Nikahi Aku, Tuan Mafia

Nikahi Aku, Tuan Mafia
Episode 17


__ADS_3

Dua minggu berlalu begitu saja, selama itu juga Aila tidak lagi melihat Lyn dan Pin. Karena dua wanita baik itu sedang melakukan misi Di Bali. Tapi kabarnya mereka akan pulang malam ini. Rasanya Aila tidak sabar untuk kembali bertemu dengan mereka. Aila bahkan ingin menanyakan bagaimana keadaan di sana. Dia bahkan juga sempat berangan, salah satu dari wanita baik itu akan membawakan hadiah untuknya dari Bali. Terlalu jauh anganmu, Aila. Tapi mungkin saja. Siapa yang tahu, bukan.


Hari hari tanpa Pin dan Lyn dilalui Aila dengan baik. Ada pelayan wanita lain yang mengantarkan makanan ke kamarnya. Lalu, saat Aila duduk di taman belakang menatap rumah kaca pun ada tukang kebun yang menemaninya, meski pun mereka tidak terlalu mengerti bahasa Aila, dia tetap saja mengajak mereka mengobrol.


Dan ternyata selama dua minggu terakhir, Tiger pun tak pernah terlihat di mansion sama sekali. Pria itu juga tidak pernah menemui Aila lagi setelah kejadian malam hari itu saat Tiger melihat goresan luka di bawah dagu Aila. Harusnya Aila lega pria itu tidak mendatanginya. Tapi, rasanya aneh, saat Aila menganggap pria itu suaminya dan menerima kenyataan bahwa sudah dua minggu suaminya tidak memberi kabar sama sekali, hal itu membuat hatinya terasa buruk.


Kaki Aila terus melangkah menyusuri area luar mansion. Cuaca pagi ini juga sangat cerah, kicau burungpun terdengar merdu dibawa oleh hembusan angin sepoi sepoi.


"Apakah aku seorang istri dari bos mafia ataukah aku hanya tawanan yang dibiarkan berkeliaran sembari menunggu kematian?"


Kalimat itu yang lolos dari mulutnya saat kakinya terus melangkah semakin jauh kebelakang mansion. Tak sadar, rupanya Aila tiba di tempat pelatihan memanah dan arena berkuda. Dia melangkah cepat kesana.


"Oh busur panah. Aku sangat merindukan kalian."


Tangan Aila menyentuh busur panah. Tanpa pikir panjang dia langsung menembakkan anak panah tepat ke sasaran.


"Perfect!" Aila merasa bangga pada dirinya sendiri. Ternyata kemampuan memanahnya masihlah sebagus dulu.


"Wah, wah, wah. Nona Aila ternyata seorang atlit memanah."


Suara itu milik Adam. Ya. Adam diberi mandat oleh Tiger untuk merawat area memanah dan berkuda. Jadi sudah pasti Adam akan berada di sini saat sedang tidak melatih bela diri ataupun tidak dalam misi khusus.


Aila menundukkan pandangannya setelah sempat menatap sebentar kearah Adam. Lalu, dia menunduk sedikit untuk menyapa pria yang satu negara dengannya tapi Aila belum tahu akan hal itu selama ini. Dia hanya pernah melihat Adam sekilas saat pernikahan di Pattani waktu itu.


"Apa saya mengganggu anda, nona Aila?"


"Tidak, tuan. Maaf jika saya lancang menggunakan panah--"

__ADS_1


"Jangan memanggil saya tuan, nona Aila. Panggil saja Adam. Saya Adam."


Aila sedikit menaikkan kepalanya dan melihat Adam tersenyum saat menyebutkan namanya. Dan Aila rasa dia pernah mendengar dari Lyn bahwa ada salah satu anak Tiger yang berkenegaraan sama dengannya. Saat mendengar cara Adam bicara, Aila mulai menyadari kemungkinannya.


"Apakah kamu yang berasal dari negara yang sama dengan saya?" Tanya Aila langsung.


"Nona Aila benar. Dan saya rasa kita bisa berbincang secara santai, bukan?"


"Kalau begitu jangan sebut saya nona. Cukup panggil saja Aila."


