Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 79


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Setelah proses panjang mengurus pendaftaran pernikahan Varen dan Aila. Adam pun akhirnya telah berhasil mengikrarkan akad nikah yang sah untuk menjadikan Ririn sebagai istrinya dua hari yang lalu.


Dan hari ini, mereka berada di Aula pernikahan yang sangat megah dan mewah sesuai janji Varen pada mereka waktu itu. Bahkan kini Adam dan Ririn juga mengadakan pesta pernikahan serentak dengan Varen dan Aila di aula yang sama.


Mereka duduk di singasana pelaminan masing masing, menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir. Rata rata tamu yang diundang adalah rekan bisnis Varen dan juga tentunya semua staf karyawan di MD group.


Pernikahan itu sangat meriah, dengan berbagai penampilan tari daerah oleh anak anak sanggar tari. Dilanjutkan dengan nyanyian dari penyanyi penyanyi terviral.


Sementara itu, di Thailand sana tepatnya di aula besar mansion Lion, Lyn dan Seon juga sedang mengikrarkan janji suci pernikahan mereka di depan pendeta.


Dekorasi pernikahan mereka tampak sederhana, karena memang itu keinginan mereka. Tamu yang hadirpun hanya orang orang Lion dan anggota Tiger yang tersisa.


Tapi, meski hanya pernikahan sederhana dan yang hadir hanya sedikit saja, sungguh tidak mengurangi kesakralan pernikahan mereka.


Dan jangan lupa, pernikahan Lyn dan Seon di tonton oleh Varen, Aila, Kinan, Adam dan Ririn melalui layar besar yang terpajang di depan mereka. Begitu juga sebaliknya, mereka yang di Thailand juga menyaksikan acara persta pernikahan sahabat sahabat mereka melalaui layar lebar yang tersambung langsung antara mereka.


"Aila, kau tampak sangat cantik, darling." Puji Lyn yang matanya sudah berkaca kaca.


"Kau juga sangat cantik Lyn." Aila memuji balik.


"Semoga kalian selalu bahagia."


Itu ucapan dari Ririn dan Adam untuk Lyn dan Pin juga semua teman teman mereka.


"Kalian juga, Adam, Ririn. Semoga kalian selalu bahagia dan dilimpahi keberkahan dari Tuhan."


"Terimakasih Lyn. Kau sangat serasi bersama Seon."


"Kau juga Adam, Ririn sangat cantik."

__ADS_1


Ririn melambaikan tangannya pada Lyn dan juga Pin yang tampak serasi bersama Adit.


"Nona Aila, apa nona baik baik saja?" Teriak madam susan bertanya.


"Tentu madam, aku baik baik saja. Varen memperlakukan aku sangat manis dan dengan sangat baik."


Madam Susan tersenyum senang tentu saja dengan mata yang berkaca kaca. Melihat Aila membuatnya kembali teringat pada putrinya Sunee.


Satu jam…


Dua jam…


Tiga Jam…


Bahkan kini sudah hampir magrib…


Acara pesta masih terus berlanjut. Ririn dan Adam masih sangat asyik menikmati meriahnya pesta pernikahan mereka.


Sementara, Varen sudah lebih dulu membawa Aila untuk meninggalkan aula pesta.


Varen lebih dulu mandi dan berganti pakaian. Barulah kemudian dilanjutkan oleh Aila. Setelah sama sama memakai piyama yang disiapkan hotel, Varen mengajak Aila untuk sholat magrib berjamaah. Ini pertama kalinya Varen menjadi imam sholat untuk Aila.


Dua minggu terakhir, Varen belajar sholat dan juga mengaji. Gurunya tentu saja Adam. Dan Varen belajar sholat atau mengaji bukan karena disuruh apa lagi di paksa oleh Aila, justru semua itu berasal dari kemauannya sendiri. Dia merasa perlu melakukan sebuah tindakan nyata sebagai rasa syukurnya terhadap sang pencifta yang telah memberikannya banyak kebahagiaan dalam hidupnya.


...🐯(NATM)🐯...


Pukul tiga pagi, Aila membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah lelap suaminya yang membiarkan tangan kirinya menjadi bantalan kepala Aila.


