tiba di gerbang Barat. Taw dan Vac yang tadinya hendak menyusul Seon dan Dino beralih arah saat Jack memberitahukan adanya penyusup di gerbang barat, karena itulah kini mereka bersama dengan Adit dan Adam untuk menangkap penyusup.
Saat merkea tampak kebingungan, seorang penjaga berlari sangat kencang kearah mereka.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Mereka heran melihat lambaian tangan penjaga itu yang seakan memberi isyarat menyuruh mereka pergi.
"Lari-- tinggalkan mansion--" Teriakannya semakin jelas terdengar oleh mereka.
"Lari? Apa yang terjadi--" Adam tampak sangat cemas, begitu juga dengan tiga orang lainnya.
"Lari-- cepat tinggalkan tempat ini--"
Tanpa pikir panjang Vac dan Taw langsung berlari semakin mendekat ke gerbang barat. Sementara Adam hendak mengejar penjaga yang semakin dekat pada mereka, tapi saat itu juga beberapa penjaga lainnya yang berlari dibelakang penjaga itu menembakkan peluru mereka pada penjaga malang itu.
Melihat itu, dengan cepat Adit menarik pergelangan tangan Adam untuk berlari mengejar Vac dan Taw. "Apa yang terjadi? Dimana Tiger--"
"Berhenti bicara Adam, ini perang. Kita diserang. Berhentilah mengkhawatirkan Tiger, karena dia bisa melindungi dirinya sendiri."
Dorrr--
Dorrr
Peluru peluru dari gerombolan penjaga yang mengejar mereka berhamburan hendak melukai tubuh mereka. Tapi, Adam dan Adit begitu lihai mengelak, hingga mereka berhasil keluar melewati gerbang barat.
Para penjaga itu tidak berhenti mengejar meski mereka telah keluar dari mansion. Hal itu membuat mereka semakin sulit menghindari tembakan peluru peluru itu.
"Adit, Adam--"
Suara itu milik Taw dan Vac. Mereka bersembunyi di tebing sungai. Adit dan Adam yang mendengar suara itu pun langsung terjun kedalam sungai.
Suara tembakan masih terdengar untuk beberapa saat, hingga membuat mereka bertahan dalam sungai. Sementara Vac dan Taw bergelantungan di akar pepohongan di tebing sungai yang tertutupi oleh rimbunnya semak belukar.
Adam hampir kehabisan stok oksigen, itu membuatnya ingin keluar ke permukaan, tapi cepat ditahan oleh Adit hingga suara tembakan itu berakhir.
"Hhaaaahhhhh---" Adam dan Adit menghirup udara sebanyak banyaknya, sementara mereka membiarkan air sungai membawa tubuh mereka hanyut.
"Kalian baik baik saja, bung?"
Itu suara Taw dan Vac yang ikut menyusul mereka sambil berenang.
"Aku hampir kehabisan napasku didalam air." Oceh Adam sambil menatap kesal pada Adit yang tidak mengizinkannya untuk sekedar menghirup oksigen sedikit saja.
__ADS_1
"Hei bung, jangan membenciku. Aku melakukan itu untuk menyelamatkan nyawamu."
Bukannya berterimakasih, Adam malah memukul kepala Adit untuk melampiaskan rasa kesalnya. Hal itu membuat Adit meringis kesakitan sedangkan Vac dan Taw malah tertawa. Mendengar tawa mereka, Adam dan Adit juga ikut tertawa. Mereka merasa apa yang baru saja mereka alami sungguh hal yang mengesankan, mendebarkan sekaligus membuat mereka juga merasakan geli yang tak tertahankan.