Adam tersenyum. Sebentar dia dapat melihat jelas wajah Aila. Sungguh tampilan sanstriwati sempurna. Sungguh Aila wanita sholehah. Harusnya Aila tidak berada di tempat seperti ini.


"Mungkin kau kesepian karena Lyn dan Pin tidak kunjung kembali." Adam duduk di gazebo.


"Tentu. Rasanya sangat aneh tanpa mereka." Aila ikut duduk di gazebo, tentu dengan jarak yang cukup jauh dari Adam.


"Rindu tanah air?"


"Awalnya aku juga begitu. Tapi, setelah lama disini aku malah merasa bahwa disinilah rumahku."


"Aku berbeda, Adam. Aku hanya tawanan yang akan segera mati. Aku hanya berharap bisa melihat rumahku sebentar sebelum aku benar benar meninggal."


"Kau tidak akan mati, Aila. Kau spesial." Adam mengatakan itu sejujurnya. Adam tahu pada akhirnya Tiger tidak akan mampu menyakiti Aila meski seujung kukupun. Adam mengenal Tiger cukup lama. Belum pernah ada yang bisa menundukkan Tiger sebelumnya. Tapi Aila, dia bahkan mampu membuat Tiger menikahinya. Sungguh Aila spesial bagi Tiger.


"Ya, aku tawanan spesial. Karena itulah aku bisa bebas berkeliaran di area mansion ini."


Aila bangkit dari duduknya. Ia kembali menembakkan anak panah dan kali ini anak panah itu menembus anak panah yang tadi telah tertancap lebih dulu. Sekali lagi itu membuat Adam kagum. Rupanya Aila bukan hanya gadis lemah dan manja karena terlahir dari keluarga kaya, tapi dia benar benar spesial. Hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan Aila.

__ADS_1


Ah Adam sampai berani berharap untuk bisa menjadikan Aila istrinya dimasa depan, andai Tiger membuangnya. Pikiran itu membuat Adam tersenyum ngeri membayangkan tenggorokannya dibolongi oleh Tiger dengan pistol kesayangannya. Pikiran itu membuat Adam menggelengkan kepalanya.


"Adam, bolehkah aku menunggangi salah satu kuda itu?"


Suara Aila membuyarkan isi pikiran Adam beberapa saat lalu.


"Tentu, Aila." Adam langsung berdiri. "Mari ikut aku. Kau bisa memilih kuda mana yang ingin kau tunggangi."


Mereka mendekati kandang kuda. Disana ada berbagai macam jenis kuda. Dan yang menarik perhatian Aila, adalah kuda putih yang diletakkan di kandang emas sendirian.


"Kuda itu pasti milik Tiger."


"Kau menyukainya? Namanya Emil. Kuda kesayangan Tiger." Celoteh Adam sambil mendekati kadang emas itu.


Aila pun mendekat, ia mencoba mengelus kepala kuda yang bernama Emil itu. Awalnya Adam ingin berteriak menghentikan tangan Aila yang hendak menyentuh kepala Emil, tapi ternyata Emil tidak marah saat Aila menyentuhnya. Padahal sebelumya Emil akan mengamuk jika ada yang berani menyentuhnya, selain Tiger sendiri.


"Kau benar benar spesial, Aila."


"Berhentilah mengatakan itu, Adam."


"Emil tidak mudah akrab dengan orang asing. Bahkan terkadang Emil marah saat aku menyentuhnya. Tapi lihatlah, Emil langsung akrab denganmu. Itulah mengapa aku mengatakan kau spesial Aila."


Mendengar penuturan Adam membuat Aila merasa sedikit tersanjung. Mungkin benar kata Adam dia spesial. Ralat. Tawanan spesial lebih tepat sepertinya.


"Mau mencoba menungganginya?"


"Aku tidak mau mati konyol di tangan Tiger, Adam."

__ADS_1


"Baiklah."


Aila memberikan kecupan lembut dipunggung kuda putih bersih yang wangi itu, kemudian dia berpamitan pada Adam untuk segera kembali ke kamar karena cuaca mulai semakin terik membuatnya merasa terbakar.


__ADS_2