Tangan Aila diletakkannya diatas perut polos suaminya yang keras berotot alias six pack. Sementara, wajah Aila dia benamkan sebentar diantara bahu dan leher suaminya.


"Sayang, terimakasih untuk semua cinta yang tak terbatas ini. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang tiada batas ini. Aku mencintaimu suamiku, Levarendo Mark." Bisik Aila pelan.

__ADS_1


Setelah dua menit dalam posisi nyaman itu, akhirnya Aila bangun. Dia pun langsung mandi keramas, lalu melaksanakan dua rakaat sunnah malam, dilanjutkan dengan membaca Al-quran kecil yang selalu di bawanya kemana saja dia pergi.


Suara lantunan ayat suci dari mulut Aila, membuat Varen terbangun. Senyum bahagia terukir jelas diwajahnya menatap kearah wanitanya yang sedang melantunkan ayat suci nan indah itu. Perlahan, dia bangkit dari tempat tidur untuk mandi keramas juga karena sudah hampir subuh.


Beberapa menit kemudian, Varen keluar dari kamar mandi. Bertepatan dengan azan subuh yang berkumandang di masjid masjid setempat. Varen terdiam sejenak mendengar indahnya lantunan azan memanggil seluruh umat muslim untuk bangun dan segera berdialog dengan Allah sebelum sang fajar kembali menyapa.


"Sayang, kita sholat berjamaah lagi?" Tanya Aila saat melihat suaminya sudah rapi memakai sarung dan kopiahnya.


"Iya sayang."


Varen menggelar sajadahnya untuk menjadi imam sholat bagi istri tercintanya.


Cukup beberapa menit saja, sholat subuh selesai. Varen melantunkan doa dengan bahasanya sendiri. Dalam doa itu Varen meminta kepada Allah, untuk melembutkan hatinya agar terus dan terus berusaha menjadi manusia yang lebih dekat lagi pada Allah dan lebih mencintai Rasulullah Muhammad SAW. Kemudian dia juga berdoa agar dia dan Aila terus bersama bahkan setelah mereka mati pun akan tetap bersama hingga di surga.


Doa itu begitu indah, hingga membuat air mata Aila menetes tak tertahankan. Melihat Aila menangis, Varen menyudahi doanya, lalu menarik tubuh Aila untuk di dekapnya erat. Diciumnya puncak kepala Aila berkali kali sambil mengucap Alhamdulillah.


"Sayang, bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi.." Tiba tiba Aila mempertanyakan hal itu pada Varen yang membuat Varen melepaskan dekapannya.


"Jangan berprasangka buruk seperti itu, sayang. Kita harus yakin, bahwa Allah pasti punya rencana yang jauh lebih baik dari rencana kita."


"Aku hanya takut, sayang. Andai benar aku tidak bisa hamil lagi, berarti kita tidak akan mempunyai anak."


Varen menatap wajah sendu Aila dengan senyuman. Dibawanya kembali tubuh itu masuk dalam dekapannya.


"Ada atau tidak ada anak, aku hanya akan terus berdoa semoga Allah tidak memisahkan kita sampai akhir. Dan sayang harus selalu bahagia bersamaku."


"Tapi, bagaimana kalau akhirnya sayang malah meminta izin untuk berpoligami. Karena, jika aku tidak bisa hamil, maka dibolehkan menjadi alasan untuk sayang melakukan poligami, maka aku akan merestui…"


"Mengapa kamu menjadi berpikiran sampai kemana mana sih sayang."


"Aku takut…"

__ADS_1


"Tidak usah takut. Dan tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan berdoa sama Allah, semoga kamu dijadikan satu satunya istriku sampai nanti kita di akhirat sekalipun, meski kita punya anak ataupun tidak punya anak. Percayalah sayangku, Aila Khanza."


Air mata Aila kembali mengalir deras membasahi mukenanya. Rasanya dia bahagia memiliki suami seperti Varen. Rasa syukur dan kebahagiaan yang dia rasakan saat ini sungguh bisa menepis rasa takut dan cemasnya akan keadaan dirinya yang mungkin saja tidak akan bisa hamil lagi setelah dulu janinnnya pernah diambil paksa dari rahimnya oleh manusia biadab seperti Adrian.


__ADS_2